
Hatiku berdendang ria. Bagaimana tidak jikalau setelah mandi pakaianku sudah tersedia di atas tempat tidurku yang sudah rapi. Istriku pun sudah cantik meski dengan dandanannya yang sederhana. Dia sangat cocok dengan setelan kemeja kerjanya, berpenampilan ala sekretaris muda yang anggun. Dan... dia bahkan menyempatkan diri mengenakan dasi dan jasku meski aku bisa melakukan hal itu sendiri. Aku sempat menolak, tapi dia bersikeras melakukan itu.
"Biarkan aku berbakti," katanya.
Uuuh... meleleh aku.
Rangga bahagia, Ma. Suci benar-benar sosok istri yang hangat dan perhatian.
"Hanya sebuah perhatian kecil," ujarnya, seolah dia tahu isi kepalaku. "Aku akan sesering mungkin melakukan ini selagi aku bisa dan belum repot dengan urusan anak."
So sweet....
Praktis aku tersenyum bahagia diperlakukan semanis itu. "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar sosok istri idaman. Aku beruntung memilikimu. Cantik, baik, penyayang, perhatian, semuanya ada padamu."
"Em, kukira aku layak mendapatkan satu ciuman?"
Ah, tentu saja, satu ciuman. Satu di kening, satu di pipi, dan satu di bibir.
Triple point! Dia terkikik.
"Yakin mau langsung bekerja? Tidak mau bulan madu dulu?"
Dia menggeleng. "Kita sudah membahas ini sebelum menikah. Lagipula, setiap hari bersamamu itu kan serasa bulan madu. Ngapain pergi jauh-jauh? Yang penting kan kebersamaan dan kemesraan kita. Iya, kan?"
Yap, dia benar. "Hmm, its ok. Lagipula... kita sudah pernah bulan madu di Singapura."
Lagi-lagi dia terkikik. "Jangan diingat lagi, dong, Mas. Itu kenakalanku. Aku malu. Tolong dilupakan, ya." Bibirnya mencebik ala gadis belia. "Oke, suamiku sudah tampan dan rapi. Ayo, kita turun, lalu sarapan. Sup hangat sudah menunggumu."
Aku mengangguk, meraih dompet dan jam tanganku di atas nakas lalu memakainya. "Ayo."
"Aku tidak punya tongkat...," gumamnya.
"Susu?"
Aku menyeringai melihat dua gelas susu di atas meja. Ya ampun, kapan terakhir aku minum susu? Sudah tidak pernah lagi semenjak zaman kuliah dulu. Sudah lama sekali.
"Yap, susu," katanya. "Mulai sekarang kamu harus minum susu atau jus buah. Mau cepat punya anak, kan? Jadi mulai sekarang aku akan melarang suamiku mengkonsumsi kafein, nikotin, dan alkohol. No debat. Kamu harus hidup sehat. Oke?"
Hmm... baiklah, aku akan menurut. "Kamu persis mamaku. Dia dulu sering memaksaku minum susu."
"Bagus, dong. Kamu tahu, aku percaya -- orang yang memberi kita minum susu, berarti dia sangat menyayangi kita. Artinya, mamamu sangat menyayangimu, kan?"
Aku tersenyum simpul. "Berarti kamu juga? Kamu sangat menyayangiku?"
"Pertanyaan macam apa, sih, itu? Perlu kujawab? Hmm?"
Giliran aku yang cekikikan. "Ya, ya, aku tahu. Aku akan minum susumu."
Eh?
Spontan aku ngakak. Ya ampun mulutku.
"Ih, kamu, ya!" suaranya melengking, dengan mata melotot tajam dan bibir mengerucut. Tapi tetap saja cantik, manis dan imut.
Istri siapa? Istri Rangga Sanjaya, dong....
"Maaf, Sayang. Aku salah omong, maksudku... susu buatanmu. Susu, minuman yang hangat dan manis."
Haha. Wajah Suci merah padam menahan malu menyadari seisi dapur menahan tawa.