
Bibir cantik istriku maju dua senti tatkala ia mesti mengoleskan poundation ke lehernya yang merah, sementara aku tak hentinya cekikikan. Ia baru saja membenahi bra-nya dan mengancingkan kembali kemejanya sambil merengut. Katanya aku ini menyebalkan, suka sekali membuatnya repot di situasi yang tidak tepat.
"Kamu tahu tidak, saat-saat yang katamu tidak tepat itulah yang justru asyik dan menegangkan. Itu membuat adrenalinku sebagai seorang lelaki sejati jadi tertantang."
No respons. Bibirnya terus mencebik sementara matanya fokus menatap kaca.
"Mas...," Suci merengek menyadari tanganku menyelinap di bawah roknya. "Tunggu pulang saja. Nanti lengket."
Aku menggeleng. "Di belakang kan ada pakaian ganti."
"Tapi kita mau ke rumah sakit, Mas."
"Aku tahu." Tanganku membelai bagian dalamnya.
"Ya sudah, deh. Aku pasrah," rengeknya. Ia pun bersandar dan merebahkan sandaran kursinya, lalu merenggangkan kedua kakinya. "Cepat, ya. Jangan lama-lama."
Eh?
"Kamu mengajak atau memberikan perintah?"
"Mempersilakan, Mas Mesuuuuuuum...!"
"Ya ampun, Sayang. Aku tadi cuma bercanda. Tapi sekarang mubazir kalau mengabaikanmu."
Dia tetap merengut, tapi kali ini tidak sungguhan. Dia justru mati-matian menahan senyum. "Cepat, Mas! Nanti aku berubah pikiran, lo!"
Ya sudahlah. Hayuk saja. Namanya juga dipaksa istri, ya kan? Apalagi dia sudah melepaskan celan* *alamnya. Dilarang mubazir, tahu!
Aku pun membuka ikat pinggangku dan menurunkan ritsleting, lalu beringsut ke atasnya. Kusurukkan kakiku di bawah pahanya yang kini berada di atas pahaku.
"Pas," katanya. Dia sudah rileks. "Jangan lama-lama, ya."
Suci terpejam seiring irama pergerakanku padanya. Saat itu sempat terbesit pertanyaan di dalam benakku, ada apa dengan sosok di hadapanku itu sehingga ia begitu nikmat dan membuatku selalu ketagihan untuk menyentuhnya? Dia terasa begitu manis, bahkan aku bisa mengategorikan rasanya yang juga terasa gurih dan nikmat. Betapa ia membuatku ingin selalu sibuk di ranjang bersamanya, selalu bercinta dengannya.
"Aku tergila-gila padamu," ujarku pelan di telinganya. "Aku sangat tergila-gila."
Suci tersenyum, kemudian membuka matanya. "Sihirku tokcer, kan? Ampuh!"
Gemas. Kukecup ujung hidungnya dengan bibirku. "Biarlah. Mau sihir, kek. Mau guna-guna. Intinya aku bahagia bersamamu."
"Aku juga bahagia bersamamu...!" lengkingnya.
Aku tahu dia sengaja berteriak untuk mengekspresikan diri dan kegilaannya. Dan aku semakin terpancing untuk menggila bersamanya. Lupa, kalau kami berada di pekarangan rumah orang. Lalu...
Dia mengulurkan tangan, melepaskan kancing-kancing kemejaku, dan menanggalkannya dari tubuhku, plus -- juga kaus dalamku. Lalu ia tersenyum sambil mencengkeram rambutku dan menarik kepalaku ke dadanya. "Nikmatilah sebelum waktumu habis."
Kuangkat kepalaku, dahiku praktis mengernyit dan bertanya, "Apa maksudnya?"
"Nanti kalau ASI-ku sudah terisi, aku tidak akan mengizinkanmu bermain-main lagi di sini."
Lipatan gelombang di dahiku semakin jadi. "Santai dong, masih lama, kan? Masih jatahku, Sayang." Kubenamkan kembali bibirku di sana dengan gemas, lalu kami pun kembali memadu cinta.
Cukup lama kemudian, tak terasa keringat kami sudah bercucuran. Kalau sudah begini, aku wajib menempelkan diriku padanya. Dia suka ketika keringat kami menyatu. Membaur. Menempelkan aroma masing-masing pada tubuh satu sama lain.
Dan persis di saat itu, Rhea menghampiri mobil kami. Tidak, bukan aku yang menyadari keberadaan Rhea pertama kali, tapi Suci. Begitu ia membuka matanya, ia melihat perempuan itu berjalan dan beberapa langkah lagi sampai ke mobil kami.
Ya ampun, aku tidak menemukan karakter seperti Suci pada diri perempuan lain. "Ada mantan istrimu," bisiknya. "Pura-pura tidak tahu saja." Dia memejamkan kembali matanya dan mengeratkan dekapan tangannya pada tubuhku. Aku menurut. Dengan rileks aku terus bergerak dengan irama pelan. "Aku mencintaimu, Mas. Aku tergila-gila padamu," ujarnya, semakin menguji adrenalinku dan membuatku semakin tertantang, dan terangsan*.
Setelahnya, aku sedikit menarik diri, lalu menoleh ke luar. Rhea sudah beranjak dari tempat kami. Aku tidak tahu pasti, tapi kemungkinan ia penasaran melihat mobil kami bergoyang-goyang dan ia pasti mengintip kami melalui kaca jendela yang hitam pekat itu. Biar saja, biar dia tahu rasanya terbakar amarah. Seperti yang pernah kurasakan dulu. Pembalasan yang setimpal, bukan? Karma itu selalu ada. Nyata!