
Keesokannya, waktu pagi-pagi betul, Darren dan dua sahabatnya telah berjalan menuju akademi. Jarak penginapan dan akademi tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja, itu tidak mengubah fakta bahwa jalan yang ditempuh masih sangat membingungkan bagi Darren. Berjalan di tengah-tengah kota besar ini rasanya seperti berjalan dalam labirin.
Terlebih, jarak pandang pun sangat terbatas karena banyaknya orang-orang yang berlalu lalang. Bukan itu saja. Kereta kuda dan bangunan-bangunan tinggi juga membuat navigasi jadi sangat sulit. Bahkan pikir Darren, tersesat di hutan punya peluang selamat lebih besar daripada terjebak di tengah samudera manusia ini.
"Darren-kun, jangan lepaskan tanganku," Ravenna berkata, seraya menarik tangan Darren yang juga menarik tangan Shiro, berlari menembus kerumunan.
"Sudah kubilang. Panggil aku Esema! Aku tidak mau rumor buronan lepas tersebar ke seluruh kota," sahut Darren, mempererat genggamannya.
"Iya, iya."
Beberapa menit kemudian. Mereka akhirnya berhasil lolos dari kerumunan, seperti sebuah sampan yang akhirnya menepi ke tepi pantai setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah lautan penuh ombak.
"Kita sampai." Ucapan Ravenna, menunjuk ke sebuah bangunan besar yang megah.
Mereka bertiga berdiri di depan sebuah gerbang besar, dengan jalan yang terbuat dari balok beton menghubungkannya ke bangunan utama. Di antara gerbang dan bangunan utama, terdapat lahan yang cukup luas. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah air pancur yang menambah keindahan bangunan tersebut.
"Ini sekolahnya?" Mata Darren menatap tak percaya.
"Kenapa kau nampak kaget?" tanya Ravenna, melihat ekspresi terkejut Darren. Sebenarnya Shiro juga menunjukkan raut yang sama. Tapi Ravenna langsung menyimpulkan sebab ia tidak pernah melihat sekolah sebelumnya.
Darren mengusap matanya. "Tidak. Aku hanya mengira akan mirip rumah sakit angker."
"Sebenarnya seburuk apa sekolahmu dulu?!"
Ravenna menghela nafas, sambil termangu-mangu dengan sikap Darren. "Ah, sudahlah. Lebih baik kita segera masuk. Kelasmu sebentar lagi akan dimulai," katanya, lalu berpaling pada Shiro. "Shiro-chan, kau juga ikutlah. Kau sekelas dengan Darren-- Akhem~ Maksudku Esema-kun."
"Baiklah."
.
.
.
Hari itu cuaca nampak baik-baik saja. Seperti biasa, angin sepoi-sepoi berembus pelan, menyelinap masuk melalui jendela kelas yang terbuka. Di luar-- lebih tepatnya di luar gerbang sekolah, nampak kerumunan manusia berlalu lalang memikirkan hidup mereka masing-masing. Kehidupan di kota ramai selalu begini. Rasanya selalu dipenuhi hawa penuh tekanan.
Seorang pria dengan kuping yang runcing duduk di kursi kelasnya, sambil menatap keluar jendela yang berbingkai kayu cendana mengkilap. Tangannya memegang sebuah pena yang terus menerus ia ketuk-ketukan ke atas meja. Wajahnya nampak muram, seraya ia melihat kumpulan manusia itu.
"Huff... Masih gak ada inspirasi," keluhnya pelan, tanpa bermaksud orang lain mendengarnya.
Kelas terasa sangat ramai. Banyak murid-- atau lebih tepatnya, petualang, yang berlalu lalang di kelas. Beberapa nampak berdiskusi dengan teman-teman seregunya. Beberapa juga nampak bermain permainan papan di kursi paling belakang. Namun dari sekian banyaknya orang di sana, pria itu memilih untuk duduk sendirian di kursinya.
Tak lama berselang, seorang pria bertubuh besar masuk, diikuti dua orang asing yang berjalan di belakangnya. Lantas semua petualang segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dengan rapih.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita kedatangan pelajar baru," ucap pria besar itu sambil menunjuk dua orang di sampingnya. "Silahkan perkenalkan diri, kalian berdua."
