
"Serius? Dia bilang begitu?"
"Lu pikir gue main-main?"
"Ya ampun...."
"Gue nggak suka dia merendahkan Suci. Dia pikir istri gue apa sehingga dia bisa mencicipinya? Makanan?"
"Raymond... Raymond. Gila, ya, tu orang. Atau mungkin... dia benar-benar punya perasaan ke Suci, Ngga?"
Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Bisa jadi iya. Tapi menurut gue dia hanya nggak bisa menerima kekalahan. Lu tahu sendiri, kan, gimana wataknya dari dulu? Dasar cowok berengsek. Benar-benar bajingan dia."
"Tapi ini beda, Man. Lu ingat waktu dia cerita kalau dia mau nikah? Waktu kita di peternakan kuda waktu itu, lu ingat, kan? Dia semringah, Man. Gue lihat dia sangat bahagia hari itu."
Aku mendengus keras. "Apa pun itu, dia sudah mencampakkan Suci. Tidak ada alasan lain. Dia tidak bisa mengulang masa lalu. Dan sekarang dia mesti menghargai Suci sebagai istri gue. Just it. Dia harus move on. Harus."
"Iya, sih. Terus, sekarang...."
"Nggak ada terusannya. Dia sudah resign."
"Apa?" Mata Roby terbelalak.
"Nggak usah kaget, lu. Biasa aja."
"Terus lu biarin dia resign? Ya ampun, Ngga."
"Gue udah nahan dia, Rob. Tapi kalau syaratnya mesti nyicipin istri gue, mending dia yang gue buang jauh-jauh. Coba lu yang ada di posisi gue, Rob, lu juga pasti bakal emosi kalau ada yang mau nyicipin istri lu. Iya, kan?"
Ups!
Aku salah bicara. "Sori," kataku. "Sori, maaf. Gue... gue nggak bermaksud menyinggung lu. Maaf, ya? Gue beneran...."
Roby mengangguk. "It's ok. Gue paham, kok. Gue tahu lu--"
Tok! Tok!
Suara Billy terdengar dari luar pintu.
"Masuk."
"Permisi, Tuan. Ini--"
Sebuah gaun pesta dari butik langganan Rhea dulu, yang sekarang menjadi butik langganan Suci -- sudah berada di tanganku.
"Lu ada acara?" tanya Roby.
"Em, ulang tahun Dirgantara Group."
"Terus, gaun itu? Lu mau ajak Suci? Serius lu?"
"Dia yang mau ikut. Mau gimana? Masa gue tolak? Gue bilang gue nggak mau pergi aja, dia udah mikir aneh-aneh."
Roby terdiam. Sementara...
"Memangnya kenapa, Mas Roby?" seru Suci dari balik pintu.
Ya ampun... istri belia-ku, dia suka sekali menguping di balik pintu. Dasar perempuan, ya, kuping mereka tajam sekali kalau mereka sedang dibicarakan.
"Tidak, kok. Cuma kamu harus siap mental lo, ya, kalau orang-orang pada nanyain mantannya si Bos. Tidak semua orang tahu kalau Rangga sudah punya istri baru."
Suci membuka pintu. "Ya, ya, anggap saja latihan mental, ya kan?" sahutnya seraya mengambil gaunnya. "Lukamu masih perih?"
"Nggak...."
"Hmm... maafin aku, ya. Semua ini gara-gara aku."
"Kan... kamu mulai lagi. Stop, ya. Kamu jangan merasa bersalah terus."
Masih dengan perasaan bersalahnya, Suci duduk di sampingku dan mengamati luka di tanganku. "Kenyataannya memang begitu. Kalau tidak ada aku, kalian tidak akan ribut. Mas Raymond tidak perlu resign dari sini."
Euw!
Aku melirik ke Roby. "Sori, ya, bukannya ngusir. Tapi kalian mesti pergi sekarang."
"Ya sudah, ya sudah. Kita mengerti. Ayo, Yang." Roby dan Jessy pun berlalu.
Nah, wanita muda kesayanganku ini harus diberi sedikit pelajaran manis.
"Kamu mau apa, Mas...? Iiiiih... jangan sekarang... aku harus dandan dulu...."