Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tayushsneg, the Dungeon of Death


Langkah demi langkah, Darren dan teman-temannya berjalan dari Friedlich menuju Pegunungan Erfroren tanpa menggunakan kendaraan.


Setelah empat jam berjalan, mereka akhirnya sampai di kaki pegunungan. Hawa dingin yang tajam mulai menusuk paru-paru mereka.


Tomatsu mungkin sudah sampai di dungeon itu dari tadi. Ia memang jagonya kalau soal menyusahkan orang. Tapi, mungkin ia memang punya niat baik. Hanya saja caranya yang berlebihan.


"Tora, apa kau tahu jalannya?" Tanya Darren.


Tora mengangguk. "Tentu saja, Esema-sama. Aku pernah sekali melewati pintu masuk dungeon itu," Jawabnya. "Kalau tidak salah, seharusnya lewat sini."


Mereka berjalan menyusuri sebuah jalan kecil dengan dua buah gunung yang berdiri di kedua sisi jalan. Mereka berjalan tepat di tengah-tengah dan itu bisa saja beresiko karena salju yang terkumpul bisa saja jatuh kapan saja dan menjadi longsor.


Darren sudah bersiaga untuk apapun yang terjadi. Jika longsor benar-benar turun, maka Darren sudah siap dengan sihir tanahnya.


"Tora, apa kita sudah dekat?" Tanya Darren lagi setelah berjalan agak jauh.


"Sudah. Kita hanya perlu melewati gunung di dep--" Tora menghentikan kalimatnya saat melihat longsoran salju telah menutup jalan.


Banyak pohon bertumbangan dan salju yang tebal memblokir jalan hingga membuatnya tak bisa di akses. Pilihan mereka adalah kembali dan mengambil jalan memutar.


"Bagaimana ini, Esema-sama? Apa kita akan mengambil jalan memutar?" Tanya Tora menunggu perintah dari Darren.


Darren menggeleng. "Aku sudah lelah berjalan. Kaki ku pegal," Jawabnya. "Aku tidak mau berjalan lebih jauh lagi."


Tora meneruskan, "Lalu, apa kau akan melelehkan salju-salju itu dengan api dan membuka jalan?"


Darren menggeleng lagi. "Tidak. Hal itu sangat beresiko, mengingat ada dua buah gunung yang menghimpit kita," Balas Darren. "Jika kita salah perkiraan, maka salju di sisi gunung ini akan ikut runtuh."


Hal ini tak terpikirkan oleh Tora. Ia kagum dengan bagaimana Tuan-nya bisa berpikir satu langkah ke depan sebelum melakukan sesuatu.


"Sesuai yang ku harapkan dari mu, Esema-sama. Kau sangat hebat," Puji Tora.


Darren hanya membalas dengan senyuman simpul dan kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah tumpukan salju itu.


"Earth Elemental: Geological Creation!"


Darren membentuk sebuah jembatan kecil yang terbuat dari batu melewati longsoran itu. Untuk memastikan agar tidak timbul longsor lainnya, ia membuat dua buah tembok di setiap sisi jalan.


"Nah, dengan begini kita bisa lewat," Ucap Darren sambil menatap jembatan buatannya.


Tora memandangi Darren dengan rasa kagum. Pola pikir Darren yang selalu berpikir dua kali dan kekuatan sihirnya yang hebat, membuatnya menganggap Darren lebih dari sekedar majikan.


"Hebat."


Mereka bertiga akhirnya sampai di mulut dungeon. Pintu dungeon yang sudah terbuka setengah, menandakan bahwa seseorang mungkin sudah pernah menjelajahi tempat ini.


"Sepertinya Tomatsu sudah masuk," Ucap Darren sambil mengintip ke dalam dungeon yang gelap, "Kita akan masuk juga. Pastikan kalian hati-hati."


Dungeon itu sudah terkenal di kalangan para petualang. Banyak petualang yang menghilang di dalam dungeon itu sehingga membuat dungeon itu menerima nama 'Tayushsneg". Walaupun entah apa artinya.


