
Clara meneruskan aksinya. Ia terus menerus menyirami Darren dengan api yang tak terukur panasnya.
Clara begitu serius dengan apa yang ada di depannya, hingga ia tak mempedulikan sekitarnya lagi.
Ia sangat percaya diri bahwa tak ada yang akan mengganggunya. Lautan api yang mengelilinginya pasti akan menahan yang lainnya untuk ikut campur. Sedangkan Bagus bukanlah ancaman.
Tapi kepercayaan diri itu yang membuatnya terlena. Ia terlalu menyepelekan kemungkinan kecil dan menganggapnya tidak penting. Di saat itulah ia membuat kesalahan fatal.
Tangannya berhenti menyemburkan api. Matanya melotot lebar, sambil perlahan menoleh ke bawah.
"I-Ini..." Ucap Clara terkejut.
Sebuah pedang perak yang berlumuran darah, telah menembus dadanya dari belakang.
Clara melirik ke belakang dan melihat Bagus dengan tangannya menghunuskan pedang tersebut.
"K-Kau, sudah sadar?" Ucap Clara merintih. Ia kemudian mencoba mematahkan pedang tersebut, namun entah kenapa tangannya tidak bisa.
Ini kejadian yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, dimana Clara dengan mudah mematahkan pedang zamrud Darren dengan sekali remas.
"Perak," Kata Bagus. "Logam yang dianggap suci karena dipercaya merupakan penjelmaan dari berkat sang Dewa."
Wajah Clara langsung panik. Ia sebelumnya tak menyadari kalau ternyata pedang itu terbuat perak.
Sementara itu, Shiro menyaksikan dari jauh.
"Emangnya kenapa kalau pedang itu dari perak?" Tanya Shiro.
Tora menjelaskan. "Perak merupakan senjata paling mematikan bagi ras monster. Logam tersebut dipercaya mengandung kekuatan ilahi pemberian dari Dewa. Bagi manusia, pedang tersebut memiliki ketajaman dan kekuatan yang sama seperti pedang pada umumnya. Namun bagi monster, pedang itu bagaikan kutukan dari para Dewa untuk memusnahkan mereka."
Mendengar itu, Hain menoleh pada Shiro. Ia teringat bagaimana Shiro menyelamatkan dirinya dari tujaman pedang itu sebelumnya.
"Andaikan kau tak menyelamatkan ku waktu itu, mungkin aku sudah mati sekarang," Ucap Hain pada Shiro. "Terimakasih."
Shiro hanya membalas dengan senyuman kecil sambil mengangguk. Ia merasa senang bisa menolong.
Kembali kepada Bagus. Ia menyadari kalau pedang peraknya memberi luka yang cukup berefek pada Clara. Ini tentu adalah hal yang tidak bisa dilakukan dengan mudah dengan senjata lain.
Ia segera menarik pedangnya dan mengayunkannya kepada kaki Clara. Memberikan luka gores yang lebar dan membuat Clara jatuh berlutut.
Bagus segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelamatkan Darren.
"Esema!" Ucap Bagus seraya menghampirinya.
Nampak sebuah kain berwarna merah gelap menutupi sekujur tubuh Darren. Kain itu sendiri sudah hangus separuhnya. Yang dimana membuat Bagus sedikit terkejut.
Ia segera menarik kain tersebut dan melihat Darren sedang terkapar dengan asap yang mengepul dari sekujur kulitnya.
Darren menoleh, menyadari seseorang datang kepadanya. "Bagus, kau sudah bangun!" Ucapnya sedikit kaget bercampur rasa bersyukur.
Bagus sedikit menunduk. Ia membuka mulutnya dengan berat. "Ya. Simson mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan ku," Kata Bagus dengan nada sedih dan menyesal.
Mata Darren langsung melotot. Ia kemudian ikut menundukkan wajahnya.
"Begitu ya. Ia menghancurkan batu sihir itu seorang diri," Ucapnya.
Bagus mengangguk. "Ini salah ku."
"Tidak. Aku yakin kalau ini memang keinginan Simson sendiri," Ucap Darren. "Ia bukanlah orang yang melakukan sesuatu tanpa berpikir. Kau pasti sudah tahu itu."
Bagus menyeka matanya. "Ya. Maka karena itu, aku tidak mau menyia-nyiakan pengorbanannya."
