Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Singa yang Terjerat


"Ugh, dimana aku?" Darren membuka matanya.


Begitu ia melihat ke sekitarnya, ia langsung disambut oleh seseorang yang tak asing di ingatannya.


"Akhirnya kau bangun juga," Ucap Michael yang sedang duduk di sebuah kursi kecil.


Begitu melihat Michael di depannya, Darren langsung spontan berusaha menyerangnya. Tapi saat ia tersadar, tangan dan kakinya ternyata telah di ikat oleh rantai yang menjulang ke setiap sudut ruangan.


"Fire Ball!" Darren merapal mantranya. Bermaksud menyerang Michael dari jarak jauh.


Namun, bola api yang seharusnya muncul di telapak tangannya malah tidak terbentuk. Yang ada, tangannya tiba-tiba malah terbakar.


Darren terkejut.


"Itu sia-sia. Sihir apapun yang kau lancarkan hanya akan kembali kepada mu," Ucap Michael sambil beranjak dari kursinya. "Rantai itu terbuat dari bahan yang sama seperti kalung budak. Dengan sedikit modifikasi, kami bisa membuat senjata pengekang yang bagus untuk kriminal berbahaya seperti mu."


Darren segera merapal mantra air dan memadamkan api di tangannya. Ia pun menggertakkan giginya. "Sialan."


Michael berjalan mendekat. Ia menatap Darren dengan tajam dan berniat untuk menginterogasinya.


"Jadi, apa rencana mu datang ke sini?" Michael mulai melontarkan pertanyaan.


Darren menjawab singkat. "Tidak ada. Aku hanya kebetulan lewat sini."


Michael tertawa kecil. Tapi dibalik tawa itu, ia benar-benar merasa kesal. Dan dalam seketika raut wajahnya langsung berubah.


Tanpa basa-basi, ia segera mengepalkan tangannya dan meluncurkan sebuah pukulan pada wajah Darren.


Darren yang tidak bisa bergerak, hanya bisa pasrah tanpa melawan. Tangan dan kakinya terikat dan ia tak bisa melakukan apa-apa.


Beberapa pukulan lainnya mulai dilayangkan. Bahkan sesekali Michael menendangnya juga.


"Aku tahu kau datang ke sini bukan tanpa alasan," Ucap Michael sambil terus menghajar Darren. "Aku tahu kau bukan sekedar berusaha kabur dari kejaran kerajaan. Kau pasti punya hubungan dengan Raja Iblis itu."


Darren sempat tersentak.


Siapa yang dimaksud oleh Michael? Memang benar dirinya datang ke sini untuk mencari Raja Iblis Sejati. Tapi nampaknya yang dimaksud Michael adalah orang lain.


"Apa maksud mu?" Darren berusaha berbicara di tengah pukulan yang terus menghujani wajahnya.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Kau pasti punya hubungan dengan Raja Iblis itu. Kau pasti memintanya untuk menghancurkan kerajaan kami dan membunuh Taiji."


Darren segera berteriak kesal. Teriakannya membuat Michael kaget dan berhenti memukulinya.


"Dengarkan aku dulu!" Teriak Darren. "Aku tidak ada hubungannya dengan itu semua. Raja Iblis yang menghancurkan Erobernesia, aku tidak mengenalnya sama sekali."


Michael sempat jengkel dan hendak melanjutkan pukulannya. Tapi perkataan Darren selanjutnya membuatnya berhenti total.


"Aku bahkan dikejar oleh seorang Raja Iblis. Dan aku tidak tahu apa yang ia inginkan dariku," Tambah Darren. "Ia mengincar ku. Dan jika ia berhasil menangkap ku, mungkin dunia ini akan dalam bahaya."


Michael memasang wajah curiga. "Kau bicara seakan peduli dengan dunia ini. Tapi kau hanyalah seorang kriminal," Ucap Michael. "Kau tidak lebih dari sekedar monster brengsek yang menyulitkan hidup kami."


Darren menggigit bibirnya dengan kesal. "Ini yang membuatku heran. Kenapa manusia seperti kalian sangat membenci monster? Padahal mereka juga punya cara berpikir yang serupa dengan kalian."


"Jangan samakan manusia dengan makhluk rendahan itu. Mereka jelas berada di kasta yang paling bawah. Mereka tak layak hidup selain jadi budak."


Darren merasa jengkel. "Cih, aku sekarang jadi sedikit bersyukur atas kehancuran Erobernesia. Kalian pantas mendapatkan itu."


