
Kami menghabiskan sepanjang siang dengan bermalas-malasan. Kami pergi ke lantai bawah dan meringkuk di sofa untuk menonton film, hanya menikmati waktu dengan berpelukan dalam balutan selimut. Suci membuatkan popcorn dan memotong kue brownie yang semalam ia buat untuk kami santap. Dan spageti sederhana untuk makan malam. Kendati demikian, kukatakan pada Suci bahwa itu adalah spageti paling enak yang pernah kucicipi. Karena disiapkan oleh seseorang yang istimewa dan sepenuh cinta.
Saat malam turun dan bayang-bayang gelap mulai menyelubungi bumi, aku meminta izin pada Suci untuk menyelesaikan satu pekerjaan kantor yang harus segera kuperiksa data-datanya via email. Tetapi sungguh malang, itu adalah keputusan yang salah. Waktu itu Suci masih selonjoran di sofa sementara aku di ruang kerja mendiang ayahnya. Waktu baru menunjukkan jam delapan malam, dan Suci sudah bosan menonton tayangan di televisi. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu sewaktu aku keluar dari ruang kerja, Suci sedang fokus menatap layar ponselnya.
"Sayang," panggilku.
Ia terkejut sampai ponselnya terlepas dan jatuh ke lantai. Wajahnya pucat dan matanya mulai berkaca.
"Ada apa?"
Aku mengambil ponselnya. Ada sedikit keretakan pada anti gores tetapi ponselnya masih menyala. Tidak mengalami kerusakan apa pun. Dan kulihat tidak ada apa-apa di ponsel itu. Layarnya otomatis terkunci. Lalu... aku membuka password-nya.
Deg!
Info orang hilang. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat foto yang terpampang di aplikasi fb itu.
"Kamu bilang dia dipenjara, Mas."
"Sayang, aku...."
"Kamu bohong... kamu menutupi hal ini dariku."
"Mungkin dia sudah bebas atau mungkin melarikan diri. Bisa jadi, kan?"
Suci menggeleng-geleng tak percaya. "Bohong!" lengkingnya. "Jujur, Mas... tolong? Hmm? Apa dia mati? Aku yang sudah membunuhnya? Iya?"
"Sayang, tenang...."
"Please, aku mohon, ya. Kamu bilang kita mesti bicara dengan kepala dinging. Dan ingat, kamu sedang hamil. Jangan sampai hal ini--"
"Tidak bisa, Mas...," isaknya. "Mana mungkin aku bisa tenang, sementara... aku... aku sudah membunuh orang. Nyawa orang!"
"Tapi dia penjahat. Dia pantas mati. Dan kamu ingat, dia menyebabkan kamu sampai keguguran. Kamu kehilangan janin, calon anak kita. Bajingan itu melenyapkan nyawa anak kita. Jadi pantas, nyawa dibayar nyawa. Kalaupun bukan kamu yang membunuhnya, aku sendiri yang akan menembak kepalanya. Dia akan mati di tanganku. Sama saja, kan?" kataku berapi-api.
Tapi kata-kataku tetaplah tidak mempan.
"Ok, fine. Kamu benar. Tapi orang ini punya keluarga--"
"Kita juga punya keluarga!"
"Mas! Kamu mengerti maksudku, mungkin dia punya anak, punya istri."
"Apa bedanya? Kita juga kehilangan anak, kan? Kamu jangan naif!"
"Jelas berbeda. Kamu paham itu! Pasti di luar sana keluarga mereka resah. Keluarganya mencarinya, Mas. Kita--"
Perutnya sakit. Dia mulai memeganginya dengan tangan.
Berengsek! Aku mengumpat dalam hati. "Sekarang kamu lihat kondisimu, apa kataku? Kamu mau keguguran lagi? Iya?" aku terus memarahinya meski aku dikuasai rasa panik, dan meski aku meraih dan menggendongnya ke sofa mulutku tetap saja mengoceh. "Baring di sini, aku akan menelepon dokter."
Aku baru saja hendak meraih ponselku di atas meja, tapi Suci menolak dipanggilkan dokter. "Aku tidak apa-apa. Aku ingin ke kamar saja. Tolong?"
Dasar keras kepala!