
Kepala Darren terasa pusing. Rasanya sangat berat, ia ingin terus tidur tapi ia sadar bahwa ada yang harus ia kerjakan.
"Empuk... ini apa, ya?" Darren merasakan sesuatu di punggung kepalanya. "Apa ini bantal?"
Perlahan Darren mulai mengerang. Ia mencoba mengangkat kepalanya tapi ia masih ingin tiduran.
"Ugh..." Rintihnya sambil membuka mata.
Saat matanya terbuka, wajah Shiro sudah berada di hadapannya. Wajahnya sangat dekat hingga membuat Darren terkejut.
"Ah, Darren-sama, kau sudah bangun," Ucap Shiro dengan senyuman lebar di wajahnya. "Selamat pagi."
"Pagi, Shiro," Darren langsung menyadari sesuatu. "Tunggu, apa ini... paha?"
Darren langsung kaget saat ia sadar bahwa yang ia tiduri bukanlah bantal, melainkan paha Shiro. Ia hendak berdiri, tapi tubuhnya masih terlalu lemas dan terasa sangat berat.
"Aduh," Rintihnya.
Shiro langsung mendorong badan Darren kembali ke posisi semula. "Darren-sama, badan mu masih lemah. Lebih baik kau tetap istirahat."
Darren akhirnya pasrah diam. Sebenarnya Darren sedikit menikmati hal ini. Ini juga merupakan pertama kalinya bagi Darren, dan ia tak akan menolaknya selain alasan kalau ini agak tidak sopan.
"Apa kau merasakan sesuatu, Darren-sama?" Tanya Shiro lembut.
"Aku hanya merasa sedikit lemas. Mengangkat badan saja terasa berat," Jawab Darren. Ia tahu kalau Shiro sudah menjaganya semalaman, tapi ia mencoba untuk menanyainya. "Apa kau disini sepanjang malam?"
Shiro tersenyum sambil mengangguk. "Ya," Jawabnya. "Aku tidak ingin meninggalkan mu, Darren-sama."
Mendengar itu hati Darren jadi mulai berdegup. Apa karena ini pertama kalinya seorang perempuan mengatakan itu kepadanya secara langsung? Yah, dari dulu ia tidak pernah dekat dengan perempuan sih.
Apalagi mereka hanya berdua saja di situ. Ini membuat Darren kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu di penginapan.
"Shiro, apa kau pernah melakukan itu?" Mulut Darren terbuka sendiri, seakan ia tak sadar mengatakannya.
"Melakukan apa, Darren-sama?"
Darren langsung terbangun dari setengah tidurnya. "Um, tidak. Bukan apa-apa."
Darren berusaha mengubah suasana canggung itu. "Ngomong-ngomong, yang lain kemana?"
"Remi-san dan teman-temannya sedang pergi. Mereka bilang ingin mencari informasi tentang Tora-kun," Balas Shiro.
"Lalu, perempuan kemarin?"
"Katherine-san sedang pergi bersama Tomatsu-sama."
"Tomatsu?"
"Ya, Tomatsu-sama bilang ia ingin beli makanan untuk mu. Dan Katherine-san bersikeras untuk ikut bersamanya."
"Jadi begitu. Gak biasanya ia sampai perhatian seperti itu," Ucap Darren sambil sedikit terkekeh.
Keadaan menjadi sunyi untuk sesaat. Darren yang masih memejamkan mata di pangkuan Shiro sementara Shiro sendiri mulai bersenandung lembut. Keadaan damai ini terasa menenangkan sekaligus membuat Darren semakin waspada.
"Nyawa ku sedang dalam ancaman Raja Iblis. Nyawa-nyawa di sekitar ku juga menjadi taruhannya," Gumam Darren. "Seharusnya aku terus berlari dan menjauh dari kematian ini. Tapi sekarang... aku malah tengah bersantai dan tak memikirkan apa-apa lagi."
"Jika suatu saat di masa depan aku terus seperti ini, apa yang akan kira-kira terjadi?"
"Mungkin aku tidak akan bisa merasakan kedamaian seperti ini lagi. Dan jika aku terus lari, orang-orang yang ku sayangi mungkin akan mulai pergi."
"Atau mungkin lebih baik aku menyerahkan diri, daripada membahayakan nyawa mereka yang tidak ada hubungannya dengan semua ini?"
Saat Darren tengah asik dalam renungannya sendiri, tiba-tiba pintu terbuka dan sekumpulan orang-orang masuk. Ternyata itu Remi dan Rendi.
Darren segera membuka matanya dan melihat mereka mulai menghampirinya.
"Woah, Darren-sama sudah bangun!" Remi berteriak kegirangan.
"Selamat pagi, Darren-sama," Rendi menyapa Darren dengan sopan. "Bagaimana keadaan anda hari ini?"
Darren membalasnya dengan senyuman santai sambil mengangkat kepalanya sedikit. "Aku baik-baik saja."
Remi kemudian berjongkok di samping Darren, sedangkan Rendi duduk di kursi yang agak jauh dari situ. Mereka berdua sepertinya sudah bekerja keras dan wajah mereka menunjukkan kalau kerja keras mereka sudah terbayarkan.
"Sepertinya aku akan mendengar kabar baik," Ucap Darren seraya Remi hendak membuka mulut.
"Ah, bagaimana kau bisa tahu," Gerutu Remi. "Kami menemukan sesuatu tentang Tora-san."
"Oh ya? Coba jelaskan."
