
Darren dan dua temannya sedang berdiri di depan pintu kastil. Tak jauh dari situ, ada dua orang penjaga yang terus memperhatikannya dan itu membuatnya sedikit takut.
"Tora kemana sih? Kenapa ia membawa kita ke tempat ini?" Tomatsu menggerutu sambil melipat tangannya. "Padahal kalau kau sampai ketahuan bisa bahaya."
Darren membalas pelan. "Jangan keras-keras! Nanti malah ketahuan beneran," Darren kemudian memalingkan pandangannya dari kedua penjaga itu. "Sebaiknya kita bersikap senormal mungkin agar mereka tidak curiga."
Tomatsu menghela nafas. "Iya, iya. Kalau boleh pun, aku sebenarnya bisa menghancurkan negara ini sendirian."
"Tidak usah berpikir aneh-aneh. Kau juga harus tetap menyembunyikan identitas mu. Kalau sampai mereka tahu ada Raja Iblis sejati yang masih hidup, maka mereka pasti takkan tinggal diam."
"Iya, iya." Balas Tomatsu cetus.
Darren sedikit melirik ke dalam kastil. Sepertinya mereka sedang ada rapat atau semacamnya, karena ada banyak kuda yang terparkir di depan pintu.
"Sebenarnya mau apa sih Tora?" Ucap Tomatsu.
"Dia bilang kalau ia mau izin kepada orang yang sudah menyelamatkannya," Balas Darren. "Yah, seharusnya aku ikut juga dengannya. Bukan karena aku curiga, tapi aku juga mau bilang terimakasih."
"Kau terlalu baik, Darren. Bisa tidak kebaikan mu itu dibuang sedikit?" Sahut Tomatsu. "Apa semua orang di dunia mu seperti itu? Beda sekali dengan manusia-manusia di sini."
"Bukan akunya yang baik, tapi merekanya saja yang brengsek."
.
.
.
Sementara itu di dalam...
"Accel-sama!" Tora dengan cepat lari dan masuk ke ruangan dimana Accel berada.
Tora melihatnya membuka pintu dan reaksi pertamanya adalah menanyakan anggur itu.
"Ada sesuatu yang lebih penting!" Ucap Tora terengah-engah. "Darren, ia di sini!"
Wajah Accel terkejut saat mendengar itu, tapi di sisi lain ia juga merasa hari ini adalah hari paling beruntungnya. Tak disangka jadwalnya akan menjadi padat secara tiba-tiba.
Tora kemudian menceritakan bagaimana ia bertemu Darren dan reaksi Darren saat menemukannya. Accel berpikir kalau ini malah akan membuat rencana lebih mulus.
"Yah, padahal aku mau minum anggur," Ucapnya sambil berdiri dari kursi. "Baiklah. Aku akan beritahu Lionne. Kau kembalilah kepadanya. Jangan sampai ia curiga."
Accel kemudian meregangkan badannya sembari berjalan. "Walau ini berada di luar ekspetasi kita, tapi sikapnya kepadamu ternyata berbeda. Ini bisa kau manfaatkan untuk membuatnya masuk perangkap tanpa curiga." Sambungnya. "Tapi intinya, jangan sampai gagal. Kegagalan bukanlah pilihan."
Tora mengangguk dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Accel.
.
.
.
"Tora kemana ya? Lama banget," Darren mulai menggerak-gerakkan kakinya karena bosan menunggu.
Tak lama kemudian Tora muncul dari dalam gerbang dan melihat Darren bersama yang lainnya berdiri di depan pintu masuk.
"Oh, Tora. Akhirnya kau selesai juga," Ucap Darren begitu melihat Tora berjalan keluar. "Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar?"
"Ya, tidak ada masalah. Ia merasa senang karena akhirnya aku bisa aman," Balas Tora.
Darren memasang wajah lega. "Untung saja. Sebenarnya aku juga ingin bertemu dengan orang itu. Aku jadi merasa tidak enak."
Setelah itu, Darren mengajak mereka pergi. Ia hendak berjalan mengarah pintu keluar kota di utara, namun Tora tiba-tiba mengusulkan sesuatu.
"Esema-sama, sebaiknya kita lewat gerbang di barat," Ucap Tora.
Darren mengernyit bingung. "Kenapa? Bukannya itu berarti kita akan mengambil jalan memutar?"
"Aku dengar gerbang utara dijaga ketat oleh penjaga," Balas Tora singkat.
Darren teringat kalau di kastil tadi ada banyak kuda yang terparkir. Sepertinya memang ada rapat, sehingga beberapa pintu kota di jaga ketat. Lagipula, Tora sudah berada di kastil itu cukup lama, seharusnya ia tahu banyak tentang apa yang terjadi. Setidaknya, begitulah yang ia pikir.
"Baiklah," Ucap Darren mengiyakan tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Tak pernah terlewat di benaknya bahwa Tora akan mengkhianatinya.
Mereka pun berjalan ke arah barat, dimana ada pintu gerbang kota lainnya berada. Dan di sana juga lah rencana penangkapan Darren akan dilaksanakan.
