
"Mas... bangun, yuk?"
Sayup-sayup kudengar suara Suci memanggilku, menarikku kembali dari alam tidur yang baru kumasiku beberapa jam yang lalu.
Semalam, setelah Indie pingsan dan Billy membawanya masuk, aku buru-buru kembali ke kamarku dan Suci. Berpura-pura tidak menguping pembicaraan di antara mereka. Tapi, tak bisa kupungkiri, pengakuan Billy yang luar biasa mengejutkan itu membuatku nyaris tidak bisa tidur hampir semalaman, lebih tepatnya membuatku ikut memikirkan jalan keluar untuk kebaikan semua orang.
Jujur, sempat terpikir olehku untuk mengajak Suci pulang ke rumah, dan meminta semua orang untuk merahasiakan perihal rahasia Billy darinya. Tapi kupikir itu berarti aku egois. Larut dengan pikiranku sendiri sambil mengelus perut istriku, aku pun tertidur dengan posisi tangan melingkar di pinggangnya.
"Aku masih ngantuk, Yang," sahutku masih dengan mataku yang terpejam. Berat sekali rasanya untuk membuka mata. Tapi perut Suci berbunyi, keroncongan karena lapar. "Ayo, kita turun. Aku temani kamu makan, ya."
Kupaksakan mataku terbuka dan mengerahkan segala kekuatan untuk berdiri. Walaupun lambat dan berat, aku berhasil mencapai dapur dan menemani Suci makan. Waktu itu, hari belum terang, di luar pun gerimis tengah melanda pagi yang terkesan seakan tidak akan indah ini, tapi Mbok Sari sudah membuatkan bubur untuk kami semua sarapan. Tapi sayang, belum habis bubur di mangkuk Suci, Indie dan Billy turun dan bergabung untuk sarapan. Meski Indie sudah mandi dan berdandan, tapi sembab matanya tak bisa membohongi semua orang. Nampak jelas dia baru saja menangis.
"Dek, matamu kenapa? Kamu habis menangis?" tanya Suci.
"Biasa, Mbak. Namanya juga ibu hamil lagi cengeng," ia berdusta, dan berusaha menyunggingkan senyum palsu.
"Sudah, Sayang-Sayangnya Mama makan dulu, ya. Beri asupan gizi dulu untuk cucu-cucu Mama. Jangan bahas masalah rumah tangga di meja makan. Paham semua?"
Kami mengangguk. Semuanya hanya bisa mengangguk. Lalu hening. Hanya ada suara dentingan sendok dan mangkuk yang saling beradu. Mencekam, bagaikan suasana di dalam film.
Beberapa menit setelah itu, bubur di mangkuk Suci sudah habis, pun di mangkukku. Kami sudah selesai makan.
"Biar aku saja," kataku, persis ketika Suci baru hendak berdiri untuk menaruh mangkuk bekas makan kami ke wastafel.
"Tapi--"
"Mandi, terus istirahat lagi."
"Em, oke, Ma. Kami permisi, ya. Ayo, Mas."
"Permisi semua." Aku pun berdiri dan segera menggandeng Suci yang belum pulih sepenuhnya dari demamnya semalam.
Di kamar, Suci mulai berjibaku dengan pemikiran-pemikiran buruknya. "Aku bukannya mau ikut campur, maksudku bukannya mau merecoki, tapi wajar, kan, kalau aku mau tahu apa yang terjadi pada mereka?"
Kuhela napas dengan berat dan aku mesti menerapkan apa yang sudah kupikirkan semalaman untuk mengatasi keadaan Suci. "Sini," kataku. Kuajak Suci dan mendudukkannya di tepi ranjang, sementara aku sendiri duduk berlutut di hadapannya. "Aku tahu apa yang terjadi," kataku.
Praktis Suci membuka mulut, "Apa?" tanyanya. "Beritahu aku."
"Well, tapi ada syaratnya. Jaga emosimu. Ingat, ada calon anak kita di sini." Kuelus perutnya dengan sayang.
Suci mengangguk. "Ya. Jadi, apa masalah mereka?"
Oh, tidak semudah itu, Sayang. Jelas dia masih berapi-api. Perlahan saja!