
"Shiro," Tora mengenakan jubahnya dan berdiri di dekat pintu tenda.
"Ada apa, Tora-kun?"
"Aku akan pergi mencari bahan makanan," Ucap Tora sambil menapakkan kakinya keluar di udara yang dingin. "Kau tetaplah disini. Untuk berjaga-jaga jika Esema-sama kembali."
"Baiklah," Shiro mengangguk.
Tora pun pergi meninggalkan Shiro sendirian.
Shiro menarik nafas malas. Ia bersender dengan tangannya, dan menatap ke dalam kekosongan. Ia menggumam dengan wajah kosong, dan menggerak-gerakkan telinganya tanpa alasan.
"Darren-sama, kemana ia pergi?" Gumamnya. "Sudah berapa hari tapi ia belum kembali. Apa ia ada urusan mendadak?"
Shiro menghela nafas panjang. Ia memperbaiki posisi duduknya sambil memandang langit-langit.
"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan manusia sepertinya," Ucapnya berbicara sendiri. "Padahal ia adalah Tuan kami, tapi entah kenapa ia akrab dan memperlakukan kami seperti teman."
"Ia sangat rendah hati dan tak ragu untuk menolong monster. Sungguh unik."
Gumamannya langsung berhenti saat tiba-tiba seseorang muncul dari pintu. Saat melihatnya, ternyata itu bukan Tora, melainkan seseorang dengan penutup kepala, dan beberapa orang bersamanya.
Shiro langsung kaget dan berdiri. Ia mengambil posisi bertarung, sama persis yang telah Darren ajarkan padanya.
"Siapa kalian?" Shiro bertanya sambil waspada. Sebelumnya, Darren memberitahunya bahwa ia tak boleh sembarang menyerang orang, kecuali terancam. "Apa mau kalian disini?"
Kerumunan orang itu hanya diam tanpa jawaban. Orang berkerudung mulai mengeluarkan sebuah pedang dari tangannya dan mengacungkannya pada Shiro.
Shiro terkejut dan melompat ke belakang untuk menjaga jarak. Tapi mereka sedang berada di dalam tenda, maka pertarungan jarak dekat mungkin bisa terjadi.
Orang itu mengayunkan pedangnya ke arah Shiro dengan cepat. Shiro menghindar walau agak sulit karena tempat itu sempit.
"Aku harus membawa orang ini keluar, atau aku takkan diuntungkan. Tapi masalahnya, teman-temannya menjaga pintu tenda. Aku tak bisa keluar," Pikir Shiro.
Shiro mengacungkan tangannya ke depan, ke arah orang itu. Sambil berkonsentrasi, ia mulai merapalkan mantra yang pernah ia coba sebelumnya bersama Darren.
"Ice Elemental: Icicle Dart!" Ucapnya. Jarum-jarum es muncul dan meluncur ke arah orang itu.
Tapi ia dengan mudah menangkis semuanya dengan pedang. Ia sangat santai seakan-akan serangan tadi tak berarti apa-apa.
Shiro semakin panik. Ia merasa kalau musuh yang ia hadapi berada di level yang lebih tinggi darinya. Tapi ia ingat salah satu hal yang Darren ajarkan.
"Jangan maju jika kau yakin kau akan kalah. Karena kemenangan dengan mengandalkan keberuntungan tidak akan menghasilkan apa-apa."
"Kau harus memahami kekuatan mu dan kekuatan musuh. Jika musuh lebih kuat, ciptakanlah beberapa skenario. Rencanakan aksi mu dan bersiaga untuk mengantisipasi aksi musuh."
"Perhitungkan setiap faktor yang menguntungkan dan tidak menguntungkan untuk setiap skenario."
"Setidaknya itu yang dikatakan Sun Tzu"
Shiro kembali fokus ke pertarungan. "Aku tak tahu siapa itu Sun Tzu, tapi apa yang Darren-sama ajarkan pada ku sangat berguna."
"Aku harus gunakan cara lain!" Ucap Shiro pada dirinya sendiri. "Cara yang bisa mengimbangi kekuatannya."
Shiro menoleh ke sekitar dan melihat sebuah ember penuh air di dekatnya. Ia langsung mengambilnya dan melemparkan isinya ke arah orang itu.
Byurr!! Pakaian orang itu basah kuyup.
"Ice Elemental: Froze!" Shiro melemparkan sihir es ke orang itu.
Pakaian yang basah seketika langsung membeku. Orang itu terpaku diam tak bisa bergerak. Shiro merasa puas melihat itu, dan langsung meluncurkan serangan lagi.
"Baguslah, ini kesempatan ku untuk mengalahkannya!" Shiro langsung merapal mantra selanjutnya. "Ice Elemental: Icicle Dart!"