Darren beranjak berdiri. Ia menyapu abu yang terbakar gosong dari tangannya.
"Sebenarnya, bagaimana kau bisa bertahan dari api tadi?" Tanya Bagus.
Darren menatap ke kain hangus yang tadi Bagus buang.
"Kain itu adalah jubah spesial ku," Ucap Darren sambil menunjuknya. "Aku memasang skill fire immunity pada jubah itu. Tapi nampaknya nampaknya masih terlalu lemah untuk menahan serangan tadi secara keseluruhan. Sungguh, Raja Iblis Sejati memang berada di level berbeda!"
"Tunggu-- Raja Iblis Sejati?" Ucap Bagus kebingungan. "Yang kau maksud adalah Clara?"
"Ya. Nanti akan kuceritakan semuanya. Sekarang kita harus mengalahkan Clara dulu untuk bertahan hidup."
"Baiklah."
Darren mengeluarkan pedang zamrudnya, sementara Bagus berdiri di sampingnya sambil mengacungkan pedang peraknya.
Mereka berdua memasang kuda-kuda seraya menjaga pandangan mereka pada Clara yang sedang meregenerasi diri.
Luka yang menembus dadanya pun sudah nampak membaik, namun kelihatan kalau Clara masih bisa merasakan rasa sakitnya.
"Dasar merepotkan. Mau menyelamatkan dunia saja susah banget," Ucap Clara sambil memegangi dadanya. "Aku tak menduga akan mengatakan ini setelah mengabaikan Bagus sebelumnya. Tapi, aku harus menjaga jarak darinya. Pedangnya jelas sangat berbahaya bagi ku."
"Itulah yang pasti ia pikirkan sekarang," Bisik Darren kepada Bagus, mengatakan hal yang sama persis seperti yang Clara pikirkan. "Maka dari itu, aku akan membuat rencana."
Ia lanjut berbisik, meninggalkan Clara dalam posisi menatap mereka dengan curiga.
"Ia pasti akan berpikir untuk menyerang ku dengan pedang perak itu," Ucap Clara dalam hati, mencoba menebak apa yang Darren pikirkan.
"Dan itu pasti yang sedang ia pikirkan sekarang," Bisik Darren lagi. Ia benar-benar menebak semua perkiraan Clara. "Kita bisa memanfaatkan psikologi terbalik dalam situasi ini. Saat Clara berusaha menghindar dari pedang perak mu itu, ia akan menjadi lebih lengah saat melihat pedang zamrud ku. Kita bisa menggunakan itu."
"Tapi bukannya tidak ada pedang lain yang bisa melukainya selain pedang perak?" Balas Bagus berbisik.
Darren menyeringai. "Tenang saja. Aku sudah menyiapkan rencana brilian."
Mereka berdua saling meletakkan tangan mereka di pundak satu sama lain sebelum akhirnya mereka menghentikan diskusi mereka.
Mereka berbalik menghadap Clara dan melihatnya memasang kuda-kuda waspada yang lebih ketat dari sebelumnya.
Darren dan Bagus melirik ke satu sama lain dan menganggukkan kepala mereka bersamaan. Disaat itu juga, mereka langsung bergerak ke arah Clara dengan pedang di tangan masing-masing.
"Mereka datang," Clara memperkokoh posisinya.
Ia kemudian merentangkan tangannya secara menyerong ke bawah dan menarik sebuah rantai dari dalam tanah.
Rantai itu begitu panjang. Dan saat ujungnya ditarik keluar dari tanah, sebuah bilah sabit terdapat menggantung di ujung rantainya.
"Akan kugunakan senjata pamungkas ku," Ucap Clara seraya maju menghadapi mereka.
Darren maju berlari mendahului Bagus. Kini ia kembali berhadapan dengan Clara.
"Speed! Strength!" Darren merapal mantra pada dirinya sendiri. Dengan begitu, kecepatan dan kekuatan fisiknya akan meningkat.
Ia segera menebaskan pedang hijaunya. Ia mengarahkannya ke wajah Clara.
Dengan gerakan penuh tenaga dan kekuatan, Clara menarik rantainya dan menggunakan sabit di ujungnya untuk menangkis serangan Darren.
Setelah menangkisnya, Clara langsung membentuk gerakan melingkar pada rantainya. Rantai tersebut langsung melingkar di udara dan melilit Darren.
