
Kue sudah dihias, lilin sudah dipasang, tetapi jarum jam baru menunjuk ke angka sepuluh. Aku kasihan kalau Suci mesti terbangun hingga larut. Aku tahu ia pasti sudah kelelahan, aku bahkan sudah merasa ngantuk. Maka aku berinisiatif untuk mengajaknya segera menyalakan lilin dan meniupnya.
"Jangan begadang, Sayang," kataku, sambil membelai-belai rambutnya. "Aku tidak mengizinkan, dan aku juga tidak mau kalau kamu tidur terus memaksakan diri bangun lagi tengah malam. No, tidak boleh. Lagipula sama saja, kok. Ulang tahunku persisnya tanggal berapa kan tidak jelas."
Suci mengangguk paham. "Baiklah," katanya. "Kita rayakan sekarang. Kamu nyalakan lilin, aku ke kamar sebentar, mau mengambil hadiah untukmu."
"Kamu menyiapkan hadiah?"
"Yeah, sesuatu."
"Ya ampun, Sayang. Tidak perlu repot-repot harusnya."
Tapi ia sudah beranjak hendak ke kamar. "Tidak apa-apa," sahutnya sambil berjalan. "Kamu tunggu di sini, sebentar saja."
"Bagaimana kalau kuenya saja kita bawa ke kamar?" seruku.
Suci berhenti dan berbalik. "Ide yang bagus. Hayuklah. Biar nanti kita bisa langsung tidur."
"Nah, kamu bawa kuenya." Kuhampiri Suci dan memberikan kue itu ke tangannya. "Biar aku bawa barang-barang yang lain, plus air minum."
Deal. Dengan barang bawaan masing-masing, kami segera menuju kamar. Oh, bukan, sebenarnya Suci pergi ke kamar duluan dan aku menyusul. Sesampainya aku di kamar, Suci sudah menyalakan lilin dan memadamkan lampu. Jadilah kamar itu hanya diterangi dengan pendar lilin yang menghangatkan."
Happy birthday to you...
Happy birthday to you...
Happy birthday...
Happy birthday...
Happy birthday to you...
Oh, waw! Itu lagu Selamat Ulang Tahun paling merdu yang pernah kudengar. Hihi!
"Make a wish, please...."
Aku mengangguk lalu memejamkan mata.
Mataku terbuka.
"Aamiin... untuk apa pun yang kamu harapkan, itu juga yang kuharapkan. Ayo, tiup lilinnya."
Huuuuuh... lilin pun padam. Ruang kamar kami seketika jadi gelap gulita.
"Ya ampun," kataku. "Kok lupa kalau bakal gelap begini." Aku meraba-raba meja, mencari ponsel yang kutaruh di sana untuk pencahayaan.
Dan kutemukan. Tanpa melihat ke tempat lain, aku berjalan ke arah tombol lampu dan menekannya.
Ctek!
Hasrat menyala. Eh?
Ckckck! Memang benar hasrat yang menyala. Begitu lampu menyala dan ruang kamar kami terang-benderang, mataku langsung tertuju pada istriku yang berbaring telanjan* di atas tempat tidur. Polos, tanpa apa pun.
"Ya ampun, Yang. Memangnya kamu belum puas? Hmm?" Aku menindihnya, dan meluma* bibirnya.
Dan, cumbuanku berbalas. "Ayo, sekali lagi," godanya dengan senyumannya yang manja.
"Yakin? Masih kuat?"
Well, baiklah. Aku bangkit dan turun dari ranjang. Melepaskan semua pakain dan melemparkannya ke lantai.
"Jadi, ini hadiahku?" tanyaku saat kembali menindihnya. Sambil menatap intens kedua matanya, jemariku menyusuri tubuhnya yang panas terbakar gairah.
Suci mengangguk. "Salah satu dari banyak hadiah yang kuberikan," jawabnya, dia membelai wajahku dengan cinta yang jelas kurasakan. "Bulan madu ini, waktuku, membuatkanmu kue, bahkan cinta dan kehangatan, dan masih ada hadiah lain yang pantas kamu dapatkan."
"Apa lagi?" tanyaku, tanganku masih bergerak membelai kulitnya.
Namun dia hanya tersenyum. "Satu-persatu. Rasakan dulu yang ini. Hmm?" Kemudian ia berbisik. "Nanti akan kuberitahu. Tapi sekarang... nikmati momen ini. Gilai aku."
"Tentu saja! Terima kasih atas hadiah yang menghangatkan. Kamu yang terbaik."