
"Yang... Sayang... kamu di dalam?"
Ceklek!
Suci membuka pintu kamar mandi dengan rambut tergelung ke atas dan tubuh polosnya yang menawan. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana," katanya pelan. "Jangan panik."
Aku bernapas lega, dan mengangguk. Kepanikan karena melihatnya tak berada di sampingku saat aku membuka mata di pagi itu -- telah sirna dalam sekejap.
"Mau ikut mandi?"
Aku menggeleng. "Duluan saja," kataku. Aku kembali menghempaskan tubuhku ke tempat tidur sementara Suci menutup kembali pintu kamar mandi. Tetapi, pada akhirnya aku berubah pikiran, aku kembali mengetuk pintu kamar mandi itu dan ingin ikut mandi bersamanya.
"Kenapa? Takut aku pergi pas kamu mandi nanti?"
Dia terlalu memahamiku, dan aku hanya mengangguk untuk pengakuan atas ketakutanku itu.
"Jangan khawatir, Mas," kata Suci sambil melepaskan kancing piyamaku satu persatu. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena aku... aku punya cinta yang besar untukmu." Dia berjinjit, mengambil bibir bawahku dengan bibirnya, *elumatku dan memberikan gigitan lembut di sana, lalu menurunkan celanaku. Dia pun berlutut, menggenggamku dengan jemarinya dan menyalurkan gairah sepenuh cinta.
Ugh!
Rasa nikmat pun menjalar, dan *rangan pun tak terelakkan. Harus kuakui, cinta dan *eks adalah terapi paling mujarab dalam hubungan kami. Penenang yang paling ampuh dibandingkan obat mana pun yang ada di dunia ini.
"Nah, sekarang sudah tenang?" tanyanya, dia sudah kembali berdiri di hadapanku.
Aku menggeleng. "Belum," kataku, "sebelum aku membalasmu."
Suci jadi terkikik-kikik, sementara aku sudah mengambil posisi dan berlutut di sana. Kuambil satu kakinya dan menapakkannya di atas pahaku. "Waktunya pembalasan."
"Dasar! Bilang saja kamu mau lagi."
Well, itu juga benar. Di atasku, Suci mabuk kepayang, tak henti menggigit bibirnya menahan nikmat.
"Yang," aku mendongak, "aku masuk, ya?"
Mulai... dia kumat lagi. Suci menurunkan kakinya dari pahaku dan melangkah mundur. Dia pun tersenyum, dan tatapannya tertuju padaku yang sudah kembali hidup di bawah sana. "Ada syaratnya. Bagaimana?"
Dia menggeleng. "Tanya dulu...," protesnya dengan rengekannya yang khas. "Jangan iya iya saja."
"Iya, oke... apa syaratnya, Sayangku?"
"Sini," katanya, dia duduk di samping wastafel.
"Apa?" tanyaku. Aku maju menghampirinya dan membuka interval pahanya.
"No...." Dia menahanku. "Harus deal dulu, baru boleh masuk." Dia melilitkan kakinya di pinggangku.
"Oke, sekarang katakan, apa syaratnya, Nyonya? Akan kukabulkan apa pun itu asalkan bukan hal yang aneh."
Tidak mungkin. Bukan Suci Mayang Sari namanya kalau permintaannya itu tidak aneh. Dia mau aku menemaninya ke supermarket. Dia ingin aku ikut membelikan semua keperluannya, sekaligus keperluan untuk Rhea juga.
"Kenapa? Kan ada Anne."
"Aku mau kamu sayang pada anak itu, seperti kamu sayang pada anak dalam kandunganku."
"Sayangku... aku akan belajar menyayanginya, tapi nanti, setelah tes DNA menunjukkan hasil positif. Oke?"
"Bukan seperti itu caranya, Mas. Itu artinya kamu tidak adil. Aku takut, lo, kalau itu benaran anakmu itu artinya kamu pilih kasih. Jadi anak yang dibeda-bedakan itu tidak enak, Mas. Menyakitkan."
Kuhela napas dalam-dalam dan memilih untuk tidak berdebat dengannya. Aku tahu dan sangat mengerti maksudnya. Dia menggambarkan gambaran masa lalunya. Aku pun mengangguk setuju. "Baiklah. Aku akan menemanimu ke supermarket. Dan aku akan belajar menyayangi anak itu mulai dari sekarang."
"Bagus. Nah, sekarang kamu boleh masuk." Dia melepaskan kakinya dariku dan membuka interval pahanya lebar-lebar. "Silakan, Tuan. Masuklah ke singgasanamu."
Dia sendiri yang mengarahkan. Lalu ia melilitkan kembali kakinya di sekeliling pinggangku.
"Aku minta maaf, ya, soal yang semalam. Aku hanya sedikit shock. Tapi aku percaya, kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu bisa menjadi suami -- dan ayah -- yang terbaik dan terhebat untuk kami. We love you, Papa."
Ya Tuhan, terima kasih. Tak ada lagi kata-kata yang bisa mewakili betapa aku bersyukur memiliki bidadari dalam wujud manusia seperti Suci. Dia yang terbaik. Bidadari tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untukku.
Aku juga mencintai kalian....