Remi mulai duduk di lantai dan menyilangkan kakinya. "Ini terjadi tadi malam," Ucapnya. "Saat kami berjalan melewati sebuah restoran, kami tak sengaja berpapasan dengannya. Dan saat kami menoleh, ia masuk ke restoran tersebut."
"Tapi ia tak sendiri," Rendi menyaut. "Kami juga melihat orang lain bersamanya."
"Orang lain?"
"Tapi apa yang orang kerajaan lakukan? Setahu ku itu hal yang tabu bagi mereka untuk berjalan bersama budak tak dikenal," Sambung Remi.
Darren jadi khawatir. Apa Tora ditangkap oleh pihak kerajaan? Kalau begitu, Tora bisa-bisa dikembalikan lagi kepada majikannya yang lama dan disiksa sampai mati.
Ini gawat. Pikiran Darren jadi panik dan ia tidak mau Tora sampai kenapa-kenapa. Lagian, ia juga masih belum tahu pasti alasannya kabur. Tora mungkin tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Tomatsu tentang Raja Iblis itu, tapi Darren tak yakin.
Darren langsung bangkit berdiri. Walau tubuhnya masih terasa berat, tapi ia tak bisa diam saja setelah mendengar laporan Rendi.
"Darren-sama?" Shiro terkejut saat Darren langsung beranjak. "Kau mau kemana?"
"Aku harus mencari Tora," Ucap Darren panik.
Remi menghentikan Darren. "Lebih baik jangan," Ia menenangkan Darren perlahan.
"Apa maksud mu Jangan!?"
"Apa Darren-sama sudah mempunyai rencana?" Ucap Remi. "Apa kau mau maju sendirian untuk merebut Tora-san dari tangan kerajaan. Jika kerajaan tahu bahwa seorang buronan ada di wilayah mereka, maka hanya tinggal menunggu waktu sampai tempat ini terkepung. Dan kemungkinan terburuknya, akan ada pertumpahan darah."
Emosi Darren mulai padam. Ia paham dengan maksud Remi. Ternyata Remi merupakan seorang yang berpikiran panjang. Untung saja ia ada disini untuk menghentikannya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Ucap Darren putus asa.
"Tenang saja, aku sudah meminta si kembar untuk mengikuti Tora-san," Ucap Remi dengan senyuman percaya diri di wajahnya.
Darren bernafas lega. Remi benar-benar bisa diandalkan dalam hal ini. Kemampuannya untuk mengambil langkah juga cukup hebat untuk seorang tak berpendidikan sepertinya.
"Terimakasih, Remi," Darren menghempaskan dirinya ke lantai dan duduk. Wajahnya awalnya pucat, tapi kini ia baik-baik saja. "Ternyata kau sangat bisa diandalkan."
Remi membalasnya dengan senyuman. "Aku sangat senang mendapat pujian dari orang seperti mu, Darren-sama."
Rendi hanya menatap mereka berdua dengan santai. Senyuman kecil terpampang di wajahnya, apalagi setelah menyaksikan Remi menenangkan Darren.
"Kau memang hebat, Remi."
.
.
.
Sementara itu...
Tomatsu sedang berjalan bersama Katherine di bawah matahari pagi yang terik. Mereka dalam perjalan kembali ke gedung dengan makanan di tangan mereka.
"Ah, apa dia sudah bangun, ya?" Tomatsu bergumam.
"Maksud anda Darren-sama?" Ucap Katherine berjalan di sampingnya.
Tomatsu mengangguk. "Aku tidak menyangka kalau ia juga bisa menggunakan sihir cahaya," Ucapnya. "Padahal awalnya aku mulai menganggap ia sebagai monster."
Katherine tertawa kecil kemudian menatap ke perutnya sendiri. "Tapi berkatnya, aku punya kesempatan kedua sekarang."
Tomatsu menoleh dan melihat wajah Katherine yang tersenyum manis. Ia tersenyum, tapi di dalam hatinya ia merasa khawatir dengan keadaan Darren.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya padanya," Sambung Katherine lagi.
Tomatsu sedikit terkekeh. "Jika mau berterimakasih padanya, sebaiknya kau ucapkan dengan singkat saja. Ia itu bukan tipe orang yang suka bertele-tele."
Katherine mengangkat kepalanya dan menatap Tomatsu. "Sepertinya Tomatsu-sama sangat mengenalnya, ya," Ucapnya. "Apa kalian sangat dekat?"
Tomatsu tertawa. "Tentu saja. Ia itu murid ku. Sebagai guru, aku harus mengerti tentang anak didik ku sendiri."
Saat hendak berbelok ke arah gang pintu masuk gedung, lengan kiri Tomatsu tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria dengan kerudung di kepalanya.
Bukk!
"Oy, kalau jalan pakai mata dong!" Teriak Tomatsu.
Pria itu hanya terus menundukkan kepalanya sambil memegangi kerudung untuk menutupi wajahnya. Ia kemudian membalas singkat dengan nada datar.
"Kalau begitu maaf. Aku tidak sengaja," Ucapnya.
Tomatsu merasa jengkel saat orang itu hanya pergi begitu saja. Ia ingin mengejarnya tapi dihentikan oleh Katherine.
"Lebih baik kita cepat berikan makanan ini pada Darren-sama. Ia mungkin sudah bangun," Ucap Katherine.
Tomatsu akhirnya menurutinya. Andaikan ia punya kesempatan, ia pasti sudah menghajar pria itu. Mereka pun masuk ke gedung dan membiarkan pria tersebut pergi.
.
.
.