Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Teratasi


Lega. Suci tersenyum bahagia saat mengintip ke dalam. "Oh, syukurlah. Mereka sedang berpelukan," bisiknya. Lalu ia pun langsung menyuruk ke dalam pelukanku.


Awas saja jika kamu berani membuat istri saya bersedih lagi. Saya habisi kamu, Bill.


"Terima kasih, Mas, kamu sudah mau menolong adikku. Terima kasih sekali."


Aku mengangguk. "Sudah kewajibanku, Sayang. Kalian keluargaku. Aku bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi dalam keluarga kita."


Dan aku percaya, meski dalam keadaan seburuk ini, Tuhan-lah yang menggariskan semua takdir yang tak pernah kami sangka-sangka ini. Billy dan Indie, mereka akan berhenti menjalani kehidupan bebas. Dan yang terpenting, mereka akan belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab.


Aku berharap Billy menepati janjinya. Dia akan menjadi suami dan sosok ayah yang baik, yang mencintai keluarganya: istri dan anaknya, dan selalu membahagiakan mereka -- yang berarti itu juga merupakan kebahagiaan bagi Suci ketika adiknya bahagia. Termasuk kebahagiaan juga bagiku jika istriku tenang dengan kedamaian keluarganya.


Well, pada keesokan paginya aku disibukkan dengan berbagai urusan kantor. Billy dengan wajah lebamnya tidak bisa masuk kantor karena aku tidak ingin ada karyawan yang mempertanyakan apa yang terjadi padanya dan akhirnya akan membuka aib keluarga kami. Jadi, aku harus menyelesaikan sendiri semua pekerjaanku, ditambah lagi posisi yang ditinggalkan Raymond masih kosong. Itu semua cukup membuatku terbeban. Tapi aku tidak boleh menunjukkannya di depan Suci. Aku mesti membawa pulang semua berkas-berkas yang menumpuk itu, sementara pada jam makan siang aku harus menemani Suci ke rumah ibunya. Dia ingin menjelaskan dulu semuanya sebelum Billy menghadap dan mengatakan bahwa ia akan menikahi Indie. Suci tidak ingin ibunya shock begitu mengetahui kalau ternyata anak gadisnya hamil di luar nikah.


Setelah mencuci piring, barulah Suci mengajak sang ibu untuk duduk di ruang keluarga, dia duduk berdempetan dengan ibunya sambil merangkulnya. "Mama akan segera punya cucu," bisiknya.


Praktis, ibu mertuaku tersenyum bahagia. "Kamu hamil, Sayang?"


Suci hanya tersenyum, sementara Indie gelisah, pun aku yang sama gelisahnya. Aku bahkan merasa aneh pada diriku sendiri, ternyata selama ini aku tidak pernah punya kepedulian pada orang-orang di sekitarku karena memang tidak ada yang mesti kupedulikan selain Rhea, yang dulu berstatus sebagai istriku. Yeah, tentunya setelah ibu angkatku tiada. Dan itu pun -- sewaktu bersama Rhea, aku tidak pernah menggunakan perasaan sedalam ini karena menilai hubunganku dan Rhea -- dulu selalu harmonis. Dia begitu cuek pada keluarganya, sehingga aku juga tidak pernah tahu bagaimana keadaan keluarga Dirgantara dalam kesehariannya. Tetapi dengan Suci, aku merasa dilibatkan, aku merasa menjadi sosok yang dibutuhkan. Minimal aku ada di sampingnya, mendampinginya melewati semua ketakutannya.


Melihat Suci yang tersenyum, ibu mertuaku merasa itu merupakan jawaban iya, ia langsung memeluk Suci dengan penuh sukacita. Bahagia. Ia pun mengucapkan selamat pada kami berdua.


Ah, andai benar Suci yang hamil....