Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Keteledoranku


Pagi menjelang siang pada keesokan harinya, aku dan Suci baru saja hendak mengantarkan Rhea pulang ketika Indie tiba-tiba saja datang dengan kemurungannya.


"Kamu kenapa?" tanya Suci. Ia langsung keluar dari mobil begitu melihat sang adik berdiri di luar pagar. Indie nampak bingung dan ragu. Ia seperti hendak mengurungkan niatnya menemui Suci kalau saja kami tidak kebetulan meluncur di saat bersamaan.


Pasti sesuatu yang buruk, pikirku. Ekspresi gundah tersirat nyata di wajah Indie. Lalu...


"Aku... aku mau bicara, Mbak," kata Indie. "Tapi tidak apa-apa kalau Mbak sedang sibuk."


Suci menggeleng, lalu menoleh kepadaku. "Tidak apa-apa," kataku, "kalian bicara saja dulu." Aku pun langsung menyuruh Rhea kembali masuk ke dalam rumah.


"Apa kita bisa bicara berdua, Mbak?"


Aku mengangguk. "Tidak apa-apa, silakan," kataku lagi saat Suci meminta izin lewat tatapannya. "Ajak Indie ke ruang kerjaku."


Suci balas mengangguk. "Permisi, Mas," katanya. Ia dan Indie pun lekas meninggalkan tempat.


Karena penasaran, aku mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka. Bukan bermaksud jahat, aku hanya merasa bertanggung jawab pada mereka karena aku satu-satunya lelaki terdekat yang ada di dalam keluarga mereka. Aku harus tahu apa yang terjadi pada Indie yang sekarang merupakan adik iparku, meski ia tidak sedarah dengan Suci.


"Ada apa?" tanya Suci.


Indie masih diam untuk beberapa saat, lalu ia berkata, "Aku mau meminjam uang, Mbak."


"Untuk apa? Ada kegiatan kampus?"


Indie mengangguk, kemudian menggeleng. "Aku tidak mau berbohong, tapi...."


"Kenapa?" suara Suci mulai menyiratkan rasa khawatir. "Mama baik-baik saja, kan?"


Saat itulah air mata Indie menetes, yang kukira ada hal buruk yang terjadi pada ibu mereka, yang notabenenya saat ini beliau merupakan ibu mertuaku, ternyata bukan. Bukan itu.


"Mama baik, sehat."


"Aku butuh uang."


"Untuk apa? Mbak akan kasih kalau kamu--"


"Aku mau *borsi."


Deg!


Aku ikut terkejut, meski tak terlalu tersentak seperti Suci. "Kamu hamil?"


Indie langsung merosot ke lantai memeluk kaki kakaknya. Dia meminta maaf sambil menangis sesenggukan. "Maaf, Mbak. Aku sudah mengecewakan. Tapi tolong jangan beritahu Mama. Aku takut Mama kenapa-kenapa."


Sambil menangis, Suci menarik tubuh sang adik hingga berdiri. "Siapa yang menghamilimu?"


Indie menggeleng. "Aku tidak tahu, Mbak."


"Apa Billy?"


Indie tertegun, kemudian memaksakan kepalanya menggeleng. "Bukan, Mbak. Bukan. Emm... Mbak kan tahu kalau aku dulu--"


"Jujur, Dek... jangan bohongi Mbak. Kamu pasti tahu, kan, itu anak siapa? Hmm? Billy, kan?"


Suara tangis mereka beradu, menggema di dalam ruang kerjaku yang harusnya kedap suara dari luar. Saking seriusnya mereka bicara, mereka tidak menyadari keberadaanku dan pintu yang tak tertutup rapat. Dan, melihat Indie mengangguk, amarah menyelinap di dalam benakku -- sekaligus rasa bersalah. Bodoh! Kalau saja aku tidak pernah memerintahkan Billy untuk pura-pura mendekati Indie saat kami di Singapura, hal ini tidak akan terjadi. Indie tidak mesti hamil benih dari Billy.


"Tapi aku tidak bisa bilang begitu, Mbak. Mas Billy tidak mungkin percaya. Kalian juga tahu kalau dulu itu aku...." Dia menggeleng. "Aku pernah berhubungan dengan banyak lelaki. Siapa yang akan percaya kalau anak ini--"


Suci memeluknya sejenak. "Tenangkan dirimu, oke? Sekarang ceritakan, kenapa kamu yakin kalau itu anaknya Billy?"