Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kabar Buruk


Tidak. Tidak semudah itu untuk membebaskan Rhea dan membawanya pulang kepada ibunya.


"Nanti. Aku mesti memikirkan dulu caranya."


Suci mengangguk. "Aku mengerti," sahutnya. "Begini, aku sudah memikirkan caranya. Kata Bibi Merry, di ruang bawah tanah itu ada cctv, mantan istrimu pasti tidak akan berani macam-macam karena dia tahu kamu memegang kartu As-nya. Tapi aku bukannya menyuruhmu untuk berbuat jahat, ya. Aku cuma mau kamu pura-pura saja mengancam mereka. Bukan untuk sungguh-sungguh menyebarkan rekaman itu. Kamu paham, kan? Dan... aku tahu ini perbuatan kriminal, dan kamu bersalah. Tapi... aku tidak mau kalau suamiku sampai dipenjara."


Sekali lagi: Tidak. Aku bukannya meremehkan saran dari Suci. Tapi sebagai sosok penjahat, aku pun memikirkan hal itu. Tetapi, bagaimana kalau hal itu -- rekaman itu, tidak mempan untuk membungkam mulut kedua tawanan itu? Bagaimana kalau Rhea dan Biktor tidak peduli adegan ranjang mereka tersebar dengan alibi kalau itu terjadi karena pengaruh obat?


"Aku tahu pikiranmu, Mas. Ya kalau peringatan itu tidak mempan, aku tahu kamu bisa mengatasi semuanya. Kamu tidak akan mencicipi dinginnya sel tahanan. Dan aku juga tahu kalau yang kamu khawatirkan itu nama baikmu di mata masyarakat, klien, dan kolega bisnismu. Iya, kan?"


Aku mengagguk lemah. "Kamu hebat bisa membaca pikiranku."


"Aku bukannya membaca pikiranmu, Mas. Aku memahamimu."


Aku mengangkat kedua alis. "Lalu?" tanyaku. Aku merasa tidak bisa berkata sepanjang -- seperti Suci menuturkan kalimat-kalimatnya.


"Mas... mungkin itu akan berefek. Mungkin nanti klienmu atau kolega bisnismu yang lain akan hilang kepercayaan padamu, tapi aku yakin, kok, kamu pasti bisa bertahan menghadapi situasi itu. Kan ada aku. Aku akan selalu bersamamu."


Mendengar itu aku tersenyum sedikit. "Kalau tidak bisa? Kalau aku bangkrut?"


"Kamu sudah cukup kaya. Kita masih bisa hidup dengan apa yang kita punya sekarang. Kalau pun semuanya benar-benar habis, kamu masih punya aku. Percayalah, aku akan selalu ada di sampingmu, bersamamu dalam keadaan apa pun."


Tapi aku tidak ingin jatuh miskin.


"Jangan takut miskin. Kamu bisa memulai lagi semuanya dari nol. Tapi jangan berpikir terlalu jauh, ding. Yang penting, kamu jangan masuk penjara. Aku butuh kamu di sisiku. Soal pandangan masyarakat, terserah. Bagiku kamu itu orang baik. Kamu mau berubah menjadi orang yang lebih baik."


"Yap, sama-sama. Kalau begitu kita pulang, yuk? Kita temui mereka. Kita ajak mereka bicara baik-baik. Semoga mereka bisa memaafkanmu sebagaimana kamu memaafkan mereka."


Kuhela napas dalam-dalam dan sedikit merasa lega. "Sebelum kita pulang... sini dulu bibirmu. Kering, kan, habis ngomong panjang lebar?"


"Hmm... dasar modus!"


Eum! Terbungkam, engap dan basah. Dan aku mesti mengajaknya pulang sekarang juga. "I need you, Sayang. Kita pulang, ya?" ajakku dalam bisikan. "Aku membutuhkanmu."


"O-ke, apa pun untuk suamiku tercinta. Aku bersedia." Suci tersenyum manis.


Tetapi...


Drrrt... drrrt... drrrt....


Ponselku bergetar. Telepon dari Billy menjedah segalanya.


"Maaf, Tuan. Ada kabar buruk."


"Ada apa?"


"Biktor, dia tewas."


Deg!