
Tentu saja, aku menolak. Tapi kau sudah memahami sendiri, kan, bagaimana watak istriku itu? Dia sangat keras kepala. Dan dalam situasi seperti ini, dia tidak bisa diatur. Semakin aku keras, dia balas keras terhadapku.
"Untuk hal semacam ini, aku mesti memegang kendali," katanya. "Kamu yang harus menurut padaku, demi kebaikan kita."
Ya ampun... kuhela napas dalam-dalam lalu mengiyakan. "Baiklah, ayo."
Aku menghubungi Billy dan bertanya ke mana mereka membawa jasad itu.
"Di halaman belakang rumah saya, Tuan. Peti sudah siap, jasadnya sudah dibersihkan. Simon dan yang lain sedang menggali lubang untuk makamnya."
Boleh juga dia, pikirku. Mau-maunya Billy merelakan halaman belakang rumahnya untuk menguburkan jasad itu. Ah, terserahlah. Toh, ini gara-gara permintaan istriku yang sekarang seakan sudah menguasai singgasananya sebagai seorang ratu.
"Oke, saya ke sana," kataku kemudian.
Setelah memutus sambungan telepon, aku langsung mengajak Suci ke sana. Sesuai keinginannya: untuk memastikan jasad itu dimakamkan dengan layak.
"Puas?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Ya. Tunggu sampai kamu benar-benar bisa dipercaya, baru aku tidak bawel lagi."
"Kamu tidak percaya padaku?"
"Sama seperti kesetiaan, kepercayaan itu mahal."
"Hmm... apa itu maksudnya...? Aku tidak mengerti."
Dia tersenyum. "Sudahlah, tidak usah dibahas. Lebih baik diam. Kita hormati jasad yang mesti dikuburkan itu. Oke?"
"Tuan, apa mesti pakai batu nisan?" tanya Billy.
Aku menoleh ke Suci. "Tanyakan pada Nyonya kita."
"Harus. Terserah mau pakai nama atau tidak."
Well, setidaknya bukan aku yang menggali dan masuk ke lubang itu.
"Kenapa mesti pakai peti?" gerutu Simon. "Kenapa tidak seperti waktu itu saja biar nggak ribet? Kan praktis, tinggal timbun, beres."
Sialan ini orang. Mulutnya benar-benar lemes.
"Waktu itu? Maksudnya? Kalian sudah pernah menguburkan orang seperti ini? Iya, Mas?"
Argh! Simooon... nyet!
"Kamu mesti menjelaskan ini," kata Suci.
Kuhela napas dalam-dalam dan berusaha serileks mungkin, meski mereka yang memegang sekop itu saling menyikut menyalahkan Simon.
"Yang...," kataku dengan ekspresi ekstra memelas, memohon belas kasihan dan pengampunan dari istri belia-ku itu, "kamu kan sudah bilang sendiri, kamu akan membantuku lepas dari kelamnya masa lalu dan semua kekacauan yang pernah kubuat. Please, jangan marah, ya? Masa lalu tidak bisa diubah. Tapi aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bantu aku, ya? Jangan marah-marah. Please... aku mohon, Sayang?"
Padahal dalam hati aku waswas dan mengutuk Simon, awas saja kalau dia sampai kelepasan -- mencetuskan tentang jasad lelaki yang tidak sengaja terbunuh oleh Suci waktu itu. Jika tidak, Simon juga akan kumakamkan di lubang itu bersama jasad Biktor.
"Rileks, ya. Lebih baik kita pulang. Biar Billy yang mengurus pemakaman ini sampai selesai. Oke?"
Dia tidak mau. "Aku belum percaya sepenuhnya pada kalian semua," singitnya.
Yeah, terserahlah, pikirku. Jadi kualihkan pikiranku ke lubang yang menganga di tanah.
"Bill," panggil Suci.
"Ya, Nyonya. Ada apa?"
"Kamu tahu latar belakang Biktor? Mungkin dia punya istri atau anak?"
Billy yang sempat terdiam akhirnya menggeleng. Dia melirikku. Rasanya aku ingin melotot padanya, tapi ternyata aku tak bernyali. Kenapa aku jadi begitu takut pada perempuan muda ini?