
Tidak bisa. Suci menggeleng dan memasang tampang memelas. Jadi, oke, aku mengalah. Kuajak ia masuk ke rumah Billy dan menumpang ke toilet di dekat dapur yang sudah sekian lama tidak pernah kupijaki. Terakhir kali aku masuk ke rumah itu sewaktu ibunya Billy meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Mas," panggil Suci setelah ia keluar dari toilet. "Billy sudah punya istri, ya?"
Aku menggeleng. "Belum," kataku. "Dia masih bujangan. Kenapa?"
Suci menunjukkan sebuah anting dengan model huruf N. Hanya sebelah. "Aku menemukan anting ini di dalam toilet."
"Terus?"
"Aku mengenal anting ini. Ini seperti anting punya Indie."
"O ya? Mungkin kebetulan mirip. Kan cuma anting. Pasti banyak yang model seperti itu."
"Ya, semoga. Masa iya Indie pernah ke sini? Memangnya dia mengenal Billy? Tidak, kan?"
Ya salam... aku mesti menjawan apa? Aku berdeham. "Mareka saling mengenal, waktu pernikahan kita, mereka berdansa berdua, kan?"
"Iya, tapi cuma sekadar itu, kan? Tidak berhubungan lebih jauh."
Mana aku tahu. "Sudahlah, taruh lagi antingnya di sana. Mungkin punya pacarnya atau siapanya. Mana kita tahu. Jangan mengurusi urusan orang."
Bla bla bla... dia rewel sekali. Bahkan dia sempat memotret anting itu dan mengirimkannya ke whatsapp Indie.
"Cukup. Kita pulang, oke?"
Dia mengangguk, mengiyakan -- tapi hatinya tetap bertanya-tanya di sepanjang perjalanan pulang.
Ting!
》 Punya siapa itu, Mbak? Punyaku sudah kujual.
"Syukurlah...," gumam Suci kemudian. "Itu bukan punya Indie. Indie bilang dia sudah menjual antingnya."
Aku menoleh. "Memangnya kenapa kalau itu punya Indie? Memangnya salah kalau dia dekat dengan Billy?"
Suci bersandar dan memejamkan matanya. "Dunia kalian itu gelap, Mas. Dan adikku itu sosok gadis belia yang baru ingin berubah. Kamu paham, kan? Dia butuh sosok lelaki yang baik, supaya dia--"
Sesampainya kami di rumah, Suci langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar. Aku pun mengikutinya.
"Apa?" katanya. "Kenapa menatapku begitu?"
Aku duduk di kaki ranjang sambil menatapnya yang baru saja mereguk hampir segelas penuh air putih. "Nope," kataku, lalu nyengir. "Aku hanya takjub pada istriku. Aku tidak menyangka kamu bisa seperti tadi. Sepanjang hari kamu benar-benar membuatku takjub."
Dia mendengus. "Aku belajar kriminal darimu, tahu!"
"O ya? Kamu bahkan sepertinya sudah sangat berpengalaman."
"Mmm-hmm, begitu? Well... aku hebat, bukan?" Ia duduk di atas pahaku, menghadapku.
"Ya, sangat hebat. Menakjubkan. Sungguh, jauh di atas pemikiranku. Siapa yang menyangka seorang Suci Sanjaya bisa bersikap dan berpikir sebegitu menakjubkan?"
Dia tersenyum. "Trims atas pujiannya."
Lalu kami berciuman. Saling menyentuh dan meraba satu sama lain. Sungguh, panas dan bergairah. Kemudian...
"Harta atau ranjang?"
Auw... auw... auw....
Aku terlena dengan ciumannya, tanpa menyadari tangannya bergerak ke belakang dan menarik pistolku dan menodongkannya di pelipis kiriku.
"Well, aku pilih ranjang."
Hah! Dia terbahak sendiri. "Aku atau kamu, ya, yang murahan? Hmm? Yang memberi pertanyaan atau yang memberikan jawaban?"
"Yeah," kataku, "pertanyaan itu memang tidak tepat." Kuambil alih pistolku dari tangannya dan balas menodongkan senjata itu ke kepalanya. "Dipuaskan atau memuaskan? Pilih yang mana? Hah?"
Merasa geli, dia cekikikan. "Well, aku pilih opsi kedua. Dipuaskan. Emm?"
Ah, tentu saja. Siap laksanakan.
"Lets do it, Baby...."