Noordoos berada di sebelah timur laut Vertrag, itulah kenapa Darren berpikir akan lebih cepat jika keluar melalui pintu kota di utara. Berjalan melalui barat sama saja memutar jauh.
"Bagus! Aku berhasil membuat Darren-sama mengikuti rencana ku," Ucap Tora dalam hati sembari berjalan.
Kini perhatiannya terarah pada Tomatsu dan Shiro. Ia melirik ke arah mereka dengan pandangan gelisah.
"Tomatsu, ya... Ia akan jadi masalah besar," Batinnya. "Mereka bisa jadi penghalang dalam rencana ini, terlebih lagi Tomatsu. Ia mungkin bisa merasakan keberadaan orang-orang. Ia sangat merepotkan."
"Tapi Shiro sepertinya tidak begitu berbahaya. Aku bisa mengabaikannya selain dalam urusan pertarungan jarak dekat, terlebih dalam menggunakan tombak."
"Tapi aku tidak mau mereka berdua terlibat masalah ini. Ini bisa mengacaukan semuanya. Aku harus membuat skenario untuk membuat mereka pergi."
Tora tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya. Darren melihatnya dan ikut berhenti.
"Ada apa, Tora?" Tanya Darren sambil melirik.
Tora menolehkan wajahnya ke arah keramaian di dekatnya yang tak lain adalah sebuah pasar. Ini bisa ia gunakan untuk menyingkirkan Tomatsu dan Shiro.
"Esema-sama, ada sesuatu yang ingin ku beli," Ucap Tora sambil menunjukkan jarinya ke sana.
Darren mendekatinya dan melihat ke arah jarinya menunjuk. Sebuah stan dengan alat-alat sihir menggantung di setiap tiangnya.
"Kau mau beli alat-alat sihir?" Tanya Darren. "Buat apa?"
Tora menjawab. "Untuk menjaga diri. Akhir-akhir ini aku selalu mendapatkan kesialan. Mungkin aku bisa berakhir di tangan penjahat-penjahat, jadi aku butuh senjata."
Darren mengangguk mengerti dan berniat pergi ke sana untuk membelinya, tapi Tora menahannya.
"Esema-sama, bukannya aku mau meremehkan mu, tapi apa kau tahu banyak tentang senjata sihir?" Ucap Tora.
Darren menggeleng. "Yah, aku tidak tahu banyak sih. Tapi apa salahnya melihat-lihat?"
"Tidak ada waktu untuk melihat-lihat. Kita harus segera pergi ke pintu gerbang," Balas Tora. Ia kemudian menoleh ke arah Tomatsu dan Shiro. "Bagaimana jika Tomatsu-sama dan Shiri yang beli? Kita berdua akan pergi ke pintu gerbang duluan untuk mengamankan keadaan."
"Tapi kan, bukannya kau yang mau beli?" Ucap Darren.
"Aku percaya Tomatsu-sama tahu yang cocok dengan ku. Ia kan tahu banyak tentang sihir."
Tomatsu terlihat bangga saat Tora memujinya. "Serahkan pada ku, Tora-kun."
Darren pun menyerahkan beberapa keping koin emas kepada Tomatsu dan membiarkannya pergi.
"Ayo, Shiro," Ucap Tomatsu menarik tangan Shiro pergi.
Kini tinggal Tora dan Darren berdua. Semuanya berjalan lancar. Sekarang, Tora hanya perlu membawa Darren ke gerbang kota dan menyaksikan pertunjukannya.
Darren mengangguk sambil melirik sedikit ke belakang. "Semoga Tomatsu dan Shiro tidak membuat keributan. Sejujurnya aku agak resah membiarkan mereka pergi sendiri."
.
.
.
Mereka akhirnya tiba di dekat gerbang kota. Darren dan Tora berjalan sambil mengawasi keadaan sekitar. Darren terlihat berjalan mengendap-endap, sementara Tora berjalan di tengah jalan dengan santai.
"Sepertinya tidak terlalu banyak orang, seperti kata mu Tora," Ucap Darren begitu melihat pintu gerbang yang sepi. Tak seorang pun kelihatan berjaga.
Tora hanya sedikit menyeringai dan kemudian membalas. "Baguslah. Kalau begitu rencana k- kita akan berhasil."
Darren berjalan ke sebuah dinding dan menyenderkan badannya di situ.
"Tapi Shiro dan Tomatsu belum tiba." Tanya Darren. "Apa mereka baik-baik saja ya?"
Tora membalas. "Kau terlalu khawatir, Esema-sama. Santai saja, mereka pasti baik-baik saja."
"Mungkin kau benar, Tora. Aku terlalu parno. Seharusnya aku percaya pada mereka."
Tora menjawab sambil tersenyum. "Kau memang baik, Darren-sama. Itulah kenapa kau selalu bertemu orang-orang baik dalam perjalanan mu."
Darren menoleh ke arah Tora dan menatapnya. "Kau barusan bilang apa?"
Tora memiringkan kepalanya heran. "Bilang apa?"
"Kau memanggilku apa tadi?"
