
Sesuatu yang hangat membangunkan aku pada keesokan paginya. Dalam kesadaran yang samar-samar, aku merasakan diriku berada di dalam lubang sempit dengan kehangatannya yang tak asing. Begitu aku membuka mata, senyum indah suci langsung menyambutku.
"Selamat pagi," sapanya.
Aku tersenyum. "Em, pagi, Sayang." Kuregangkan tubuhku lalu menggosok-gosok wajah. "Sudah berapa ronde?" candaku.
Dia mencebik. "Ih, kamu...."
"Lagian kamu, pagi-pagi kok di atasku begini? Apa ada maunya? Hmm?"
Dan kali ini iya -- ada. Dia nyengir. "Memang. Tapi aku mau menyenangkan suamiku dulu."
"Hah! Kamu tidak pandai melakukan itu." Dengan sigap, aku menarik Suci dan membuatnya tertelungkup di atasku. "Biar kuambil alih tugasmu," kataku pelan di telinganya. Dan, dalam detik berikutnya posisi sudah beralih -- dia yang kini terbaring di bawah kungkunganku. "I love you, My Sugar."
Pagi yang indah, dengan tubuh yang polos, seksi dan menggairahkan. Aku tak mampu melawan hasratku untuk segera melahapnya. Seperti bayi yang kelaparan di pagi hari, kusesap dada cantik itu dengan rakus. Dia selalu membuatku gemas.
"Mau leherku?" tanyanya. Dia menyibakkan rambut cokelatnya dan sedikit memiringkan kepalanya -- memberikanku akses untuk mencumbu seputar lehernya yang menjanjikan kenikmatan.
Tentu saja. Tidak mungkin lelaki normal ini menolak ketika disuguhi kenikmatan yang hakiki. Dan tak perlu waktu lama, kanvasku yang indah itu sudah dipenuhi warna-warna kemerahan yang dihiasi dengan sepenuh cinta.
"Nah," kataku, "kita jeda sebentar." Kemudian aku menariknya duduk. "Katakan dulu, kamu mau minta apa? To the point!"
Dia menunduk sejenak sebelum memberanikan diri mengutarakan permintaannya. "Aku mau Mbok Sari menemani Mama, tapi kamu yang gaji. Please...?"
Aku mengernyit, tapi bukan soal gajinya. "Sebentar, memangnya Indie--
"Mama mau tetap tinggal di rumah ini. Tapi dia mau anak-anaknya rajin menginap di sini. Aku kasihan kalau Mama sendirian. Boleh, kan, Mbok Sari tinggal sama Mama lagi? Terus gajinya...."
Uh! Aku langsung menyambar bibirnya, *engulumnya, *elumatnya, dan bermain lidah di dalam sana.
"Wait, sebentar, Mas," kata Suci dengan sedikit mendorongku karena dia merasa engap.
Tapi tidak! Kenikmatan untuknya tak boleh terjeda lagi. "Kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu inginkan. Termasuk kenikmatan ini," ujarku seraya menangkup dadanya dan bergerilya dengan kekuatan kedua tanganku.
Sungguh, *esahan yang benar-benar seksi. Bagaimana hasratku tak semakin menyala kalau istriku bersikap semanis ini? Meski dia tak sepiawai dan sehebat Rhea di ranjang, tapi dia tahu cara menyenangkan suaminya. Tak hanya dalam urusan ranjang, tapi juga dengan hatiku. Pagi-pagi langsung mendapatkan kehangatan, lelaki mana yang tidak bahagia?
"Siap tempur, Sayang?"
Dia tersenyum, menyalungkan tangan ke leherku dan meluma* bibirku. "Tentu," bisiknya. "Dan aku menginginkan yang ekstra."
Dengan kerlingan matanya yang nakal, ia berbaring, menekuk lutut dan membuka interval kakinya. "Silakan, Suamiku yang tampan."
Waw! Waw! Waw! Tapi aku menggeleng. "Istriku layak mendapat perlakuan yang super ekstra."
"Maksudnya?"
Well, gigitan dan *sapan lembut penegang saraf mesti ia rasakan. Aku segera menyuruk ke sana -- di antara pahanya.
"Akh!"
"Enak?"
"Hu'um!"
"Lagi?"
"Yeah, terus. Lebih kuat!"
"Tentu, apa pun untukmu."
"Hah! Kamu selalu membuatku tergila-gila."
Dan, kamu lebih dari itu, Sayang. Selalu lebih....