
Makan malam itu berlangsung dengan hangat meski tiga pasang mata yang ada di hadapanku masih sembab. Itu tak lantas mengurangi keceriaan kami di malam yang mengharu biru itu.
"Ehm, Sayang, Indie, Suci, Rangga... boleh Mama mengajukan satu syarat untuk pernikahan Indie dan Billy? Satu syarat saja, boleh?"
Deg!
Kami saling melirik satu sama lain, plus mengangguk. "Mama mau minta apa?" tanya Suci.
"Mama ingin Indie dan Billy tinggal di sini. Mama tidak mau tinggal sendirian. Kalian bisa membujuk Billy, kan?"
Suci melirikku, seakan meminta jawaban dariku. Sementara aku juga tidak tahu mesti mengatakan apa.
"Nanti coba Rangga bicarakan dengan Billy. Tapi Rangga tidak bisa menjanjikan apa-apa. Semoga Billy bersedia, ya."
Dalam hati aku berharap, semoga asistenku satu itu tetap loyal dan bersedia melaksanakan apa pun yang kuperintahkan kepadanya, kendati sebentar lagi ia menjadi adik iparku.
Setelah makan malam itu, Suci menemani ibunya di ruang keluarga, menikmati tontonan di layar televisi yang menyajikan tontonan khas untuk kaum ibu-ibu rebahan tengah malam. Sementara aku sendiri mesti lanjut mengerjakan pekerjaan kantor yang menumpuk. Kalau tidak dikejar dan dicicil pengerjaannya, aku akan kewalahan sendiri. Untung saja ibu mertuaku dengan baik hati mengizinkan aku menggunakan ruang kerja mendiang suaminya, dan istriku yang begitu pengertian bersedia menyiapkan kopi untukku.
"Supaya tidak mengantuk," ujarnya.
"Katanya tidak boleh minum kopi?"
"Tidak apa-apa. Tapi... pas kamu lagi super sibuk saja, ya. Tidak boleh setiap hari."
Aku tersenyum pada istriku yang sangat penyayang itu. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik."
Dia mengangguk dan balas tersenyum. "Maksimal sampai jam sepuluh, ya. Lemburnya tidak boleh ekstra. Kamu harus tetap menjaga kesehatan."
"Iya, Sayang. Sana gih, kamu temani Mama."
Dia pun keluar setelah satu ciuman sayang yang ia pinta mendarat di pipinya. Sikap manjanya benar-benar manis, sama manisnya ketika jarum jam sudah menunjuk ke angka sepuluh. Dia masuk lagi ke ruang kerja dan menegurku yang masih berkutat dengan berkas dan dokumen-dokumen yang menumpuk itu. "Sudah jam sepuluh lewat," tegurnya.
"Sebentar, Sayang. Satu berkas lagi, tanggung."
Sambil mengawasi berkas-berkas yang sudah tersusun rapi dan beberapa lembar yang masih ada di tanganku, juga beberapa lembar yang berada di atas meja, Suci duduk di pahaku dan melingkarkan satu tanganku di pinggangnya. "Masih lama, ya?"
"Aku duluan ke kamar, boleh?"
"Yes, sure." Kulepaskan tanganku dari pinggangnya yang kupikir ia akan langsung berdiri. Tetapi...
Dia mencium bibirku, lalu tersenyum manis. "Lagi," katanya.
"Pancingan," kataku sambil balas tersenyum. Dan kami berciuman sekali lagi. "Tunggu di kamar. Aku menyelesaikan pekerjaanku dulu, nanti aku menyusul."
Hah! Dia malah merengut.
"Hanya sebentar, Sayang. Tidak akan lebih dari setengah jam, ya."
Dia menggeleng. "Lima belas menit," tawarnya.
"Tidak bisa." Aku pun balas menggeleng. "Minimal dua puluh atau dua puluh lima menit. Harus teliti. Terburu-buru itu tidak baik. Oke?"
Dia mengangguk, memberikan satu ciuman lagi dan lekas beranjak dari pangkuanku.
Dan, dua puluh menit kemudian...
"Sudah?" tanyanya waktu aku masuk ke kamar. Ia tengah selonjoran di sofa sambil bermain ponsel.
Aku mengangguk, lalu menggosok-gosok wajah dan menghela napas. "Sudah," kataku, "tapi bukan berarti semuanya. Hanya yang deadline saja." Aku berbaring di sebelahnya. Kubenamkan wajahku di lekukan lehernya dan memeluk tubuh cantiknya erat-erat. Dia wangi sekali, seperti baru saja menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Kalau aku tidak terbiasa, pasti aku sudah merinding mencium wangi melati di tengah malam begini.
"Kamu ngapain, sih?" tanya Suci sambil menyingkirkan tanganku dari kepalanya.
Aku terkikik, lalu berkata, "Nyari paku."
Haha!
Dia merengut lagi. Semakin menggemaskan.