Tapi sebelum serangan itu meluncur, orang itu tiba-tiba ikut merapal mantra.
"Fire Elemental: Heat Wave," Ucap orang itu melelehkan es di bajunya dan ia pun terlepas dari es tersebut.
Ia kembali menggenggam pedangnya dan memblokir jarum-jarum es Shiro seperti sebelumnya. Setelah itu, ia membalasnya dengan serangan lain.
"Non-elemental Spell: Speed!"
Ia bergerak dengan cepat, walau sedang berada di tempat sempit. Ia bergerak langsung ke arah Shiro dan menggenggam pergelangan tangannya.
Grabb!!! Ia kemudian mendorong dan menempelkan pedangnya di leher Shiro, tapi tak menggoresnya.
Shiro tak bisa bergerak. Bukan karena orang itu, tapi karena ia tak sanggup. Ia terlalu takut, dan pikirannya mulai panik.
"Shiro!" Tora tiba-tiba masuk, menjebol dari atap tenda dan mendarat tepat di antara Shiro dan orang tersebut. Orang tersebut pun melepaskan Shiro dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Shiro, kau tak apa?" Tanya Tora sambil waspada.
"Y-ya, aku tak apa. Terimakasih Tora-kun," Jawab Shiro kembali sadar.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ada disini?"
"Aku tak tahu. Mereka tiba-tiba datang dan menyerangku."
Shiro dan Tora kembali menatap ke orang itu. Ia terlihat santai sekali, seakan menunggu mereka menyerang duluan. Mengayunkan pedangnya dengan main-main, dan terasa menatap mereka, walaupun wajahnya tertutup kerudung.
Tora tiba-tiba berbisik di telinga Shiro. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu. Sementara orang itu tidak terlihat risau dengan apa yang mereka rencanakan.
Shiro mengangguk-angguk, seraya Tora menjelaskan apa yang harus ia lakukan.
"Gunakan sihir es mu," Ucap Tora.
"Baik."
Tora dan Shiro kembali mengambil posisi. Mereka menatap orang itu, yang sudah mengayun-ayunkam pedangnya dengan santai.
"Non-elemental Spell: Slow!" Tora mengarahkan mantranya ke orang itu. Untuk berjaga-jaga agar ia tak menyerang mereka dalam jarak dekat. "Sekarang, Shiro!"
Shiro mengangguk sambil meluncurkan serangannya. "Ice Elemental: Icicle Dart!"
Jarum-jarum es muncul dan meluncur ke arah orang itu dengan kecepatan tinggi.
Orang itu sudah bersiap mengantisipasi serangan itu. Ia mengangkat pedangnya dan bersiap menebas setiap jarum itu.
Tapi...
"Wind Elemental: Wind Control!" Tora mengeluarkan sihir anginnya.
Seeett! Jarum-jarum es milik Shiro tiba-tiba berubah arah. Jarum-jarum itu berpencar dan menyerang dari segala arah. Kanan, kiri, depan, belakang, dan atas.
Orang itu berusaha menghindar, tapi gerakannya telah melambat. Tak ada pilihan lain, ia harus menebas semuanya dengan pedangnya.
Cling! Clang! Beberapa jarum berhasil di tebas, tapi itu masih kurang. Salah satu jarum meluncur dan mengincar kepalanya.
Orang itu terkejut. Ia menundukkan kepala untuk menghindar. Tapi jarum itu malah menusuk tudung kepalanya dan membukanya.
"Kalian sudah berkembang," Ucap orang itu sambil menunjukkan wajahnya, yang ternyata...
Ta-da!!!
"Esema-sama!" Ucap Shiro dan Tora serentak. Mereka meninggalkan posisi bertarung mereka dan menghampiri Darren.
"Oh, Esema-sama. Kami sudah menunggu mu," Ucap Shiro.
"Maaf, ya. Aku membuat kalian cemas," Balas Darren. "Ada sesuatu yang mendadak terjadi."
"Huff, ku kira tadi adalah orang jahat sungguhan," Ucap Tora.
"Maaf-maaf, aku hanya ingin membuat sedikit kejutan," Balas Darren. "Lagipula, aku juga ingin melihat sejauh mana kemampuan kalian. Dan ternyata kalian sudah berkembang."
Shiro pun menoleh ke kerumunan orang yang ada di belakang Darren. Mereka semua juga mulai melepas tudung kepala mereka.
"Lalu, siapa mereka? Esema-sama?" Tanya Shiro sambil menunjuk kerumun itu.
"Mereka adalah tentara Friedlich," Jawab Darren santai.
