
Pagi ini Suci ikut aku ke kantor, karena sesuai rencana kemarin, setelah makan siang, kami akan menemani Rhea untuk cek kandungan. Suci bersikeras supaya kami menjemput Rhea di rumahnya. Padahal jujur, aku sangat keberatan. Tapi aku tak bisa menolak dan terpaksa mengikuti kemauannya.
"Lakukan itu untuk calon anakmu. Bukan untuk mantan istrimu, oke?"
Aku berdeham dan mengiyakan. Ingin rasanya kuputar kembali kunci kontakku, menderumkan mobil dan segera melajukannya kembali ke jalanan. Tapi macan cantik di sampingku ini pasti siap menerkam kalau aku melakukan hal itu.
"Kamu kenapa, sih, sebegitu antinya pada mantanmu?"
Aku mengedikkan bahu. "Aku benci pada perempuan itu, Yang. Semua masalahku bermula darinya. Kalau saja dulu dia tidak mengkhianatiku, waktu itu aku tidak akan stres dan tidak akan mengajak Jessy ke restonya Stella. Perempuan itu tidak akan mengenalku, dan cerita ini tidak akan sampai ke titik ini."
"Jadi kamu menyesali pengkhinatannya? Dan kamu menyesali adanya aku di sini?"
Praktis aku menggeleng. "Bukan begitu, Yang."
"Ya begitu kalau kamu masih menyesal. Kamu lupa kalau dia dulu tidak mencintaimu dan terpaksa menerima lamaranmu? Hmm?"
"Oke, maaf. Aku tidak menyesal. Aku bersyukur karena aku mengenal dan memperistrimu. Sudah, ya, jangan ceramahi aku lagi."
"Nah, makanya. Jangan bahas ini lagi, ya. Jangan sebut-sebut nama Stella lagi. Kalau didengar Mas Roy, bagaimana? Aku tidak mau keluargaku terancam."
Aku paham kekhawatirannya. "Ya, tidak usah dibahas lagi." Aku baru saja hendak membuka pintu ketika Suci kembali memanggil. "Ada apa?"
"Nanti... kalau Mbak Rhea minta kamu mengelus perutnya, kamu turuti saja, ya. Demi anak itu, calon anakmu."
Hmm... perempuan ini. Kenapa dia begitu baik?
"Oke, Mas? Jangan pilih kasih terhadap anak."
"Tapi tidak mesti--"
"Cuma elus. Bukan peluk, apalagi cium."
"Yang...."
"Aku mengerti. Tapi memangnya kamu tidak takut? Sikapmu ini sama saja kamu menyodorkan suamimu kepada--"
"Aku percaya padamu. Kamu pria baik. Suami yang baik. Dan seorang ayah yang baik. Aku percaya kamu tidak akan menyalahgunakan kepercayaanku."
Aku menatapnya. Dia punya hati yang tulus. "Terima kasih, Sayang," ucapku.
"Sama-sama. Tapi ingat, ya, sekali saja kamu mengkhianatiku, tak ada ampunan. Tidak ada kata khilaf. Walau sekali, tetap tak akan ada jalan untuk kembali. Tidak akan pernah."
Dan... matanya melotot. Aku pun segera mengangguk. "Aku tidak akan seperti itu," kataku. "Aku akan selalu menjaga kesetiaanku meski nyawaku sebagai taruhannya. Oke? Masih ada yang ingin dibahas?"
"Ada."
"Apa itu?"
"Apa Mbak Rhea pernah minta rujuk padamu?"
Kuhela napas dalam-dalam, dan... mengiyakan. "Dia pernah meminta itu, persis setelah aku mengantarkannya pulang waktu itu."
"Lalu, kamu bilang apa?"
Kucoba memutar otakku dengan cepat, mengingat-ingat apa yang kukatakan pada Rhea waktu itu, waktu dia meminta rujuk padaku. Tapi zonk, aku tidak bisa mengingatnya. "Lupa, Sayang. Yang pasti aku menolak. Dan... aku menyampaikan penolakanku dengan cara seperti ini." Kupraktikkan caraku menarik rambut Rhea seperti waktu itu pada Suci, tapi tidak sekasar yang kulakukan pada Rhea. "Kuharap caraku itu sudah cukup untuk memberinya pelajaran. Dia tidak bisa bermain-main denganku."
"Kasar sekali, sih, kamu," kata Suci.
Aku nyengir. "Aku bisa melakukan lebih dari itu," kataku. Kutarik rambutnya lagi hingga lehernya terbuka dan kubenamkan wajahku di sana. Kemudian...
Modus!
"Mas... jangan mengambil kesempatan, dong. Ini pekarangan rumah orang...."
Lah, dia amnesia? Bukankah kelakuannya di parkiran bakeri kemarin lebih parah?