"Akan ku bakar kau!" Teriak Clara. Ia kemudian hendak mengalirkan mantra apinya.
Namun sebelum sempat melakukannya, Bagus muncul di sampingnya dan mengayunkan pedangnya.
Sesuai dugaan Darren. Clara langsung menghentikan niatnya sebelumnya dan memfokuskan pandangannya ke arah pedang perak Bagus.
Ia menarik rantai yang melilit Darren dan segera menggunakannya untuk menangkis pedang perak Bagus. Ini lah yang Darren rencanakan sedari tadi.
Slassh! Logam perak yang mengkilap, beradu dengan logam merah yang menyala-nyala. Clara berusaha menahan serangan Bagus sekuat tenaga. Untungnya, luka yang masih membekas di dadanya cukup menghambat pergerakannya.
Sadar bahwa Clara sedang lengah, Darren segera memanfaatkan kesempatan itu.
"Rasakan ini. Ini adalah salah satu jurus yang ku dapatkan dari teman ku!" Teriak Darren.
Darren hanya menyatukan kedua telapak tangannya. Mulutnya bahkan tak bergerak sama sekali, namun mendadak sebuah duri es muncul dari dalam tanah. Duri es itu melayang ke udara dan terbang ke arah Clara.
Melihat Darren melancarkan serangannya, Bagus segera mundur dari situ. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan duri-duri es itu menujam Clara dari dekat.
Wajah Clara sangat syok. Tentunya ia merasa familiar dengan jurus es yang satu ini.
Perlahan, duri es yang menancap di tubuhnya mulai membentuk kristal es yang merambat menuju sekujur tubuh Clara.
Tapi Clara dengan cepat menghentikannya dengan mencabut duri es tersebut dan menghancurkannya.
"Jurus ini, kenapa sangat familiar," Ucap Clara
Clara menggerakkan tangannya. Ia melemparkan sabitnya ke arah Bagus dan berniat untuk membunuhnya duluan.
"Apapun itu. Jurus es tadi tidak akan bisa membunuhku dengan mudah. Tapi pedang perak itu bisa. Aku harus menghancurkannya," Ucap Clara dalam hati.
"Aku paham sekarang. Darren akan mencoba terus menyerangku, sementara Bagus akan menyelinap dari belakang dan menyerangku secara mendadak."
"Kau memang cerdik, Darren-kun. Kau tahu kalau pengalaman bertarung mu lebih tinggi daripada Bagus, jadi kau menggunakan diri mu sendiri sebagai umpan."
"Tapi sayangnya, itu sudah tidak masalah lagi!"
Bagus terkejut. Matanya ketakutan melihat Clara langsung mengincar tepat ke arahnya.
"Gawat!" Teriak Bagus. Ia menarik pedangnya ke depan dan mencoba menangkis sabit Clara.
Tapi arah lontaran sabit itu mendadak berubah ditengah udara. Sabit itu berbelok dan hendak mengitari tubuh Bagus.
Tapi Darren langsung tiba di depannya dengan kecepatan tinggi. Ia menggunakan pedang hijaunya untuk menangkis serangan sabit itu dan melindungi Bagus.
"Cih, mereka sangat merepotkan kalau bersama," Gerutu Clara.
Darren langsung menerjang kembali. Ia merapal mantranya, "Curse of Binding!"
Tubuh Clara tidak dapat bergerak layaknya diikat oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Bagus, cepat maju!" Teriak Darren.
Bagus melangkahkan kakinya. Dipegangnya pedang itu secara horizontal dan maju dengan teriakan yang mengiringi.
"Hyaaa!" Ia bermaksud menikam Clara secara langsung.
"Lemah!" Teriak Clara. Ia langsung mendobrak mantra Darren dan menciptakan ledakan di sekitarnya.
Bagus terlempar ke udara.
"Rematerialize!" Darren berteriak. Di ubahnya susunan materi di udara menjadi benda padat sehingga dapat dipijak oleh Bagus di atas udara.
Clara mengangkat wajahnya. Ia mulai memancarkan aura yang sangat menekan, hingga membuat Darren dan Bagus merasa mual.
Bahkan Shiro dan yang lainnya, yang berada cukup jauh dari situ, nampak sempoyongan karena ikut merasakan aura menekan itu.
