Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Lega


Lagi, Suci hanya tersenyum. "Satu lagi," kata Suci, "Indie mau menikah, Ma. Boleh, ya?"


Di saat itulah keceriaan ibu mertuaku mereda. Dia menoleh kepada Indie yang duduk di ujung sofa. Gadis itu berkeringat dingin dan wajahnya jadi pucat pasi. "Kamu kan masih muda, Sayang. Lebih baik kamu selesaikan dulu kuliahmu. Jangan buru-buru menikah."


Oke, ini jelas sudah diprediksi akan terjadi. Tidak akan mungkin berjalan dengan mulus.


"Ma," kata Suci lagi, "ada seorang laki-laki yang berniat bertanggung jawab untuk menikahi Indie. Dia berniat baik, dan sebaiknya Indie menikah supaya ada yang menjaganya. Dia tetap bisa kok melanjutkan pendidikannya."


Sang ibu menggeleng. "Tapi dia masih terlalu muda. Baru delapan belas tahun. Apa tidak--"


Tiba-tiba Indie merosot ke lantai, menangis sesenggukan. "Restui Indie, Ma," isaknya. "Indie sudah berusaha menjadi anak yang baik. Tapi...."


"Indie akan menjadi pribadi yang lebih baik dengan menikah, Ma," ujar Suci.


Indie mengangguk. "Pernikahan ini akan memperbaiki kehidupan Indie, Ma. Masa lalu dan masa depan Indie. Lelaki ini tidak akan mempermasalahkan masa lalu Indie. Indie...."


"Dia siapa?"


Indie menunduk. "Mas Billy."


"Billy...? Billy asistennya Rangga?" Ia memandang ke arahku.


Aku mengangguk. "Ya," kataku.


Lalu ia berdeham. "Mama setuju, tapi... kalau bisa, minta dia menunggu sampai kamu--"


"Ma, ini demi kebaikan Indie," potong Suci.


"Tolong, Ma. Indie mohon...."


"Nak, kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa lalumu. Mama yakin, suatu saat nanti akan ada lelaki baik yang mau--"


Deg!


Malah aku yang ngeri dan merasa jantungku berdegup kencang. Bagaimana ini?


"Demi apa? Kebaikan Indie? Mama tahu, Mama mengerti maksud kalian. Tapi kan...."


Indie sesenggukan dan lebih merosot ke lantai mencium kaki ibunya. "Indie minta maaf...."


"Sayang? Kamu kenapa, Nak?" Ia mulai khawatir dan merasa ada yang tidak beres.


Dengan sigap, Suci yang sedari tadi sudah menangis langsung memeluknya. "Izinkan, Ma," bisiknya. "Tolong...."


"Kalian menutupi sesuatu? Ada yang Mama tidak tahu?"


Suci memeluknya lebih erat. "Tenangkan diri Mama, ya? Tenang, oke? Mama bisa? Suci akan jelaskan."


Ibunya mengangguk.


"Ada hal buruk, tapi itu akan menjadi hal yang baik kalau kita menerimanya, kalau kita membuka mata kita dan memandangnya dari sisi positif. Yang penting Indie, dan kita bersamanya. Benar, kan, Ma?"


Dengan berurai air mata, ibu mertuaku menggeleng-geleng. Yeah, ibu mana yang tidak sakit hatinya mengetahui sang buah hati ternoda, apalagi sampai hamil di luar nikah. Meski belum mendengar pernyataan itu, jelas ia sudah bisa menebaknya.


Sementara Indie masih sesenggukan di lantai, sang ibu mengelus kepalanya. "Apa yang terjadi, Nak?"


"Mama akan punya cucu dari Indie," ujar istriku. "Mama tidak akan membiarkan Indie menggugurkan janin itu, kan? Dampingi dia, Ma. Suci mohon...."


Meski agak lama dan mengalami kesedihan luar biasa, akhirnya ia memilih untuk mengerti dan berdamai dengan kenyataan. Ia memilih memaafkan sang anak, merestui dan merangkulnya. Ada sedikit kelegaan di hati kami semua melihatnya: ia sosok ibu yang sudah lebih tegar dari sebelumnya.


Well, apa yang kami takutkan, tak menjadi kenyataan. Dan aku bersyukur, ini sesuai dengan apa yang kami harapkan.