"S-Siap!"
Dua orang itu diisi seorang pria dan wanita. Sesi perkenalan pun dimulai. Si pria maju perlahan. Kelihatan sedikit di wajahnya ia sedang berusaha yang terbaik untuk tidak mengacaukan ini.
"Perkenalkan. Namaku Esema. Aku seorang petualang perunggu," ucapnya. Kemudian ia membungkukkan badan. "Aku akan mulai belajar di sini. Jadi, mohon kerja samanya untuk ke depannya."
Kemudian si wanita ikut maju.
"Namaku Shiro, petualang perunggu," ucapnya. "Aku adalah keluarga dekat Esema. Senang bertemu dengan kalian."
Mereka berdua pun mundur. Kemudian pria besar tadi berkata, "Baiklah. Senang bertemu dengan kalian berdua. Aku adalah guru di sini. Kalian bisa memanggilku, Oki-sensei. Aku juga seorang petualang tingkat emas. Jadi, jika ada yang perlu ditanyakan, jangan ragu untuk bertanya."
"Terimakasih, Oki-sensei," balas mereka berdua serempak.
Tapi saat mereka hendak diarahkan ke kursi mereka, nampak beberapa orang di kelas mulai berbisik-bisik satu sama lain. Terlebih yang paling menarik perhatian adalah dua orang yang duduk di kursi paling belakang, dekat jendela.
"Heh, lihatlah! Ada manusia binatang," salah satu dari mereka berbisik pelan.
"Yoi. Bisa jadi mainan baru nih," balas yang lain.
Pria berkuping runcing tadi pun berbalik. Ia menendangkan kakinya ke arah meja sepasang murid berisik itu. Gubrak! Lantas itu membuat seisi kelas senyap dan mengarahkan perhatian mereka kepadanya.
"Hey, kalian berdua. Kalian tahu tidak kalau mulut kalian itu seperti ember bocor?" ucapnya dengan nada lembut. Namun tatapan matanya berkata lain. "Ember adalah benda yang sangat berguna. Namun jika bolong, maka dalam sekejap segera berubah menjadi sampah. Rasanya itu membuatku ingin menambalnya. Tentu sampai tidak akan pernah bocor lagi."
Lantas kedua orang itu terdiam tanpa kata. Tatapan pria itu cukup mengintimidasi hingga hampir membuat kedua orang itu mengompol karena ketakutan.
Pria itu kembali ke posisinya dengan tangan yang menyilang di atas meja. Ia hanya tersenyum, sambil menatap Darren dan Shiro yang berdiri di depan kelas— yang juga terpaku diam karena kejadian barusan.
"Kukira siapa. Ternyata mereka berdua adalah orang yang tadi kulihat di depan gerbang," batin Ronald. "Tapi kalau tidak salah. Seharusnya mereka bertiga. Dan salah satunya adalah petualang tingkat berlian. Tapi yang menarik adalah... aku sempat mendengar nama--"
"Baiklah. Esema, Shiro, kalian bisa duduk ke meja yang ada." Oki menunjuk ke dua bangku kosong yang tersebar di setiap sudut ruangan. "Dua kursi itu tidak terpakai. Yang ada di pojok kanan, kursi itu memang sudah lama kosong. Dan di meja yang di dekat jendela..."
Di samping meja itu, adalah tempat duduk Ronald. Ia pun hanya melambai dari kejauhan dengan— tentu saja, wajah yang tersenyum.
"Yah. Bangku itu... cukup bermasalah. Mungkin bukan bangkunya. Tapi tetangganya," sambung Oki pelan.
"Tidak apa. Aku akan duduk di situ," sahut Darren. Ia kemudian menatap Shiro. "Kau duduk di kursi yang di sana saja," ujarnya sambil menunjuk ke ujung ruangan.
"Baiklah."
Mereka berdua pun duduk di kursi mereka masing-masing. Sejauh ini, semua nampak berjalan lancar bagi Darren. Tapi ia merasa cemas terhadap Shiro, setelah mendengar pembicaraan dua murid tadi.
"Tidak usah dipikirkan." Ronald tiba-tiba menepuk pundak Darren, seolah ini adalah langkah pertamanya untuk membangun keakraban.