"Hawa berat ini," Ucap Bagus merintih, sembari memegangi perutnya.
"Bagus, bertahanlah. Ini hanya strategi nya untuk melemahkan kita," Ucap Darren sambil menengok ke atas.
Clara berjalan perlahan. Matanya berbahaya dipenuhi api yang meluap-luap.
"Kalian berdua mulai membuat ku kesal. Kenapa kalian tidak menyerah saja dan biarkan aku menyelamatkan dunia ini?" Ucap Clara.
"Karena kami tidak mau mati!" Jawab Bagus dengan singkat dan padat.
"Siapa juga yang peduli. Kami hanya mau hidup dan kembali ke dunia asal kami!" Sambung Darren.
Clara menggerakkan giginya. "Dasar keras kepala."
Clara dengan cepat menerjang ke arah mereka. Lantai yang ia tapaki pun berubah menjadi lantai lahar.
"Ia datang, Bagus!" Ucap Darren memberi aba-aba.
Bagus bergerak di udara, seraya Darren menyiapkan tapakan kaki untuknya. Sementara Darren berlari di tanah seraya mencoba untuk memprediksi pergerakan Clara selanjutnya.
Clara secara langsung mengincar tempat yang lebih tinggi. Tempat dimana Bagus berada.
"Sesuai dugaan ku!" Ucap Darren. Ia sudah menebak bahwa Clara pasti akan mengincar Bagus karena pedang peraknya.
Clara meluncurkan rantai api ke arah Bagus. Rantai api itu meluncur dengan cepat dan berniat menghancurkan kepala Bagus.
"Ice Wall!" Darren menciptakan tembok es di hadapan Bagus. Membuat rantai itu tak dapat menyentuhnya.
Darren menciptakan pijakan di udara dan mulai naik ke atas. Ia dan Bagus pun melompat bersamaan untuk menyerang Clara secara langsung.
"Jadi kalian berdua datang langsung kepada ku?" Ucap Clara dengan seringai di wajahnya.
Clara memegang sabitnya, dan mulai membalas serangan mereka berdua dengan cepat.
Mereka bertiga saling beradu serangan secara terus menerus. Namun dari hal itu, nampak sebuah pola yang dimana menunjukkan bahwa Clara menjadi sangat waspada ketika Bagus mengayunkan pedangnya.
"Terima ini, Clara!" Darren berteriak, pedangnya pun siap dihunuskan ke arah tubuh Clara.
Tapi Clara melihat celah dalam pergerakan Darren. Ia pun dengan tangan kosong memukul Darren dan membuatnya terlempar agak jauh.
Karena Darren kehilangan konsentrasinya, Bagus menjadi kehilangan pijakannya di udara. Menyebabkannya ikut terjatuh.
Gubrak! Bagus terjatuh langsung ke tanah. Ia berusaha berdiri dan melihat Darren tergeletak cukup jauh darinya. Ia nampak tak sadarkan diri.
"Esema!" Panggil Bagus, namun tak ada respon.
Bagus langsung berlari hendak menghampirinya. Tapi sebelum ia sampai, sebuah lautan api membentang di tengah-tengah mereka.
"Akhirnya kalian terpisah juga. Saat bersama, kalian sangat merepotkan," Ucap Clara, berdiri di belakang Bagus.
Bagus langsung berbalik dan mengayunkan pedangnya tanpa ragu. Tapi Clara menghindarinya dengan mudah.
"Kau pikir pengalaman bertarung mu yang minim itu dapat mengalahkan ku?" Ucap Clara.
Saat hendak mengayunkan kembali pedangnya, Bagus tiba-tiba diserang oleh sejumlah rantai api yang muncul dan memblokir pergerakannya.
"S-Sial. Aku tidak bisa bergerak. Dan rantai ini... panas sekali," Gerutu Bagus.
Clara melemparkan sabitnya dan mengenai pedang perak yang Bagus pegang. Membuatnya menjatuhkannya ke tanah.
"Tanpa pedang ini, kau tidak punya kesempatan untuk melukai ku," Ucap Clara sambil berjalan mendekat.
Ia melirik ke pedang tersebut dan menuangkan lahar panas ke atasnya.
"Untuk berjaga-jaga, akan ku hancurkan pedang ini," Sambungnya, sementara Bagus menyaksikan dengan wajah penuh teror.
