Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Boomerang


Sesuai kesepakatan, mulai hari ini aku kembali masuk kerja dan Suci ikut aku ke kantor, pura-pura jadi sekretaris. Aku tahu dia sebenarnya tahu kalau aku tidak akan menyuruhnya melakukan pekerjaan apa pun selain memintanya melayaniku sebagai istri. Sama sekali bukan sebagai seorang sekretaris.


"Kamu bisa nyetir, Sayang?"


"Jago."


"O ya?"


"Mmm-hmm... menyetirmu, kan?"


"Hah! Kamu ini, Yang."


"Aku tidak bisa menyetir mobil, Mas."


"Mau belajar?"


Dia menggeleng. "Tidak mau," katanya. "Kan ada kamu di sisiku, tiap detik, tiap menit, dua puluh empat jam. Aku lebih suka bergantung padamu. Ke mana-mana diantar olehmu, ditemani kamu, didampingi kamu, pokoknya bersama kamu terus. Aku juga akan selalu ikut ke mana pun kamu pergi."


Aku cekikikan dibuatnya. "Sepertinya kamu posesif, ya."


"Harus, dong. Suami tampan seperti Mas Rangga Sanjaya harus dijaga ekstra ketat. Kita akan selalu menempel seperti lem, biar cewek-cewek di luar sana tidak punya kesempatan genit-genit padamu."


Nah, lo... posesifan dia daripada aku. "Santai saja. Kamu tidak perlu khawatir, aku penjunjung tinggi kesetiaan."


"Masa?"


"Ya. Itu bisa dibuktikan."


"Kalau ada cewek telanjan* di depanmu, masa kamu nggak pegang?"


Ehm, ehm, ehm, kok nyerempet-nyerempet ke masa lalu, ya?


"Mudah-mudahan tidak akan begitu," jawabku. "Yeah, kamu memang harus selalu di sampingku. Jaga aku, ya, Sayang?"


Dia tersenyum. "Aku memaklumi semua masa lalumu. Yang penting sekarang kamu benar-benar berubah dan jadi suami terbaik untukku, ya?"


Aku mengangguk. "Pasti," kataku.


"Bagus. Omong-omong, kamu tidak berhubungan lagi dengan mantan istrimu, kan?"


Ya ampun. Kenapa dia bertanya seperti itu? Aku terpaksa berbohong dan mengatakan tidak.


Hmm... maafkan aku, Sayang.


"Terus, kenapa ibu mertuamu masih suka menelepon?"


Glek!


"Hah?"


"Maaf, tapi aku penasaran kenapa. Waktu kutanya, dia malah menanyakan keberadaan anaknya ada di mana. Kamu tahu?"


Kesalahanku. Harusnya aku tidak melakukan hal itu pada Rhea. Sekarang... hal ini malah menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Bagaimana kalau Suci tahu? Rumah tanggaku akan menjadi taruhan.


"Mas? Halo... bumi memanggil!"


Puk! Dia menepuk bahuku. Aku tersentak kaget.


"Oh, ya, aku...," aku menggeleng, "aku tidak tahu," kataku. Berbohong lagi demi menutupi kebohongan sebelumnya.


Kuraih selembar tisu dan mengelap keringatku.


"Jangan melamun, kamu lagi nyetir...."


"Maaf."


"Kamu sakit?"


"Nggak."


"Tapi kok--"


"Aku tidak apa-apa. Sudah, ya. Kita sudah hampir sampai."


Oh Tuhan... bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini? Pasti tidak akan baik menyimpan rahasia ini dari Suci, bangkai lama-lama pasti akan tercium. Dia bukan Bibi Merry atau Anne yang tidak akan menentangku jika nanti dia tahu keberadaan Rhea yang terkurung di ruang bawah tanah. Tapi aku tidak mungkin melenyapkan dua orang itu. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh. Aku juga sudah berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang harus kulakukan?


Jelas, pertanyaan Suci tentang keberadaan Rhea mau tidak mau mengusikku. Kuhela napas dengan berat, kami sudah sampai di parkiran kantor dan aku harus bersikap biasa saja.


"Sesuai perjanjian, ya, Mas. Jangan ada sambutan dan perkenalan berlebihan. Aku tidak suka."


Itulah Suci.


"Iya, Sayang. Sesuai keinginanmu."


"Satu lagi--"


"Iya, Sayang, aku tahu. Aku akan bicara baik-baik dengan Raymond, dan aku tidak akan bersikap sebagai musuh di depan Roy. Oke?"


Dia lega. "Suamiku yang tampan dan cemerlang," pujinya. "Sini, cium dulu."


Ciuman plus-plus dari istriku tersayang. Ah, bahagianya.