Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Menghilang


"Darren-sama. Darren-sama." Shiro membangunkan Darren yang masih tertidur pulas.


Darren membuka matanya pelan. Terlihat sedikit jelas kalau cahaya matahari sudah bersinar melalui jendela kamar. Ia segera bangun dan mengusap matanya yang terasa berat.


"Akhirnya kau bangun juga, Darren-sama," Ucap Shiro.


Darren masih terlihat lusuh. Ia menoleh ke arah Shiro yang sudah berdiri di samping kasurnya.


"Selamat pagi, Shiro," Ucapnya. "Apa tidur mu nyenyak?"


Shiro mengangguk. "Ya, Darren-sama. Pagi ini, entah kenapa aku merasa sangat senang."


Darren bersyukur mendengarnya, walau ia sendiri merasa bersalah karena membiarkan perempuan tidur di lantai.


Darren memijakkan kakinya ke lantai dan bangkit berdiri. Sambil menguap, ia berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar. Pasti Shiro yang membukanya.


Ia memandang keluar dan wajahnya bermandian cahaya matahari pagi. Embun-embun di rerumputan memantulkan cahaya matahari dengan begitu mempesona.


Pemandangan pagi yang sangat indah, yang tidak bisa ia temukan di tempat asalnya.


Pagi yang cerah ini benar-benar memberikan kesan berbeda setelah melalui malam dengan hujan deras yang dahsyat.


"Indahnya," Ucap Darren sambil memandang jauh.


Shiro tersenyum setuju.


"Shiro, apa kau sudah melihat Tomatsu dan Tora?" Sambung Darren.


"Belum, Darren-sama. Begitu aku bangun, aku langsung membangunkan mu," Ucap Shiro.


Darren segera keluar dari kamarnya, diikuti oleh Shiro dari belakang. Begitu keluar dari pintu, Darren bisa merasakan semilir angin sejuk yang bertiup menyentuh kulitnya.


Tok, tok, "Tomatsu, apa kau sudah bangun?" Darren mengetuk pintu kamar Tomatsu.


Kreek... Tomatsu membuka pintu kamarnya.


"Haawhh..." Ia menutup mulutnya yang menguap. "Oh, pagi Esema-kun."


Darren memiringkan badannya untuk mengintip ke dalam kamar Tomatsu.


"Benar-benar berantakan," Mata Darren mendatar saat melihat dalamnya. "Kau itu perempuan bukan sih?"


"Hehe, aku terlalu malas untuk merapikannya. Ya nanti juga toh kita pergi dari sini," Balas Tomatsu sambil cengar-cengir.


"Oh iya, bagaimana dengan Tora, ya?" Darren memalingkan kepalanya, kini matanya tertuju pada pintu kamar Tora. "Ku harap ia tidur nyenyak tadi malam."


Tok, tok, Darren mengetuk pintu kamar Tora.


"Tora, apa kau sudah bangun?" Darren memanggilnya dengan cukup keras agar terdengar. "Tora?"


Berkali-kali dipanggil, tapi tak ada satupun tanggapan yang keluar dari kamar itu. Seakan kamar itu memang tidak ada orangnya.


"Apa dia masih tidur?" Gumam Darren.


Ia hendak menempelkan telinganya di pintu sampai ia tak sengaja menemukan kalau pintu itu tidak terkunci. Darren segera menerobos masuk untuk mengecek.


"Tora!?" Ia menoleh sana sini, tapi kamar itu kosong. Tak ada siapapun di sana, padahal ini adalah kamar Tora.


"Tora-kun?" Shiro ikut mencarinya, tapi hasilnya nihil.


"Aku akan coba cek di luar," Tomatsu langsung menghilang dan menyatu dengan udara.


Darren melihat ke sekeliling kamar. Kamar itu benar-benar tertata rapi, bahkan lebih rapi dari kamar Tomatsu yang merupakan seorang perempuan.


Jendelanya tertutup rapat dan terkunci. Kasurnya masih rapi, malah terlihat seperti tak disentuh sama sekali. Lemarinya juga masih terkunci, dan tak ada barang-barang disana.


"Aku tak menemukannya," Tomatsu kembali di hadapan Darren. "Tapi aku menemukan ini."


Darren langsung melihat ke arah tangan Tomatsu.


"Ini adalah jejak," Balas Tomatsu.


Darren agak bingung.


"Aku bisa merasakan aura Tora-kun pada lumpur ini. Kemungkinan kalau lumpur ini pernah berkontak langsung dengan Tora-kun. Seperti misalnya diinjak atau disentuh," Sambung Darren.