Darren hanya tersenyum canggung sambil mengangguk. "E-Eh, iya kau benar." Entah kenapa bicara di sekolah terasa lebih sulit daripada di tempat lainnya.
"Ngomong-ngomong, perkenalkan. Namaku Ronald Sanguis," ucap Ronald, "Kau bisa memanggilku, Ronald. Tidak perlu pakai honorifik."
"Oh, eh— Namaku Esema Aswan. Kau boleh memanggilku Esema," balas Darren.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau bergabung dengan akademi ini? Kau tahu, seperti motivasi atau mungkin tujuan."
Darren terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang bagus. Jelas tak mungkin ia akan menjawab: Aku sedang menyelidiki rencana jahat raja iblis kegelapan untuk mencegah terjadinya perang.
"Aku..." Ia mulai merangkai kata-katanya, "Aku bergabung untuk menjadi lebih kuat!"
"Oh, sungguh?!" Ronald malah nampak antusias.
"E-Eh? Iya, sungguh!" sahut Darren lagi. "Kakakku adalah petualang tingkat berlian. Namanya... R-Ravenna. Ibuku selalu menganggap diriku tidak berguna dan membanding-bandingkan diriku dengannya. Jadi...!"
Darren jadi lebih percaya diri mengeluarkan kebohongan indahnya. "Jadi aku memutuskan untuk menjadi lebih kuat dan membuktikan padanya bahwa aku layak menjadi petualang terkenal."
Ronald tersenyum. "Itu alasan yang jelas sekali..." ucapnya, "Sangat inspiratif!"
Lalu ia mulai berpose-pose dramatis dengan raut yang nampak bercahaya. Saat itu juga, Darren langsung sadar bahwa orang di sampingnya adalah orang aneh.
"Mungkin alasan kursi ini kosong karena perilaku manusia ini--" Ia berhenti bergumal ketika melihat kuping panjang yang dimiliki Ronald.
"Ia seorang Elf?" Pikirnya. "Kudengar, elf adalah ras yang arogan dan memiliki harga diri tinggi. Tapi, elf ini nampak berperilaku sebaliknya."
Ketika Darren sedang berpikir, tiba-tiba Ronald menarik sebuah buku kecil dari sakunya. Buku itu nampak seperti memo, dan ia mulai menulis dengan penanya.
"Eh, apa itu?" Tanya Darren.
"Ini adalah buku catatan penulisku," balas Ronald, "Aku menulis semua ide bagus yang kutemukan dan menjadikannya tema yang bagus untuk novelku."
"W-Wow. Apa barusan kau menulis kisahku?"
"Tentu saja! Siapa yang tidak terharu dengan kisah yang begitu inspiratif? Pembaca bisa dibuat menangis bahagia karena bangga atas pencapaian yang dibuat tokoh utama. Terlebih dengan tekanan yang begitu berbobot. Lalu aku bisa menambah berbagai hal lainnya lagi ke dalamnya. Seperti cobaan-cobaan yang menghadang sang tokoh utama dan perlahan mengubah karakternya. Bisa disebut, ini adalah bumbu utama untuk membuat pengembangan karakter. Lalu aku bisa menimpa tokoh utama dengan lebih banyak penderitaan untuk lebih banyak lagi pengembangan karakter. Dengan begitu, tokoh utama akan menjadi karakter terkuat. Tidak hanya fisik, namun juga mental. Dan di akhir cerita, ia akan bertarung menghadapi kakaknya sendiri. Namun, walau dengan semua kekuatannya, ia masih tidak bisa menang. Lalu kakaknya berkata: 'Musuhmu bukanlah aku. Tapi dirimu sendiri.' Lalu dengan beberapa adegan flashback, tokoh utama pun mendapatkan kekuatan motivasi. Ia mengalahkan kekurangan dalam dirinya sendiri dan akhirnya berhasil menang. Lalu ia pun dinobatkan sebagai petualang terkuat di dunia."
"Oh, oke."
Mendengar penjelasan berbelit barusan membuat kepala Darren pening. Masih mending jika penjelasan barusan berkaitan dengan misinya mencari pabrik undead itu. Tapi semua itu tak lebih dari sekedar halu berlebih Ronald.
"Mungkin aku membuat kesalahan duduk di sini."
.
.
.