Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Bedebah!


Bahagia itu sederhana. Hanya dengan sedikit bercanda, kami tertawa hingga terbahak-bahak, memenuhi ruang hingga menit berlalu dan kami masih berpelukan -- mengatur napas yang terengah.


"Kamu selalu nikmat. Terbaik dan terhangat," pujiku. "I love you."


Dia tersenyum manis. "I love you more. Kamu... terhebat. Lelaki tiga puluhanku yang tangguh."


Hmm... masih saja. Dia membuatku kembali tertawa. "Kau tahu, aku bahkan bisa memberimu lebih."


"Oh, waw! Apa itu maksudnya sekali lagi? Hmm?"


"Lagi? Kalau kamu masih sanggup, kenapa tidak?"


"Eumm... Mas...."


Tok! Tok! Tok!


Pengganggu!


"Ada apa?" seruku menahan jengkel.


Di luar dugaan. "Maaf, Pak," kata Karin dengan takut. "Ada Pak Raymond. Beliau ingin bertemu Pak Rangga sekarang."


"Raymond? Ada apa?" gumamku.


"Temui, Mas. Barangkali ada...."


"Jangan terlalu berharap."


Aku bangkit, dan menyerukan pada Karin supaya Raymond menunggu sebentar sementara aku mengenakan kembali pakaianku.


"Mas," Suci memanggil. "Jangan emosi. Ya?" pintanya sewaktu aku menoleh.


Aku hanya mengangguk dan terus berjalan ke pintu. Begitu aku membuka pintu, sosok Raymond sudah duduk di depan meja kerjaku, tapi matanya sedang menatap bingkai foto kami, empat sekawan.


"Ada apa?" tanyaku, lalu segera duduk, dan kami pun berhadapan.


"Hei, Bro. Jangan begitu, dong... come on...."


"Sori, tapi gue udah nggak nyaman di sini."


"Man... masa cuma karena perempuanĀ  hubungan kita jadi begini?"


"Enteng banget cara lu ngomong, Ngga. Setelah lu merusak semuanya, sekarang dengan entengnya lu ngomong begitu ke gue?"


Kuhela napas dalam-dalam dan memosisikan diri sebagai teman yang bijak. "Apa yang mesti gue lakuin supaya lu mau maafin gue? Kita perbaiki hubungan kita. Persahabatan kita itu sangat berarti, Ray."


Dia menggeleng. "Jangan tanya. Lu nggak akan mampu, bahkan lu nggak akan mau mendengar permintaan gue."


"Kenapa tidak?" Aku menatapnya. "Katakan, apa?"


"Istri lu. Gue mau cicip."


"Berengsek!"


Aku naik pitam. Aku bangkit dari kursiku dan menghampirinya -- mencengkeram leher kemejanya. Dan...


Bug!


"Kurang ajar!" Tinjuku melayang. Aku tidak bisa menahan emosiku. Pertikaian tidak bisa dihindari lagi dan berlangsung sengit. Selama beberapa saat ruang kerjaku berubah menjadi arena tinju.


"Aku kan sudah bilang jangan emosi...," kata Suci sambil tersedu-sedu setelah kejadian itu. Dia tengah mengobati luka di tanganku. Setelah memukuli Raymond, aku meluapkan emosiku dengan meninju bingkai foto kami yang berarti hancur sudah persahabatan kami. Tidak ada harapan lagi. Aku tidak akan sudi lagi mencarinya untuk berbaikan dan mengakhiri permusuhan di antara kami.


Kuhela napas dalam-dalam. Aku juga tidak akan seemosi ini andai Raymond tidak melampaui batas. Andai saja sore itu Karin tidak histeris ketakutan dan berlari memanggil Roby, di antara aku dan Raymond pasti ada yang benar-benar babak belur tanpa peleraian.


Kutarik istri kecilku itu ke dalam dekapanku -- bermaksud menenangkannya. "Sudahlah, Sayang. Semuanya sudah terjadi. Berhentilah menangis, aku tidak apa-apa. Oke?"


"Yang," kata Roby kepada Jessy, "temani Suci dulu, ya. Aku mau ngobrol dulu sama Rangga."


Jessy menuruti perkataan suaminya dan mengajak Suci masuk ke ruang pribadiku. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sahabatku satu ini hendak mengintrogasiku. Well, kujawab dia apa adanya, tanpa melebih-lebihkan.