
Sial! Aku kehilangan jejak Suci. Ke arah mana dia berbelok? Aku cemas. "Sayang... kamu di mana?"
"Maaf, Pak," kata seorang OB. "Tadi saya lihat istri Bapak lari ke arah toilet."
Oh, syukurlah. Aku lega dan mengucapkan terima kasih, kemudian langsung bergegas menyusul Suci ke toilet. Sesampainya aku di sana...
Raymond?
Tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan Raymond pada Suci. Saat aku sampai di toilet, aku mendengar suaranya.
"Kamu harus memperhitungkan semua rasa kecewaku," ia berkata kepada Suci. "Sudah tidak perawan juga, kan?"
Sabarlah, Rangga, sabar. Kau sudah berjanji untuk bicara baik-baik.
Dengan perlahan aku membuka pintu depan toilet, dan...
Argh!
Di depan mata kepalaku, aku menyaksikan pemuda berengsek itu menekan tubuh Suci dan menghimpitkannya ke tembok. Bahkan ia membekap mulut Suci dengan tangannya dan tengah membenamkan bibirnya di dada Suci. Dan, lebih dari itu, ternyata pakaian Suci sudah robek karena ditarik paksa oleh Raymond. Aku meradang, seketika, niatku untuk bicara baik-baik sudah kandas dan tak berbekas.
"Berengsek!" raungku. Kemarahanku seketika memuncak menyaksikan istriku dilecehkan oleh sahabatku sendiri.
Brak!
Dia tersentak menerima kotak sampah menyambar kepalanya. Ia menoleh ke pintu toilet yang sudah terbuka dan menyadari keberadaanku, tapi ia tetap tidak melepaskan Suci.
Aku berjalan dari belakang tubuhnya ke hadapannya. Seraya mengitarinya, aku memindahkan pistol dari belakang ke pelipis kirinya. Setelah berhadapan, kutekan ujung pistolku ke dahi Raymond. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah. Tetapi itu tak lantas membuat amarahnya menurun. Kami beradu pandang. Tinggi kami hampir sama dan wajah kami hampir sejajar. Mata hitam pekat Raymond menatap tajam padaku, menusuk, rahangnya terkatup rapat, berkedut menahan marah. Pun aku, yang tak kalah marah padanya.
"Berani-beraninya lu nyentuh istri gue," kataku berang.
Raymond terbelalak. Seketika itu juga ia menurunkan kedua tangan, lupa sedang ditodong pistol. Jari telunjuknya menunjuk Suci. "Istri? Wanita murahan ini?"
Bug!
"Lu yang murahan!" Aku mendorong Raymond mundur sampai punggungnya membentur tembok dengan keras. Kucengkeram kemejanya dan menodongkan pistol ke pipinya. "Ini peringatan keras, jangan pernah lagi lu berani menyentuh istri gue. Jangan sekali-kali bersikap kurang ajar pada Suci! Ngerti?"
"Pengkhianat!" Raymond berteriak. "Lu, kan, yang udah nikung gue?"
Tak ada jawaban. Satu pukulan langsung menghantam rahangnya dengan keras.
Suci yang sedari tadi terisak langsung menjerit, sementara Raymond terhuyung memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Aku hendak melayangkan satu pukulan lagi ketika Raymond berteriak marah, "Lu yang udah ngambil keperawanan dia? Heh?"
Kepalan tanganku berhenti di udara mendengar Suci histeris. Dia memandangku dengan muram dan memintaku untuk berhenti berkelahi. "Tolong, berhenti... dia sahabatmu," kata Suci -- mengiba padaku.
Tapi itu tidak berarti apa-apa bagi Raymond. Dia tertawa sumbang. "Sahabat? Sahabat macam apa yang merebut tunangan sahabatnya sendiri? Hah?" kata Raymond marah. "Dasar berengsek! Sialan!" Ia menyeka darah di wajahnya sambil mengumpat. "Lu berengsek! Teman paling berengsek yang pernah gue kenal! "Lu merusak persahabatan kita hanya demi perempuan murahan ini? Lu gila!" teriaknya, suaranya tiba-tiba serak. "Lu tahu, kan, keperawanannya itu harusnya jatah gue?"
Bug!