Mendengar itu membuat Michael jadi geram. Ia kembali melancarkan pukulan dan tendangan ke arah tubuh Darren.


"Michael, hentikan!" Seseorang muncul dari pintu. Saat dilihat ternyata itu Bagus.


Di belakangnya nampak seorang pria dengan wajah agak tua berjalan mengikutinya. Pakaiannya berwarna putih dan ia memegang sebuah tongkat mengkilap di tangannya.


Begitu melihat mereka berdua, Michael segera menarik tangannya dan membungkuk pada pria itu.


"Ada apa di sini?" Ucap pria itu sambil memandang Darren yang babak belur. "Bagus, cepat obati pemuda itu."


Bagus segera menghampiri Darren dan mengobatinya. Sementara Michael berdiri di hadapan pria itu.


"Pendeta suci, aku tidak bermaksud bertindak tanpa perintah. Aku hanya ingin mengais beberapa informasi darinya," Kata Michael dengan penuh hormat.


"Lalu, apa kau mendapatkan hasil?" Balas pria itu.


Michael menunduk. "T-Tidak," Ucapnya pelan dengan nada terbata. Ia merasa malu pada dirinya sendiri.


"Kau tahu kan kalau Raja Iblis itu meminta agar tahanan ini tidak boleh terluka?" Ucap Pendeta suci lagi. "Kita sudah bersusah payah membuatnya terpengaruh sihir Bagus agar ia mau bekerja sama dengan kita. Dan tindakan mu barusan hampir membuat kita kehilangan kepercayaannya."


Michael menunduk semakin rendah. "Maafkan aku, Pendeta suci."


"Sudahlah. Kau pergi saja. Kami ambil alih dari sini."


Michael membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan. Dan mini hanya mereka bertiga di ruangan itu.


Suasananya terasa cukup mencekam bagi Darren. Pria yang disebut Pendeta Suci itu bisa melakukan apapun padanya. Dan ditambah, Bagus sudah bukan di pihaknya lagi.


Darren pernah membaca di perpustakaan tentang pendeta suci yang memimpin sebuah organisasi yang disebut Gereja Suci Timur.


Dan sekarang ia tak menyangka orang itu ada di hadapannya. Ia pun berniat untuk tidak mencari masalah dengannya.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Padahal masih banyak yang harus ku kerjakan," Ucap Pendeta suci itu sambil menyilangkan tangannya.


Darren hanya menatapnya tanpa mengakatan apa-apa.


Pendeta suci itu melanjutkan. "Kalau tidak salah, nama mu Darren kan?" Ucapnya. "Sebenarnya aku tak punya urusan dengan anggota pemberontak seperti mu. Tapi, setelah mendengar tentang mu dari Michael. Aku jadi sedikit tertarik."


Darren membalas. "Tidak ada yang spesial dari ku. Pergilah dan urus urusan mu sendiri."


Pendeta itu menyeringai kecil dan kemudian duduk di sebuah kursi.


"Apakah membantai sepasukan orang merupakan hal biasa?" Ucap Pendeta itu.


Darren menatapnya dengan waspada.


"Nama ku Deus Benedicat," Pendeta itu memperkenalkan dirinya dengan santai. "Pendeta suci dari Gereja Suci Timur yang agung. Aku merupakan utusan Dewa untuk menyebarkan keselamatan dan kesejahteraan. Kau pasti pernah mendengar tentang ku, bukan?"


"Apa mau mu?" Darren tidak ingin berbasa-basi.


"Oohh, ternyata kau cukup serius, ya? Baiklah, aku akan langsung ke intinya," Deus membalas. "Kau itu sama seperti Bagus, kan?"


Mata Darren langsung melotot. Dan di sampingnya, Bagus juga terlihat kebingungan.


"Apa maksud mu 'sama'?" Ucap Darren mencoba memastikan pernyataan ambigu Deus.


"Kalian berasal dari dunia yang sama. Mempunyai ciri-ciri yang sama. Dan mempunyai anomali energi yang sama," Deus melanjutkan. "Dan hebatnya, aku cukup kaget kau bisa tahu dari awal."


Mendengar itu, Bagus langsung menatap ke arah Darren.


"Esema, apa itu benar?" Tanya-nya dengan wajah sedikit syok.


Darren membalas tatapan Bagus yang penuh keterkejutan. Ia sebenarnya memang ingin mengatakan hal ini dari dulu. Tapi nampaknya orang lain telah membongkarnya duluan.


