Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Jenderal Tanpa Kaki


"Kau lemah sekali," Sebuah suara terngiang seperti melayang-layang di udara. "Katanya jenderal terbaik Erobernesia. Tapi kau kalah oleh seorang remaja naif."


"Berisik!" Sebuah suara lain menyahut dengan nada sebal. "Jangan bandingkan aku dengannya! Walau aku diperintahkan untuk patuh pada mu, namun kau melanggar perjanjian kita."


"Tidak ada gunanya lagi membiarkanmu hidup. Cepat atau lambat, negara kelahiran mu akan runtuh. Orang-orang yang tinggal di dalamnya hanyalah manusia serakah yang dipimpin oleh Raja busuk."


"Jangan menghina Yang Mulia! Aku punya hak untuk melawan mu bila kau mengolok-olok negeri kami."


"Melawan? Kau pikir kau bisa? Kau sendiri sedang bersatu dengan ku. Aku dalam kendali sekarang."


"S-Sialan."


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang mendekati mereka.


"Pendeta Suci, aku telah tiba," Ucapnya. "Saya telah mendengar panggilan roh mu. Biarkan tubuh ku ini menampung jiwa mu untuk sementara."


Suara tadi tiba-tiba berkata. "Jemputan ku telah tiba. Aku tidak membutuhkan mu lagi," Katanya. "Aku takkan membunuh mu. Tapi aku akan mematahkan kaki mu sehingga kau tidak bisa bergerak. Aku pikir akan bagus jika pemuda itu yang membunuh mu."


"H-Hey, jangan tinggalkan aku!"


Suara itu menghilang. Disaat bersamaan, langkah kaki yang tadi menghampirinya pergi menjauh. Suaranya perlahan menghilang, menyisakan dirinya seorang diri di tengah suara rimbun dedaunan.


Tak lama berselang, ia berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Ia menengok kiri kanan dan hanya melihat pohon dan semak.


"Dimana aku ini?" Tanya-nya dalam hati. "Sepertinya aku belum jauh dari Avon. Aku harus pergi dari sini--"


Ia hendak berdiri, namun kakinya tak bisa bergerak. Rasanya mati rasa.


"K-Kaki ku!?" Ia terkejut. "Tak kusangka aku, Michael, Jenderal tertinggi Erobernesia, dipermalukan seperti ini."


Michael mencoba merangkak dengan tangannya. Jemarinya sedikit demi sedikit meraih bebatuan di sekitarnya dan menggunakannya untuk menarik tubuhnya bergerak.


Namun belum lama kemudian, ia mendapati jari-jarinya terluka. Luka gores memenuhi tangannya. Jemarinya mulai bengkak karena tak kuasa menarik tubuh beratnya lagi.


Michael menyerah. Ia merebahkan tubuhnya di atas tanah, dengan pandangan yang menatap ke langit-langit hutan. Bahkan angkasa tidak dapat dilihatnya.


"Mungkinkah aku ditakdirkan mati di sini?" Katanya pelan. "Bahkan kematian ku takkan disinari matahari. Melainkan mati di tanah orang-orang terkutuk."


Michael memejamkan matanya. Ia mencoba beristirahat seraya merasa pasrah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyerah dan menunggu Darren tiba.


"Kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya.


Michael terkejut. Ia langsung menoleh dan melihat bahwa orang itu adalah iblis perempuan yang sedang membawa keranjang kecil. Nampaknya sedang mengumpulkan bahan-bagan makanan di hutan.


Kulitnya putih bening. Wajahnya dilengkapi dengan rambut berwarna putih mengkilap dengan hiasan bola mata beriris biru muda. Diantara rambutnya, sepasang tanduk perak mengacung keluar.


"S-Siapa kau!?" Michael terkejut.


Michael spontan menggerakkan tangannya hendak menarik pedang. Namun ia sadar bahwa dirinya tak bersenjata. Ia pun mengacungkan tangannya dan merapal mantra.


"Fire Elemental: Fire Ball!"


Tak terjadi apa-apa. Api pun tak keluar dari tangannya. Apa yang terjadi?


"Sial, pendeta itu pasti telah menyedot habis semua Mana-ku," Gerutunya.


Perempuan iblis itu berjongkok di depannya dan melihat tangan Michael yang terluka.


"Kau terluka, ya?" Ucapnya. Ia kemudian mengambil sesuatu dari dalam keranjang.


Diambilnya sebuah daun berbentuk mirip hati. Warnanya hijau, namun di beberapa bagian berwarna agak kemerah-merahan.


Perempuan itu kemudian mengambil dua batu berukuran berbeda. Satu besar dan satunya lebih kecil. Diletakkannya daun tadi di atas batu yang besar dan ia mulai menumbuknya dengan batu yang lebih kecil.


Setelah daun itu tertumbuk sempurna, perempuan itu mendekati Michael.


"Kemarilah, berikan tangan mu," Ucapnya.


Michael hanya terdiam. Tapi ia masih menunjukkan wajah jijik. Tatapannya cukup untuk membuat perempuan tersebut menyadarinya.


Wanita itu langsung melirik ke pakaiannya. Baju mewah dengan beberapa pelat zirah yang rusak.


"Jadi kau tentara kerajaan, ya?" Ucapnya. "Kau pasti habis bertarung. Apa kau berhadapan dengan beruang?"


Michael tak menjawabnya. Melainkan ia semakin waspada. Ia berusaha untuk tidak disentuh oleh iblis itu.


"Kau terluka loh. Biarkan aku mengobati mu," Ucap perempuan itu lagi, seraya menyodorkan obat tumbuknya. "Ini adalah daun binahong. Oleskan di luka mu, maka luka mu akan cepat sembuh."