"Jadi, maksud mu... Tora memang pergi?" Ucap Darren, disusul oleh sebuah anggukan dari Tomatsu.


"Tapi kenapa? Apa ada yang menculiknya tadi malam?" Darren masih terlihat kebingungan.


"Sepertinya bukan. Jika ia memang diculik, seharusnya aku bisa mendeteksi aura lain oada lumpur ini. Tapi, hanya milik Tora-kun sajalah yang aku rasakan," Kata Tomatsu sambil menatap lumpur itu dengan teliti.


"Tapi, kemana ia pergi? Dan, kenapa?" Sambung Darren.


"Dia mungkin panik saat mendengar bahwa seorang Raja Iblis sedang memburu mu. Itu sudah menjadi insting alami bagi seorang manusia untuk terus bertahan hidup," Jawab Tomatsu.


Darren terlihat sedikit muram. "Aku bisa memaklumi itu sih, tapi apa ia bisa bertahan seperti itu?" Ucapnya. "Aku takut kalau ia kabur tanpa persiapan, dan malah tertangkap oleh musuh."


"Jika musuh sampai menangkapnya dan menjadikannya sandera, kita akan sangat kerepotan," Sambung Tomatsu.


"Apa kau tahu ke arah mana ia pergi?" Darren mengangkat wajahnya.


"Ada kerajaan yang cukup dekat dari sini. Aku bisa merasakan jejak aura-nya menuju ke sana," Jawab Tomatsu. "Tapi, jejak aura yang lemah tidak akan bertahan lama. Jika kita tak segera menemukannya, maka jejak itu akan hilang."


Darren langsung menegas, "Ayo cepat, kita tak punya banyak waktu. Kita harus menemukan Tora!"


Pada pagi itu pun juga, Darren mengubah rutenya ke Noordoos menjadi ke kerajaan dekat situ.


Vertrag, kerajaan tetangga yang terletak di utara Friedlich. Mereka adalah kerajaan perdagangan, dan kebanyakan keluarga kaya nan terpandang berasal dari sana.


Kerajaan itu memiliki hubungan sekutu yang luas dengan kerajaan-kerajaan sekitar, termasuk Friedlich, Noordoos, dan juga Erobernesia.


Sebagian besar wilayah situ sudah menjadi kota yang megah karena perkembangan ekonomi mereka yang sangat pesat. Itulah kenapa kerajaan-kerajaan lain jadi tertarik untuk menjalin hubungan diplomasi dengan Vertrag, karena sangat menguntungkan.


Untungnya Darren sudah membaca banyak di perpustakaan, jadi ia sedikit mengetahui keadaan disana.


Ia bersama Tomatsu dan Shiro, berjalan menuju Vertrag sambil menarik kuda mereka.


Darren jadi berpikir yang aneh-aneh. Ia takut kalau keselamatan Tora jadi terancam dan malah membahayakan dirinya sendiri.


"Dasar Tora, merepotkan sekali. Apa dia tidak tahu kalau kita sangat mengkhawatirkannya?" Gerutu Darren sambil mempercepat langkahnya. "Seharusnya ia bilang saja kalau ia ingin pergi. Tidak usah menyusup seperti itu."


Shiro menatap raut wajah Darren yang terlihat gelisah. Wajah majikannya terlihat sangat berbeda saat keadaan seperti ini. Berbeda dengan tadi malam, saat ia menasehati Shiro dengan wajah tersenyum.


"Darren-sama..." Ucapnya pelan. Ia malah lebih mengkhawatirkan kondisi Darren yang sangat tertekan.


Saat mereka sudah semakin mendekat ke Vertrag, tiba-tiba Tomatsu mengangkat salah satu tangannya, menandakan agar Shiro dan Darren untuk berhenti.


"Berhenti!" Ucapnya, tapi pandangannya mengarah ke arah lain. "Ada yang datang."


Darren segera bersiap mengeluarkan pedang hijaunya. Ia berdiri membelakangi Shiro untuk saling menjaga kedua sisi.


Tak lama kemudian, terdengar suara tapak kaki yang terdengar cukup keras. Benar saja, muncul seorang pemuda dengan masker yang menutupi setengah wajahnya sedang berlari pontang panting ke arah mereka.


"Siapa dia?" Gumam Darren. "Dia seperti dikejar sesuatu."


Tiba-tiba terdengar suara agak jauh dari belakang.


"Hentikan dia!" Suara itu terdengar seperti suara keramaian.


Darren menoleh ke sana sini. Ia berpikir dengan apa yang terjadi.


.


.


.