Perlahan Darren mengangguk. "Ya. Aku dari Indonesia."


Perlahan, air mata mulai mengalir di pipi Bagus. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya terlihat sangat bersyukur.


"Kenapa kau tidak memberitahu ku?" Bagus berusaha menahan tangisnya.


"K-Kenapa kau menangis?"


"Bagaimana aku tidak menangis? Setelah selama ini, aku akhirnya tahu kalau aku tak sendirian di dunia ini."


Darren menundukkan wajahnya. "Maafkan aku. Aku berpikir untuk memberitahu mu semuanya saat konflik ini telah berakhir. Tapi aku baru sadar kalau akhir dari konflik ini masih panjang."


Prok! Prok! Prok!


Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Darren dan mendekat ke wajahnya.


"Kehadiran mu adalah ancaman bagia dunia ini. Jika manusia seperti mu tidak diawasi dan dijatuh ke tangan yang salah, maka dunia ini bisa dalam bahaya," Ucap Deus dengan serius.


Darren meneguk ludahnya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan? Membunuh ku agar dunia ini aman?"


"Ha... ha... ha... tentu saja tidak," Seketika raut serius Deus berubah. "Aku hanya berpikir untuk merekrut mu bergabung dengan Gereja Suci."


"Ha?"


"Orang kuat seperti mu tidak boleh disia-siakan. Jika bisa dijadikan senjata, kenapa harus dipandang sebelah mata?" Kata Deus.


"Apa untungnya aku bergabung dengan mu?" Tanya Darren.


Deus segera menjelaskan. "Sama seperti Bagus, kau juga adalah Outlander dari dunia ini. Aku bisa mengirim kalian berdua kembali ke dunia asal kalian."


"Tapi aku sudah mati, dan terkirim ke sini," Sahut Darren yang spontan membuat Deus merenung.


"Sudah mati? Itu aneh," Ucap Deus sambil menyentuh tubuh Darren. Tapi ia segera kembali ke topik utama. "Tapi pokoknya, tidak mustahil untuk mengirim mu kembali ke titik waktu sebelum semuanya terjadi."


Darren merengutkan wajahnya. Sebenarnya tawaran tadi tidak terlalu buruk.


Jika ia bisa kembali ke dunianya dan memulai semuanya dari awal, maka itu akan jadi kehidupan terindah bagi Darren. Ia bisa membuat orang tuanya bangga dan mencapai sesuatu yang berarti di hidupnya.


Dan jika mungkin, ia bisa mencegah kecelakaan Reno hingga membuatnya membentur kepalanya. Dan ia pun tak perlu jadi hikikomori karena trauma akan hal itu.


Singkatnya, kehidupannya akan jauh jadi lebih baik.


"Jadi, bagaimana?" Deus kembali membujuk Darren.


Darren memejamkan matanya. Ia telah memutuskan semuanya di kepalanya. Dan yang ia perlu lakukan hanyalah membuka mulutnya untuk mengubah takdir hidupnya.


"Tidak. Aku menolak," Ucap Darren dengan wajah yang yakin. "Aku tak mau bergabung dengan organisasi mu itu."


"Pilihan yang tep-- Eh!?" Deus terkejut mendengar itu. "Tapi kenapa? Bukankah hidup di dunia ini merupakan penderitaan bagi mu?"


Darren tersenyum kecil. "Memang. Aku sendiri merasa tersiksa. Tapi, aku tak bisa meninggalkan keluarga ku di sini," Ucap Darren. "Aku telah menerima kematian ku di sana. Dan tentunya keluarga ku juga. Sekarang, aku telah membangun keluarga ku sendiri, dan aku tak mau membuat mereka kecewa."


Bagus yang berdiri di sisi Darren terdiam setelah mendengar ucapan Darren.


"Esema, kau serius?" Bagus memegang lengan Darren. "Ini kesempatan sekali dalam hidup mu."


Darren mengangguk. "Ini keputusan ku."


Deus terlihat kecewa mendengar jawaban Darren. "Tak ku sangka kau akan memilih jawaban lain," Ucapnya sambil berbalik. "Tapi kau harus ingat, kalau kau adalah makhluk yang berbahaya. Dan semua makhluk berbahaya yang diluar kendali Gereja Suci, harus dihancurkan."


Darren langsung bersiaga. Walau ia tahu kalau ia tak bisa melakukan apa-apa dalam kekangan rantai yang mengikatnya.


"Apa kau akan membunuh ku?" Tanya Darren pada Deus.