Banyak rumor beredar bahwa dungeon itu merupakan rumah dari makhluk mistis pemakan jiwa manusia. Ada juga yang bilang bahwa ada seorang Raja Iblis yang tinggal di dalamnya walau tak pernah menunjukkan diri.


Tapi apapun rumornya, sekarang dungeon ini hampir tak pernah di sentuh sama sekali. Guild petualang juga melarang adanya ekspedisi untuk mengurangi jumlah korban.


Tapi Darren terlihat biasa saja walau ia juga merasakan hawa mencekam itu.


"Esema-sama, apa kau tidak merasakan hawa aneh?" Tanya Tora sambil merasakan rasa merinding yang luar biasa.


Darren hanya menjawab dengan datar. "Aku merasakannya, tapi hawa seperti ini tidak akan mempan pada orang yang sudah pernah bertemu kuntilanak dan pocong."


Menyusuri dungeon lebih jauh, mereka mulai sadar bahwa makin lama, dungeon ini semakin masuk ke dalam tanah. Cahaya juga semakin minim walau beberapa lentera terlihat menggantung di sisi dinding.


Kesan gelap yang mencekam benar-benar menambah kesan angker pada tempat itu. Di tambah lagi suara-suara merdu yang dihasilkan oleh angin yang bertiup membuat mereka ketakutan.


"Tora, kau jalanlah di depan," Ucap Darren. Ia tidak bermaksud untuk kabur karena takut, tapi karena memang lebih mudah untuk mengawasi mereka dari belakang.


Tora hanya mengangguk dan menurutinya walau sebenarnya ia merasa sedikit takut.


Berjalan lebih dalam lagi, kini cahaya dari luar sudah benar-benar terhalang. Tak ada lagi cahaya yang masuk dan tempat itu gelap gulita. Mereka hanya bisa bergantung pada sihir Night Vision milik Tora.


"Non-elemental Spell: Night Vision!" Tora merapal mantranya.


Tora memimpin jalan, sementara Shiro di tengah dan Darren berjaga dari belakang.


Darren sudah bersiap untuk mengeluarkan pedang zamrudnya jikalau bahaya benar-benar datang.


Tapi, saat melewati sebuah ruangan, perhatian Darren teralihkan. Ia melihat sesuatu disana dan menghampirinya tanpa Shiro dan Tora mengetahuinya.


"Apa ini? Tulang?" Gumam Darren sambil melihat benda yang ia perhatikan sedari tadi. "Tapi tidak terlihat seperti tulang manusia. Sepertinya ini tulang babi hutan."


"Tapi, apa yang babi hutan lakukan di dalam sini? Bukankah tempat ini sangat jauh dari hutan?" Gumam Darren lagi. "Lagipula, Erfroren bukanlah habitat alami babi hutan."


Ia menggoreskan jarinya pada tulang itu.


"Dingin. Tulang ini berlapis es," Ia menarik tangannya kembali. "Sepertinya tulang ini sudah sangat tua, sampai-sampai membeku seperti ini. Es yang melapisinya juga terasa unik."


Darren langsung tersadar. Es yang ia pegang bukanlah es biasa. Ini terasa seperti es yang dihasilkan dari sebuah mantra.


Ia segera berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu. Ia bergegas menyusul Tora dan Shiro untuk memperingati mereka tentang ini, tapi...


Saat ia keluar, kedua rekannya itu sudah tidak ada. Sepertinya ia terlalu asik sendiri dan tertinggal.


"Ini bahaya!" Ucapnya. "Aku harus segera menemukan mereka!"


Darren dengan segera merapal mantra Thermography-nya dan mencari keberadaan dua orang itu dengan melihat tembus ke balik tembok.


Tapi, apa yang ia temukan lebih mengejutkannya lagi.


"Ada tiga sumber panas?" Ia melihat jauh ke dalam tembok. "Apa mereka sudah bertemu dengan Tomatsu?"


Tapi saat di perhatikan lagi.


"Kenapa mereka terlihat... sedang bertarung!?"