Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Konslet


Bulan madu telah berakhir, Sayang. Dan itu harus!


Aku tak ingin mengambil risiko dengan tetap tinggal berdua dengan Suci di rumah itu. Aku tidak ingin dia memiliki waktu untuk memikirkan si pria yang tak sengaja tewas di tangannya. Sebab itu aku mengajaknya pulang. Suci sempat protes atas keputusanku itu, tapi akhirnya ia tetap tak bisa berkutik tatkala aku mengingatkan posisinya -- ia istri yang tak boleh membangkang kata-kataku, suaminya -- pemimpin dalam rumah tangga kami. Tapi kali ini ia tak merengut, malah justru tersenyum.


"Iya, iya. Aku akan menuruti apa kata suamiku."


"Bagus. Itulah hakikatnya seorang istri."


"Mmm-hmm... kamu tahu, kamu semakin tampan saat tegas begitu."


Apa itu? Rayuan? Hah! Aku menyadari ketampananku, sebab itu rayuan seperti itu tidak akan mempan untukku. Sama sekali tidak.


Sebelum pulang, aku sudah menghubungi Bibi Merry lebih dulu: meminta supaya semua orang sigap menyibukkan Suci dengan obrolan ringan dan asyik saat ia pulang nanti -- jangan membiarkan ia sendirian apalagi sampai melamun. Aku juga melarang mereka untuk menanyakan ada apa dan kenapa. Aku juga sudah menghubungi ibu mertuaku dan memintanya untuk menginap di rumah kami lebih lama lagi. Aku menceritakan kalau Suci hamil dan dia sedang stres karena kandungannya yang rentan. Katanya, ia bersedia dan ia akan membantu Suci melewati masa-masa awal kehamilannya.


Aku bersyukur, semua orang sayang pada Suci, dan berharap ia segera kembali ceria dengan menunjukkan betapa semua orang di sekelilingnya memberikan dukungan moril terhadapnya.


Namun, sebelum kepulangan kami pada sore itu, kami sempat menghabiskan waktu di kolam renang, itu pun karena aku yang memaksanya.


"Aku tidak suka melihatmu melamun," kataku.


"So, kamu punya ide? Katakan."


"Bagaimana kalau kita berenang?"


"Aku tidak yakin kalau kita akan berenang sepenuhnya."


Aku tersenyum licik. "Aku akan melakukannya dengan lembut dan sepelan mungkin. Tenang saja." Langsung kugendong istriku dan kubawa ia ke kolam.


Ck! Alasan yang bagus. "Aku tidak keberatan untuk itu. Dan aku sepertinya butuh bantuan melepaskan semua pakaianku."


Suci menahan tawa. "Baiklah," katanya. Dia pun melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhku, juga pada tubuhnya. "Nah, sekarang apa lagi yang kamu butuhkan?"


Aku mengedikkan bahu. "Terserah padamu. Apa pun yang terpikirkan oleh otakmu yang konslet itu."


"Oh, kamu mau tahu seberapa konsletnya aku? Sini." Dia menarik tanganku, lalu menyuruhku duduk di tepi kolam sementara ia masuk ke air. Aku tak sabar, aku tahu apa yang akan ia lakukan setelah menggelung rambutnya ke atas. "Siap?"


Aku mengangguk dengan senyuman. "Lebih dari siap, Sayang. Silakan."


Tiga kata: hangat, nikmat, mantap. Dia semakin ahli dalam menyenangkanku.


Setelah puncak kenikmatan yang pertama kudapatkan, Suci mendongak dan menatapku. "Katakan, dari satu sampai sepuluh, berapa nilaiku?"


"Sepuluh. Bahkan lebih. Mau timbal balik?"


"Tentu saja. Aku layak mendapatkannya, bukan?"


"Sangat layak." Aku turun ke kolam, menangkup belakang kepalanya dengan tanganku dan mendaratkan bibirku di mulutnya. "Please, naiklah."


Dalam sesaat, dengan bantuanku, Suci sudah menempati tempat yang tadi kududuki dan dengan lututnya yang tertekuk. Kemudian, dengan lembut kulingkarkan tangan kiriku ke belakang untuk mendekap tubuhnya sementara tangan kanan bergerak pelan -- membelainya dengan sayang. Sungguh, dengannya aku tidak butuh waktu lama untuk kembali menegang dan siap menyerang.


"Jangan lupa, pelan-pelan saja."


Sungguh ini siang yang sangat menyenangkan.