"Tidak, bukan aku," Balas Deus. "Raja Iblis itu meminta untuk menangkap mu hidup-hidup. Agar ia bisa mengeksekusi mu secara langsung."


Setelah mengucapkan hal itu, Deus pun pergi dari ruangan itu disusul oleh Bagus yang mengikutinya.


"Selamat tinggal, Esema," Ucap Bagus sambil berjalan melewati pintu.


.


.


.


Sementara itu di markas pemberontak...


Mereka telah berhasil mengurung Marvin yang mengamuk di dalam penjara. Butuh banyak sekali tenaga untuk mengurung ogre besar itu.


Sementara itu, Rosemary ditahan di sebuah ruangan khusus dengan penjagaan. Walau Rosemary sudah tenang dan terlepas dari pengaruh sihir tersebut, tapi ia tetap dipantau secara ketat.


Kerusakan pasca tempur di kafetaria membuat seisi ruangan porak-poranda. Banyak sekali bagian ruangan yang hancur dan rusak.


Kini perbaikan sedang dijalani dan berharap kedepannya kejadian serupa tak kembali terjadi.


Simson pun telah memerintahkan beberapa anak buah tepercayanya untuk mensurvey seluruh orang di markas pemberontak. Ia ingin memastikan tak ada lagi orang yang terpengaruh ingatan palsu itu.


Tora, Shiro, dan Hain adalah salah satu dari orang-orang yang dipercayai oleh Simson. Dibawah pengawasan Dyland, mereka melakukan survey ke seluruh markas.


"Hampir semua orang telah di pastikan aman," Ucap Hain sambil berjalan di lorong bersama teman-temannya.


"Ya. Semoga tak ada keributan yang bisa membuat sebuah kafetaria rusak lagi," Balas Tora.


"Jika ada keributan lagi, kita pasti bisa mencegahnya kali ini," Ucap Shiro dengan percaya diri.


"Memang benar kalian itu kuat, tapi jangan lengah begitu saja," Sahut Dyland. Ia kemudian berhenti berjalan dan semua orang memandang padanya.


"Aku harus mengakui, bahwa kalian berdua adalah orang yang hebat. Walau kalian hanya pendatang baru, namun kalian telah berkontribusi besar di organisasi ini," Sambung Dyland. "Kalian juga telah menolong ku. Aku pribadi ingin mengucapkan terimakasih pada kalian berdua."


Shiro membungkukkan badannya. "Bukan masalah, Dyland-san. Aku juga hanya melakukan apa yang seharusnya."


Tora menyahut. "Ya. Aku juga melakukan itu karena aku sendiri yang mau."


Dyland tersenyum melihat tanggapan mereka.


"Uwooh, Dyland tersenyum!" Hain langsung memecah suasana. "Ini hal yang langka."


"Wah, benarkah? Kalau begitu kami sangat beruntung," Balas Tora.


Hain dan yang lainnya langsung tertawa ceria, sementara Dyland tersenyum sambil menggeleng kepala melihat kelakuan mereka. Ini adalah hari yang menyenangkan baginya, terlepas dari apa yang baru saja terjadi.


"Sepertinya kita harus segera kembali bekerja," Ucap Shiro.


"Ya, benar. Kita belum melapor kembali kepasa Simson," Sahut Hain.


Saat mereka hendak berjalan, tiba-tiba seseorang datang berlari ke arah mereka dari ujung lorong.


Dyland menyipitkan matanya. Dari kejauhan, ia pun bisa mengenali siapa orang tersebut.


"Clara?" Ucap Dyland terkejut.


Hain dan yang lainnya langsung segera menoleh. Tapi mereka tak melihat Darren dan Bagus bersama dengannya.


"Clara-san? Tapi, dimana Bagus dan Esema?" Ucap Hain menyahut.


Begitu Clara sampai kepada mereka, Dyland segera menanyakan apa yang terjadi.


"Ada apa? Apa kau berhasil menemukan sesuatu?" Tanya Dyland. "Dimana Bagus dan Esema?"


Clara menjawab dengan nafas yang terengah. "Esema, ditangkap."


Seketika semua orang di sana terkejut. Khususnya Tora dan Shiro.


"Ditangkap? Bagaimana bisa?" Ucap Shiro kencang, tapi langsung ditenangkan oleh Tora.


Dyland menyambung pertanyaannya. "Lalu, dimana Bagus?"


Clara menatap mereka semua dengan serius.


"Bagus... adalah pengkhianatnya."


.


.


.