"Berikan saja obatnya," Ucap Michael seraya mengambil batu dengan tumbukan daun itu.


Dengan tangannya sendiri, ia mengoleskan tumbukan obat itu ke luka di lengannya. Walau nampak kesusahan, Michael terus bersikap keras kepala. Perempuan itu menawarkannya bantuan, tapi ia kekeh melakukannya sendiri.


Setelah lukanya dibalut oleh obat itu, Michael mulai menghela nafas berat. Ia tak pernah mengira bahwa dirinya akan dibantu oleh iblis.


Walau ini hanya bantuan kecil, tapi baginya ini merupakan aib yang besar sebagai jenderal. Ego-nya benar-benar mengekangnya untuk berterimakasih.


"Oh, maafkan aku Yang Mulia. Aku jadi harus menerima bantuan makhluk kotor ini," Ucap Michael.


Perempuan iblis itu tiba-tiba mengulurkan tangannya. "Kau masih terluka. Ayo kembali ke desa ku dan beristirahat di sana."


"Mana sudi!" Michael membalas tegas. "Lebih baik aku mati daripada berada di kerumunan monster seperti kalian."


"Tapi kau baru saja menerima obat ku, kan?"


Michael terdiam.


"Sudahlah, ayo ikut saja. Desa ku tidak terlalu jauh


Perempuan itu menarik lengan Michael tanpa melukainya. Tapi Michael tidak mau bergerak.


"Kau masih tidak mau juga, ya?" Ucap perempuan itu.


Michael menunduk sambil menatap kakinya. Disaat itu, perempuan tersebut menyadari sesuatu. Ia berjalan mendekat dan memperhatikan kaki Michael.


"Kaki mu lumpuh?" Tanya-nya seraya menyentuh kaki Michael. "Tapi tak ada luka sedikitpun. Dan juga tidak ada tulang yang patah. Jika kau lumpuh sedari lahir, tidak mungkin kau bisa jadi tentara, kan."


Perempuan itu menajamkan tatapan matanya. Kulit di sekitar matanya pun seakan mengerut karena ditarik. Dan saat itu ia langsung melihat sesuatu.


"Aneh, kenapa tidak ada Mana yang mengalir di pergelangan kaki mu?" Tanya-nya.


Michael terkejut mendengarnya. Tapi, ia lebih tertarik pada sesuatu. "Iblis ini bisa melihat Mana?"


Perempuan itu langsung menarik lengan Michael sambil memastikan tak melukainya. Ia pun menyandarkannya ke pundaknya dan membawanya perlahan. Berjalan menyusuri hutan dan pergi menuju desa.


Michael hanya diam. Ia mencoba mengikuti alur. Demi menghindari pertarungan yang pasti akan merugikannya.


"Lebih baik aku menurutinya dulu. Jika kondisi ku sudah membaik, maka aku akan pergi diam-diam tanpa ketahuan."


Setibanya di desa, para iblis langsung memperhatikan perempuan itu yang membawa Michael bersamanya. Bagi mereka ini pemandangan yang langka dan juga berbahaya.


Desa tersebut tidak terlalu jauh dari hutan. Di bagian terluar desa, pagar-pagar kayu ditempatkan mengelilingi. Pagar kayu itu dimaksudkan untuk menahan monster liar yang muncul dari hutan.


Tapi kayu yang kecil dan tipis tidak bisa benar-benar melakukan tugasnya. Sehingga para warga desa akan melakukan penjagaan secara beriring.


Tapi kehadiran Michael sendiri ke desa bisa dianggap lebih berbahaya daripada monster liar. Mereka langsung mewaspadainya walau tidak secara langsung.


Michael menjadi ikut waspada sekaligus berhati-hati. Satu langkah salah, maka ia bisa-bisa di bakar di tengah persimpangan jalan di pusat desa.


Perempuan itu membawa Michael ke rumah kecil yang merupakan rumahnya. Di sana, ia dibaringkan di atas ranjang kecil.


Setelah membaringkan Michael, perempuan itu mengorek-ngorek isi lemarinya. Dari sana, ia mengambil sebuah perban yang kemudian dibalutkannya ke lengan Michael.


"Cih. Apa-apaan sih dia ini. Apa dia pikir bisa mengambil hati ku dengan berbuat baik?" Batin Michael. "Bagaimanapun, kau tetaplah iblis. Ras dari Raja Iblis yang merugikan dunia."


Sreekk... Perlahan perempuan itu merobek perban dari gulungannya. Kini tangan Michael telah diperban sempurna.


"Tangan mu akan baik-baik saja. Dalam beberapa hari, lukanya akan sembuh," Ucapnya. "Tapi kaki mu, aku tidak tahu bisa berbuat apa. Seseorang mungkin menaruh sihir pada kaki mu."


"Iya, aku tahu," Jawab Michael dengan cetus. "Sekarang tinggalkan aku. Aku mau sendiri."


"Baiklah," Balasnya. "Jika kau butuh bantuan. Panggil saja Riana. Itu nama ku."


Michael tidak menjawab, melainkan memalingkan wajahnya. Riana pun pergi dari situ tanpa meninggalkan kata-kata lain.


"Apa-apaan dia itu," Gerutu Michael setelah dirinya sendirian di kamar. "Pokoknya aku harus cepat pergi dari sini. Aku muak berada di antara mereka."


"Tapi bagaimana? Pendeta sialan itu telah memblokir aliran Mana menuju kakiku. Karenanya aku jadi lumpuh. Mungkin untuk sekarang, lebih baik aku berbaur sambil menyiapkan rencana yang bagus."


.


.


.