"Pedang ku!" Teriaknya.
Kelihatan kalau pedang itu telah meleleh. Membuat Clara menyeringai lebar karena ancaman utamanya telah musnah. Kini tak ada yang bisa menghentikannya.
"Maafkan aku Bagus-kun, tapi aku harus melakukan ini," Ucap Clara sambil mengangkat sabitnya. "Aku tahu ini terdengar tidak adil. Tapi kau harus mengerti, bahwa kematian mu adalah sebuah pengorbanan penuh hormat. Akan ku pastikan bahwa nama mu akan terukir dalam sejarah sebagai penyelamat dunia."
Bagus tiba-tiba tertawa kecil dan menatap ke arah Clara dengan senyuman di wajahnya.
"Bagaimana kalau kita ubah saja sejarah itu?" Ucap Bagus.
"Apa maksud mu?" Clara membalas sambil mengernyitkan dahi.
"Yah, kau tahu. Kita bisa ubah ceritanya menjadi lebih bersahabat. Dimana pahlawan yang seharusnya mengorbankan diri, menemukan solusi lain dan tetap menyelamatkan dunia," Sambung Bagus. "Dengan begitu, sang pahlawan itu sendiri bisa menceritakan sejarah tersebut secara langsung nantinya."
Clara tertawa kecil mendengar perkataan Bagus. "Kau ini bicara apa sih," Ucap Clara. "Apa kau sangat ketakutan hingga otak mu mulai rusak?"
Bagus membalas tawa Clara dengan seringaian. "Ah, tidak. Aku hanya ingin memberitahu bahwa pahlawan itu sekarang sedang berada di belakang mu."
Clara awalnya menganggap itu sebagai gurauan. Namun wajahnya langsung mengeras saat melihat Darren sudah tidak ada lagi di balik lautan api itu.
Sesegera mungkin ia menoleh ke belakang. Benar saja, Darren sudah muncul di sana dengan pedang yang siap diayunkan.
"B-Bagaimana bisa? Aku tidak melihatnya bergerak sama sekali," Mata Clara melotot penuh ketidakpercayaan. "Tunggu-- ini pernah terjadi sebelumnya, saat latihan. Ia bisa bergerak dengan sangat cepat tanpa menimbulkan suara gerakan sama sekali. Mungkinkah ini... teleportasi?"
Namun Clara langsung menyadari bahwa pedang di tangan Darren hanyalah pedang zamrud biasa. Memang pedang itu sangat tajam, tapi dengan kekuatan Raja Iblisnya, itu bukanlah masalah besar.
"Heh, dia masih berniat menyerang menggunakan pedang biasa itu? Pedang perak itu telah ku hancurkan. Tidak ada hal yang bisa melukai ku lagi "
Clara dengan cepat menangkap ayunan pedang Darren. Ia nampak percaya diri. Tapi ia tak pernah menduga bahwa sesuatu yang di luar dugaan akan terjadi.
Slash!
Pedang Darren memotong setengah telapak tangan Clara. Meninggalkannya dengan kondisi terluka dan penuh darah.
Clara terkejut bukan kepalang. Ia benar-benar kebingungan dan panik di saat yang bersamaan.
"Jari ku!" Teriak Clara, melihat jari-jemarinya berjatuhan ke lantai.
Ia melihat ke pedang Darren dengan kebingungan. Sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu yang janggal.
"Pedang itu adalah pedang biasa. Bagaimana jariku bisa terpotong?" Ucapnya. "Mungkinkah, ia melapisi pedangnya dengan perak. Tapi bagaimana?"
"Benar sekali," Sahut Darren. "Mantra Rematerialize. Aku mengubah lapisan terluar pedang ku menjadi perak. Aku hanya mengubahnya dengan ketebalan yang tipis agar warna hijaunya tidak hilang. Dengan begitu, aku bisa mengelabui mu."
Clara menggertak giginya. Kesenangannya menghilang begitu saja dan kini ia dipenuhi rasa jengkel sekaligus khawatir.
"Sialan. Aku dikelabui dengan mudahnya," Gerutu Clara. "Darren adalah petarung yang cukup merepotkan. Jika ia menggunakan pedang peraknya untuk melawan ku, aku mungkin akan terluka parah sekalipun aku menang."
.
.
.
To be continued...