Tora terlihat bingung sampai akhirnya ia tersadar. "Sial! Kenapa aku harus keceplosan di saat yang tidak tepat!?"
Tora berusaha menyangkal. "Aku bilang apa ya? Aku lupa--"
"Tadi kau barusan saja memanggilku Darren, kan?" Ucap Darren memotong. "Aku yakin aku tak salah dengar."
Tora terlihat gemeteran. Satu kata salah saja bisa membuat pikirannya amburadul. Ia bingung harus menjawab apa. Semakin ia menyangkal, maka Darren akan semakin curiga. Apa sebaiknya ia mengakuinya saja dan mencoba mengendalikan keadaan?
"Ya, aku memang memanggilmu Darren-sama," Ucap Tora sambil menundukkan kepala.
Darren terlihat biasa saja. Ia malah mengangkat wajahnya ke langit dan melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kau sudah tahu, ya?" Ucap Darren, disusul sebuah anggukan dari Tora.
"Sejak kapan?" Tanya Darren lagi.
"Sejak pelatihan di Tayushsneg," Jawab Tora.
Darren melanjutkan, "Apa itu juga alasanmu kabur?" Tanya Darren. "Aku mau menanyakan hal ini dari tadi, tapi tidak sempat."
Tora terkejut karena tak menyangka kalau Darren akan langsung menanyakan itu. "Gawat, aku tak berpikir sampai ke sini. Ia pasti akan membunuhku sekarang."
Tora berkeringat. Tangan dan kakinya gemetar dan wajahnya terlihat panik.
Tapi Darren tiba-tiba mengatakan, "Aku bisa memakluminya."
Tora jadi semakin terkejut saat mendengarnya. Matanya seakan terbuka dan tangan kakinya berhenti bergetar.
"Apa maksud mu, Darren-sama?" Ucapnya.
Darren melayangkan pasangannya. Ia terlihat sangat santai dan tak marah sama sekali, jauh dari ekspetasi Tora.
"Mungkin jika aku jadi kau, aku akan melakukan hal yang sama juga. Saat mengetahui bahwa orang terdekat mu adalah kriminal dan pernah merenggut nyawa orang. Itu hal yang umum," Ucap Darren.
"Jadi kau tidak marah?"
Darren menggeleng sambil tersenyum. "Untuk apa? Apakah menyelamatkan diri itu sebuah tindak kejahatan?"
Darren kemudian menatap Tora. "Maafkan aku karena menyembunyikan semua ini. Kau pasti syok, kan?" Ia menarik tubuhnya yang sedang bersender dan mendekati Tora. "Mulai sekarang, ini pilihan mu. Kau bebas mau pergi atau menetap. Aku takkan menahan mu."
Tora masih menatap Darren dengan tidak percaya. Ini jauh dari ia pikirkan.
Tora terdiam. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya Keadaan menjadi hening, hanya terdengar suara-suara angin yang semilir dan dedaunan yang bergesek.
Tora masih bergumul di dalam hatinya. Ia tidak bisa memutuskan. Semua pikirannya untuk pergi seketika hilang begitu saja. Sekarang hanya tersisa keinginannya untuk menetap.
"A-Aku..." Tora mulai tergagap. "Aku ingin--"
Tapi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara dari atas tembok gerbang.
Swuung!!! Suara benda yang bergerak dengan cepat.
"Tora, awas!" Seketika Darren mendorong Tora dari situ.
Jleebb! Semuanya terjadi begitu cepat. Mata Tora melotot lebar, melihat sebuah anak panah menancap di tubuh Darren.
"Darren-sama..." Ucapnya tanpa sadar selagi tubuhnya terhempas karena didorong Darren.
Ia tergeletak di tanah, begitu juga Darren. Sebuah anak panah menancap di pundak kirinya. Darren mengerang kesakitan sambil memegangi pundaknya.
"Darren-sama!" Tora kepanikan.
Tak lama kemudian, terdengar suara kencang tak jauh dari situ. Suara yang cukup familiar di benak mereka berdua.
"Cepat tembak sisanya!" Teriak Accel.
Seorang prajurit menyahut. "Tapi, Accel-sama, anak buah mu masih berada di dalam area tembakan. Ia bisa terbunuh."
"Siapa yang peduli! Cepat, tembaki saja buronan itu!"
Para prajurit berteriak serentak. "Baik!"
Suara benang yang meregang terdengar memenuhi area itu. Mereka mulai menarik anak panah mereka dan melepaskannya.
Swuung!!! Dalam sekejap, langit dipenuhi oleh anak panah layaknya hujan.
Darren dan Tora masih tergeletak. Tora bisa saja lari dari situ, tapi entah kenapa ia tidak bisa.
"Kenapa? Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?" Batinnya. Ia kemudian menatap Darren yang masih terluka. "Ah, aku paham sekarang. Bukannya aku tidak bisa bergerak, tapi aku tidak mau bergerak."
"Aku tidak bisa lagi meninggalkan Darren-sama-- Tidak, aku tidak mau meninggalkan Darren-sama."
.
.
.