Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Jebakan


Tetapi, ketika aku menghadapi masalah yang lebih besar -- jauh lebih besar, tetap saja, aku takut Suci tidak bisa percaya, apalagi menerima dan memaafkanku.


Cobaan terberat dalam rumah tanggaku bersama Suci terjadi saat kehamilan Suci memasuki bulan ke-empat. Sore itu, aku masih berada di kantor, dan tiba-tiba ada sambungan telepon masuk dari resepsionis di lantai bawah kalau ada seorang perempuan bernama Sandra ingin bertemu denganku.


Lady? Ada keperluan apa?


"Bagaimana, Pak?" tanya Karin yang masih memegang gagang telepon.


Aku menganggukkan kepala. "Suruh menghadap saya," kataku.


"Baik." Karin langsung menyampaikan ke pihak resepsionis di lantai bawah untuk menyuruh perempuan itu menghadapku.


Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu ruanganku beberapa menit kemudian membuat Karin cepat-cepat berdiri dan membukakan pintu.


"Dengan siapa?"


"Saya Sandra."


"Oh, silakan masuk, Bu," kata Karin.


Dan, benar. Dugaanku tepat. Perempuan itu Lady, si wanita panggilan yang waktu itu dibawa Raymond ke kandang kuda. Aku tidak melupakan nama aslinya yang kutulis di selembar kertas cek yang waktu itu kuberikan padanya.


"Silakan duduk."


"Terima kasih, Tuan."


"Ada apa?"


Dia menoleh kepada Karin, lalu berpaling lagi ke arahku. "Bisa bicara berdua, Tuan? Saya... malu kalau ada yang... mendengar... soal ini.


"Baiklah. Kamu tolong keluar dulu, Karin."


Karin mengangguk paham, dan segera berlalu dari hadapan kami.


Dia melirik ke pintu, memastikan benda lebar berbentuk persegi itu benar-benar sudah tertutup. "Saya... saya mau pinjam uang. Emm... maksud saya, saya mau minta uang pada Tuan."


"Untuk apa? Memangnya uang dari saya waktu itu sudah habis?"


Dia mengangguk takut. "Salah satu anak saya ada yang sakit. Saya butuh uang banyak untuk penyembuhannya."


"Oh, saya ikut prihatin."


"Jadi... apa...?"


"Saya hubungi istri saya dulu, saya tidak bisa memutuskan hal ini sendiri."


Lady Sandra mengangguk lagi. Aku pun beranjak dari kursiku dan masuk ke ruang pribadiku. Di sana, aku menelepon Suci dan menceritakan yang sebenarnya. Mulai dari belenggu hasrat di kandang kuda waktu itu, hingga ke detik ini: perempuan itu datang ke kantorku dan menyampaikan permintaannya kepadaku.


"Tidak apa-apa, Mas. Berikan saja. Kasihan dia."


"Oke. Terima kasih. Kamu memang sangat baik."


"Sama-sama, Mas. Cepat pulang, ya. Aku kangen."


Tapi aku tak bisa pulang.


Saat aku membuka pintu, dalam kelebat cepat tanpa sempat aku menghindar, sebuah jarum suntik menyambar dan menusuk leherku. Aku terhuyung dan mendarat di lantai.


Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Tapi, saat aku tersadar, aku merasa tubuhku sangat lemah. Aku tidak bisa menggerakkan tangan dan kakiku. Dan... parah. Aku dalam keadaan polos tanpa kain sehelai pun. Aroma minyak kayu putih menusuk indra penciumanku dan percikan air membasahi wajahku: perempuan itu sengaja menyadarkan aku dari pingsan, namun juga memberiku obat yang membuat sebagian tubuhku terasa lumpuh. Bahkan, suaraku tak bisa bicara kencang. Tapi otakku masih bisa bekerja.


Aku marah, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Begitu aku membuka mata, selain tubuhku yang polos...


Lady ada di atasku -- sedang memakaiku, dengan tubuh yang sama polosnya denganku.


Murkaku adalah hal yang sia-sia. Aku bahkan tak bisa meneriakinya. Dikatakan pasrah pun tidak tepat. Sementara, sebuah kamera yang aktif sedang merekam adegan ranjang ini. Aku terperangkap dalam jebakan....