Shiro dan Tora sempat terkejut, tapi Darren menenangkan mereka. Ia menjelaskan bagaimana mereka bertemu dan bersekutu.
"Jadi, tentara Erobernesia memanfaatkan mereka untuk mengumpan mu?" Ucap Tora sambil merengutkan dagu. "Maaf jika aku lancang. Tapi, sebenarnya apa hubunganmu dengan Erobernesia?"
Darren tersentak. Ia lupa kalau Tora tidak tahu apa-apa tentangnya. Dalam hatinya ia berteriak-teriak: "Kamprett, aku lupa kalo dia itu jenius."
"Esema-kun adalah petinggi Erobernesia yang membelot," Ucap Akira tiba-tiba memotong. "Ia adalah orang dengan bakat istimewa. Oleh karena itu mereka mengejarnya."
"Oh, begitu. Aku paham. Terimakasih penjelasannya," Ucap Tora. "Dan anda... Kalau tidak salah anda adalah Si Hijau Zamrud, kan?"
"Ya, itulah aku," Jawab Akira. "Tuan mu, Dar-- Esema-kun memanggil ku Akira. Kau juga boleh memanggil ku begitu."
"Baiklah, Akira-san."
Akira pun berpaling kepada Darren. Ia menepuk pundaknya.
"Aku akan pergi melapor kepada jenderal," Ucapnya.
"Melapor tentang bagaimana Erobernesia memanfaatkan kalian?"
"Ya, walau aku benci mengakuinya. Tapi kami memang telah dimanfaatkan, itulah faktanya. Tapi kami juga bisa selamat karena mu, Esema-kun," Sambung Akira sambil melangkah pergi bersama pasukannya.
"Oh iya," Akira tiba-tiba berhenti sesaat untuk mengatakan sesuatu, "Jika besok pagi ada kereta kerajaan datang kesini. Jangan terkejut, ya. Itu adalah undangan langsung oleh Jenderal."
"Eh, kok bisa?"
"Aku akan melapor segalanya. Termasuk kemampuan hebat mu. Jika Jenderal tertarik, ia pasti akan mengundang mu untuk berbincang-bincang."
Darren mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Terimakasih."
Akira pun pergi meninggalkan kemah Darren sambil melambai.
"Hahh..." Darren menghembuskan nafas. "Benar-benar perjalanan di luar dugaan."
"Esema-sama," Shiro menghampiri Darren sambil membawa makanan. "Ini sudah malam, sebaiknya anda makan dulu."
"Ah, iya. Terimakasih, Shiro," Darren pun mengambil makanan itu dan duduk.
"Jadi dia itu Si Hijau Zamrud?" Sambung Shiro sambil duduk di samping Darren yang sedang makan.
"Ya," Jawab Darren singkat karena sedang mengunyah makanan.
"Aku tak menyangka kalau ternyata ia perempuan," Sambung Shiro.
"Ya, aku juga. Benar-benar tak terduga."
Tora pun ikut nimbrung dengan mereka. "Esema-sama, apa kita harus mewaspadai tentara Friedlich?" Tanya-nya.
"Sepertinya tidak perlu," Jawab Darren percaya diri. "Aku yakin kalau mereka tak akan mengusik kita. Dan malahan, mereka mungkin akan menjalin persekutuan dengan kita."
"Baiklah, aku mengerti. Esema-sama."
Darren beranjak dari duduknya dan memandang ke langit. Bintang-bintang bertebaran di gelapnya malam, dan cahaya bulan menerangi pemandangan kota dari jauh. Sungguh malam yang indah.
"Tora," Ucap Darren perlahan, "Ada sesuatu yang harus ke beritahu kepada mu."
"Apa itu, Esema-sama?"
Darren membalikkan wajahnya menatap Tora dengan serius. Ia menghampirinya dan meletakkan tangannya diatas pundak Tora.
"Ini sesuatu yang sangat penting," Ucapnya semakin misterius.
Darren langsung mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke atas.
"Atap tenda itu. Kau harus memperbaikinya," Ucapnya.
"Eh?"
"Ya ampun. Aku benar-benar tak menyangka kau akan terjun dari langit dan mendobrak atap dengan begitu mudahnya," Darren meletakkan tangannya di wajah. "Pokoknya, atap itu harus diperbaiki. Akan bahaya kalau kita tidur dan tiba-tiba hujan turun. Kau tidak mau kan, diguyur hujan saat sedang mimpi indah?"
"B-Baiklah, Esema-sama," Jawab Tora canggung.
Sementara Shiro senyam-senyum menyaksikan tingkah mereka berdua.
.
.
.
"Bos ku sangat unik, ya." ~Shiro, 2021~