Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bagaikan Adam Dan Hawa


Tahan dulu. Sekarang waktunya makan dan menambah enegi. Dengan segera, kucuci tanganku, dan mulai makan dengan menggunakan jemariku secara langsung -- makan tanpa sendok. Jujur, dulu sekali aku pernah makan dengan cara seperti ini, tapi itu sudah lama sekali. Sekarang aku sudah terbiasa makan dengan menggunakan sendok dan garpu, ala-ala kelas atas -- sejak aku terjun ke dunia bisnis. Dan sekarang aku canggung. Tapi kurasa aku bisa menikmatinya. Terlebih ada makhluk cantik di depanku ini yang rambutnya dikuncur ke atas, yang makan dengan sambal ekstra pedas hingga membuatnya berkeringat, menyebabkan bulir-bulir bening keluar dari pori-porinya dan membuat area di sekitar dadanya jadi basah.


Ugh! Bagaimana hasratku tak terpancing?


"Kamu membuatku tidak fokus makan," protesku. Aku sulit memalingkan pandangan mataku dari keseksian tubuhnya yang berkeringat, terlebih pada dadanya. Seksi sekali. Sungguh menggoda.


Suci terkikik. "O ya? Karena ini?" Dia membusungkan dadanya yang seksi itu dan membuatku ikut berkeringat.


"Cepatlah makan kalau kamu tidak ingin kubuat kelaparan."


"Uuuh... kedengarannya asyik. Kamu juga, ya. Makanlah yang banyak supaya kamu punya tenaga yang ekstra."


"Terdengar seperti sebuah tantangan. Dan omong-omong tentang ekstra, apa itu maksudnya? Bisa jelaskan kepadaku?"


Suci enggan menanggapi pertanyaanku lebih lanjut, karena menurutnya aku sudah sangat paham tentang hal itu. Jadi, kuganti pertanyaanku dengan pertanyaan lain, "Kenapa kamu memilih bulan madu di sini? Padahal ada banyak tempat impian di luar sana yang digandrungi oleh para wanita?"


"Memang sih, ada banyak tempat yang menakjubkan di luar sana. Tapi tak ada kebebasan seperti yang aku impikan. Seperti saat ini, dunia yang seakan hanya milik kita berdua. Tak ada siapa pun." Ia tersenyum. "You know what, kita seperti Adam dan Hawa yang hanya hidup berdua. Menyenangkan, bukan?"


"Anggap saja begitu. Jadi bagaimana? Kamu suka, kan, berduaan denganku? Anggap saja rumah ini semacam villa dan kita sedang mendapatkan fasilitas pribadi di sini. Kita bebas mau melakukan apa saja. Bebas tanpa pengecualian sedikit pun."


Aku menyengir lebar. Kesenangan. "Bebas?"


"Yeah, tidak akan ada yang merecoki." Dia berdiri, memunguti peralatan makan yang kotor dan membawanya ke wastafel.


Baiklah kalau memang bebas. Aku ikut berdiri mengintilinya dan berdiri rapat di belakangnya. Mengagumi dan memuja keindahan tubuh itu dengan takjub. Sementara ia mencuci piring, gelas, mangkuk, dan sendok kotor, kulingkarkan tanganku di tubuhnya lalu berbisik, "Bebas di mana saja? Sekalipun di sini?"


Dia mengulum senyum, menoleh dan mencium pipiku. "Yeah, silakan. Di mana pun. Tidak ada pengecualian."


Oke, akan kulakukan di sini, di dapur ini. Bagaimana rasanya -- sensasi bercinta dengan bebas tanpa harus bersembunyi di dalam kamar? Kupikir rasanya pasti sangat menyenangkan.


Well, aku bisa menunggu sebentar, sedikit waktu selagi ia menyelesaikan cucian piringnya dan aku bisa memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk melepaskan pakaian dari tubuhku dan membiarkannya bertebaran di lantai, lalu melucuti sisa pakaian yang masih menempel di tubuh istriku yang cantik itu. Dengan menelusuri pinggangnya, kuselipkan ibu jariku dan menarik turun *alamannya hingga terlepas. Kemudian, sedikit meliarkan tangan, bibir, dan lidahku sebagai pemanasan. Aku berlutut di sana, dan...


"Oh!"