
《 Jangan meragukan "kehormatanku" sebagai seorang suami. Aku bukan seperti burung yang bebas singgah ke sarang-sarang lain. Hanya kamu rumahku. Hanya kamu tempat aku pulang dan tempat aku melabuhkan hasratku. Jangan ragukan itu.
Klik! Whatsapp-ku terkirim dan conteng dua langsung menghijau. Balasan dari Suci muncul satu menit setelahnya.
》 Aku senang mendengarnya (membacanya). Jadi... hari ini cepat pulang, ya. Akan kuberikan imun penguat supaya otakmu kembali lempeng. Dan omong-omong, terima kasih karena kamu sudah begitu pengertian belakangan ini. Aku mencintaimu, Mas. Cepat pulang, ya. Emmmuach!
Yes! Jatah, pikirku. Tentu saja aku akan cepat pulang karena istriku menjanjikan kenikmatan untukku, dan aku tahu dan aku sangat mengerti dengan apa yang ia maksudkan itu. Tetapi...
Ah, sialnya sore itu hujan turun dengan lebat. Aku tidak ingin mengambil risiko meski demi sebuah kehangatan yang menanti. Aku tahu aku tidak akan sanggup menyetir sampai rumah meskipun aku memaksakan diri. Yang ada, mungkin aku akan sampai di rumah sakit. Atau bahkan sampai ke kuburan.
Yeah, mau tidak mau aku harus menunggu sampai hujan reda, hari sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam dan aku pun segera pulang.
》 Jangan ngebut, ya. Tidak perlu buru-buru. Aku menunggu tanpa rasa kantuk. Biar pelan asal selamat. I love you, Mas. Aku menunggu kepulanganmu. Hati-hati, ya....
Oh, istriku, betapa pengertiannya dia. Adem sekali rasanya hatiku hanya karena pesan whatsap darinya. Terlebih, begitu aku sampai di rumah, dia belum tidur. Dia benar-benar menungguku dan menyambutku. Tidak lupa segelas susu hangat juga ia siapkan untukku. Luar biasa.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang benar-benar istri yang terbaik," pujiku setelah mereguk susu itu hampir setengah gelas dan sedikit rasa hangat mulai menjalar ke dalam tubuhku.
Suci tersenyum. "Sama-sama. Ini kan sudah kewajibanku," sahutnya, lalu ia memberikan bibirnya untuk kucium.
Ah, hujan itu justru membawa berkah.
Dia mengangguk, dan ketika aku masuk ke kamar mandi -- betapa harunya perasaanku, setelah kedinginan yang menyergap beberapa jam sebelumnya dikarenakan hujan lebat, istriku sudah menyiapkan air panas untuk aku mandi. Sungguh dia sangat pengertian. Begitu juga setelah aku selesai mandi, dia menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik di depan mataku. Aku mendadak merasa menjadi seorang Leonardo DiCaprio dalam film Titanic. Yeah, di hadapanku, istriku yang cantik itu berbaring telanjan* selayaknya pose Rose DeWitt Bukater yang selonjoran di sofa dalam lukisan Jack Dawson. Dia tersenyum manis kepadaku. "Bagaimana?" tanyanya.
"Cantik sekali," gumamku. "Kamu bahkan lebih cantik dari pemeran utama film Titanic."
Suci terkekeh. "Ah, kamu," katanya tersipu. Dia beringsut duduk, meninggalkan pose *elanjangnya.
"Tapi ada yang kurang, sih."
"Apa? Aku kurang cantik? Hmm? Atau kurang seksi?"
"Bukan. Tentu saja kamu cantik, sangat seksi. Tapi itu, lehermu, mestinya dihiasi berlian lima belas karat, ya kan?"
Seketika ia tertawa riang. "Kamu mau membelikan aku berlian lima belas karat? Iya? Terima kasih...," serunya. "Aku tunggu, ya, Mas. Kamu memang suami yang terbaik. Aku mencintaimu."
Hah! Pintar sekali dia. Aku seakan terjebak oleh kekagumanku sendiri. Dan tentu saja gengsi bagiku untuk berkata tidak.
Tapi berlian lima belas karat? Ugh! Berapa itu?