
"Dia mengancam saya, kalau terbukti hilangnya Stella ada hubungannya dengan saya, maka dia akan membuat perhitungan terhadap saya. Sebab itu, saya perlu pengamanan untuk Indie."
Argh! Aku mengeran*!
"To the point, kenapa Roy curiga padamu?"
"Ya... mungkin... dia tahu Stella sering mencari saya. Maksud saya... beberapa kali."
"Jangan bilang perempuan yang mengaku hamil itu Stella. Iya? Mengaku kamu!"
Billy diam. Dan itu sudah cukup sebagai jawaban iya untukku.
"Berengsek kamu, Bill!"
"Dia yang mencari saya, Mas. Bukan saya yang mendatanginya."
"Ya tetap saja," raungku. "Itu Stella, dan kamu mengenalnya dengan baik!"
"Tapi saya selalu sadar melakukannya, bukan dalam keadaan mabuk. Dan saya sadar betul saya bermain dengan pengaman. Dan, perlu Mas ingat, itu di luar pekerjaan saya. Dan itu juga terjadi sebelum saya menikah dengan Indie."
Ini gila! Aku tahu Stella memang cantik dan menggoda, dan Billy adalah sosok lelaki normal. Tapi harusnya dia bisa mengendalikan diri. Bermain-main dengan Stella sama saja mencari perkara. Seharusnya dia belajar dari pengalamanku dulu. Dan sialnya, Indie terjebak di dalam lingkaran ini. Seperti Suci, dia juga terancam.
Dasar kucing! Aku menghardik dalam hati. "Di mana Stella? Saya yakin kamu tahu keberadaannya."
"Maaaaas...!" teriak Suci dari dalam.
"Di mana jasadnya?" tanyaku.
Billy bungkam, dan akhirnya mengaku setelah aku memaksanya lebih keras. Mungkin ia takut suaraku akan memancing keluar Suci dan Indie yang berada di dalam rumahnya, padahal di saat itu Indie memang sudah menguping di balik pintu di saat Suci sedang ke toilet.
"Sudah habis dimakan buaya."
Ya Tuhan....
"Gila kamu, Bill!" hardikku.
Ia hanya terdiam.
Billy memang punya beberapa ekor buaya di dalam satu kandang di belakang rumahnya. Dan aku tak habis pikir kalau ia akan menggunakan hewan-hewan buas itu untuk melenyapkan seseorang.
Dan persis beberapa saat setelah pengakuannya itu, Suci berteriak histeris memanggil kami. Indie pingsan.
Seketika semuanya buyar dalam kepanikan. Aku tidak bisa melanjutkan introgasiku. Billy yang panik karena menyadari: ini kedua kalinya Indie pingsan dan terjatuh ke lantai, ia langsung menggendong sang istri, memasukkannya ke mobil dan meminta Diego mengemudikan mobilnya. Mereka segera melesat menuju rumah sakit. Kemudian disusul olehku dan Suci yang tak kalah panik memikirkan sang adik dan calon keponakan. Tentu, kami berharap kandungan Indie baik-baik saja. Suci tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi hal yang buruk pada calon keponakannya itu. Ia bahkan mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menahan pipis hingga teledor membiarkan Indie sendirian dan menguping pembicaraan kami.
"Jangan salahkan dirimu sendiri! Kamu kebelet, mau tidak mau kamu harus ke toilet! Aku tidak suka kalau kamu seperti ini! Rileks! Ingat anakku di dalam perutmu! Kamu paham?"
Dia hanya mengangguk dan mulai mengatur emosinya.
Sesampainya kami di rumah sakit, Indie sudah mendapatkan tindakan medis. Dan, tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu. Hanya menunggu.