Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Pesta Dirgantara Group


Acara itu diselenggarakan di ballroom sebuah hotel luas dan ramai yang mengumandangkan alunan musik orkestra bising tanpa henti. Secara teknis aku tidak menikmati pesta ini. Pesta khas orang-orang kelas atas itu identik dengan ajang pamer, seberapa wah pakaian mereka dan seberapa cantik, modis, dan elegan pasangan mereka. Kebanyakan lelaki di sini menjadikan pasangan mereka seperti patung yang mesti didandani dan ditempeli barang-barang mewah. Sama-lah seperti yang kulakukan pada Suci saat ini. Membelikan dia gaun mewah dan menyuruhnya menghiasi leher dengan lingkaran berlian. Namun sebagian besar lainnya -- terutama laki-laki yang berusia kepala lima ke atas, yang mereka bawa bukanlah para istri sah -- melainkan sosok istri muda atau sekretaris pribadi mereka yang bekerja dengan side job. Persis Reno Dirgantara dan sekretarisnya -- wanita dengan body se-oke gitar Spanyol itu.


"Hai... Rangga!" seru mantan mertuaku itu dengan gaya khas dan suara bas-nya.


Yah, seperti kataku tadi, aku tidak menikmati acara ini, telebih harus bertemu dengan si penyelenggara acara. Tetapi, toh aku bisa berpura-pura menunjukkan sikap senang. Karena itu juga berguna bagi para pembisnis untuk mengepakkan sayap. Para kolega tidak datang dengan sendirinya jika kau membatasi pergaulanmu.


"Hai, Pa. Emm, sori. Maksud saya--"


"Santai saja. Kamu dengan siapa ini?"


"Istri saya, Suci Sanjaya."


Dengan semringah, Suci menjulurkan jabat tangan kepada lelaki berumur itu.


"Seleramu memang oke," komentar Reno sambil menelisik Suci dari atas ke bawah.


Aku hanya tersenyum, lalu bertanya, "Omong-omong, Mama tidak ikut?"


"Ah, kamu ini, seperti tidak paham saja. Mamamu kan sudah tua. Masa Papa ajak ke sini?"


Suci tertegun, mata cokelatnya membulat dan seakan siap-siap hendak mengulitiku.


"Sudah, ya. Papa menyapa tamu lain dulu. Have fun."


Oh, yes. Akhirnya, dia pergi juga dari hadapanku.


"Mas? Itu tadi apa maksudnya? Nanti kalau aku sudah tua...?"


Aku cekikikan. "Itu tidak berlaku dalam cinta kita, Sayang."


"Benar?"


"Iya. Pasti."


"Kamu jangan pernah berubah...."


Uuuh... rengekan itu. Andai kita hanya berduaan di dalam kamar. Hah! Sudah kuubek-ubek lagi dia.


"Mas...."


"Janji?"


"Iya," kataku, lalu aku berbisik, "Aku menjanjikanmu selamanya. Semua cinta dan kesetiaanku."


Akhirnya dia tersenyum lagi. Dalam hati aku terkikik. Dia belum paham dengan dunia pembisnis yang banyak sisi gelapnya. Dan...


Ah, dua puluh tahun lagi -- itu berarti Suci baru empat puluhan. Dia pasti masih cantik saat itu.


Eh?


Suci terkejut mendapati dua sosok yang ia kenal sedang memandang tak suka ke arah kami. Kedua orang tua Raymond. Seperti biasa, wanita muda yang sekarang berstatus istriku itu -- dengan kerendahan hatinya, dia menghampiri kedua orang tua Raymond. Sementara aku hanya melihatnya dari kejauhan.


Dan persis dugaanku, Suci menerima penolakan. Dia sedih dan cepat-cepat menyembunyikan diri. Seperti kebanyakan para wanita: segera menyepi dengan pergi ke toilet.


Agak lama, dia pun keluar dari toilet. Tetapi...


"Jangan sedih lagi," kataku.


Suci hanya mengangguk, dan kelihatan lebih aneh. Dia bahkan tak selera makan atau pun minum. Dan sepanjang sisa acara, Suci lebih banyak diam.


"Kamu kenapa? Apa orang tua Raymond bicara macam-macam padamu? Hmm?"


Sambil menggeleng dia mengatakan tidak. "Bukan tentang mereka," katanya.


"Terus?"


"Tidak ada apa-apa, Mas."


"Jangan bohong, Sayang...."


"Nanti kita bicarakan di rumah, ya. Jangan sekarang."


Hmm... pasti terjadi sesuatu, pikirku. Praktis, wajahnya yang murung itu membuatku langsung khawatir.


Kenapa? Ada apa?