
"Kamu masih berapi-api, Sayang."
"Baiklah-baiklah. Oke, aku rileks." Dia menghela napas dalam-dalam. "Sekarang katakan. Aku pasti kuat, kok."
"Baiklah," kataku. "Dengarkan aku dulu, ya? Oke?" Aku berdeham. "Masalah ini cukup berat untuk Indie. Dan ini pasti akan membuatmu dan Mama ikut sedih. Jadi, biarkan aku memberitahumu dengan cara terbaik, supaya kamu tidak terkejut. Sampai sini kamu paham? Oke. Kita bahas ini sambil mandi."
Dia mendelik. "Ribet sekali, sih, Mas. Tinggal bilang saja, ada apa?"
"Hei, hei, hei... rileks. Kandunganmu rentan. Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa. Paham?"
Suci mengangguk. "Baiklah. Aku ikut caramu."
"Bagus! Tapi sebentar." Aku membenamkan wajahku di perutnya. "Hei, Jagoan Papa. Janji, ya, kamu yang kuat. Papa menunggumu, menantikan kelahiranmu. Oke? I love you so much, Sayang."
Suci melow. Dia menyentuh kepalaku dan mengelusnya perlahan. "Aamiin. Aamiin, Mas."
"Jangan cuma mengaminkan. Jaga dia baik-baik dan kontrol emosimu."
Kali ini ia nyengir. "Iya, ini lihat, aku sudah lempeng, kan?"
"Oke. Ayo, kita ke kamar mandi."
Istriku menurut, dia memang sudah nampak santai sementara aku memperhatikannya sambil menyiapkan air hangat.
"Dimulai dengan kata ada," kataku.
"Apanya?"
"Informasi itu, dimulai dengan kata ada."
"Ada, ada apa?"
"Kata keduanya orang."
"Ada orang?"
"Hu'um."
"Terus?"
"Nanti. Buka dulu pakaianmu."
"Ih, kamu mah...."
"Awas... jaga emosi...."
"Iya, Mas. Iya...."
"Yang."
"Em, kenapa?"
"Kata ketiganya Yang."
"Oh, kukira kamu memanggilku."
"Tidak. Rangkailah."
"Rangkailah ketiga kata itu."
"Oh, sebentar. Maksudnya... em, ada, orang, yang?"
"Iya, ada orang yang."
"Yang apa?"
"Buka dulu pakaianmu."
Dia mencebik, aku pun bangkit, kuhampiri ia dan melucuti pakaiannya, plus pakaianku juga. "Nah, sudah. Terus apa lagi?"
"Lempengin otak!"
"Ya ini lempeng...."
"Mana ada. Itu meteran ampernya masih bergeser. Asapnya mulai ngebul."
Merengut. Cebikannya malah bertambah dua senti. "Apa sih...? Ada orang yang? Yang datang, yang suka, yang cinta, yang--"
"Yang mengaku."
"What? Mengaku? Mengaku apa? Mengaku... istri...? Iya? Atau...?"
"Yang... ingat kandungan." Kupeluk ia dari belakang dengan erat. "Dengarkan kata suami."
"Mas... katakan... ada orang yang mengaku apa? Ada yang mengaku istrinya Billy? Pacar Billy? Atau... jangan-jangan... mengaku hamil?"
Kupalingkan wajah Suci menghadapku untuk menciumnya. "Rileks, oke? Jangan mengikuti pikiranmu. Hargai aku di sini dan respons ciumanku."
Dia tidak nyaman. Tapi aku tidak menyerah. Sambil membungkam bibirnya dengan mulutku, kuputar tubuhnya perlahan lalu menghimpitkannya ke dinding. "Mas...?"
"Please, aku suamimu. Dengarkan kata-kataku." Kutatap tajam matanya hingga ia menunduk. "Seperti Rhea yang mengaku hamil anakku, ini juga belum tentu anaknya Billy. Dan yang terpenting dari itu semua -- bagaimana kita menyelesaikan masalah ini, kita bantu mereka. Jangan mengedepankan ego. Oke? Ingat pada anakku yang mesti kamu jaga baik-baik. Anakku."
Sengaja kutekankan menyebut janin itu "anakku" -- hingga Suci terpengaruh. "Anak kita," ujarnya.
"Kalau kamu merasa itu anakmu juga, maka sayangi, jaga. Paham, kan?"
Dia mengangguk.
"Sekarang sudah tenang?"
"Iya," katanya -- memaksakan jawaban.
"Belum. Belum reda semua. Kamu perlu disuntik obat penenang."
"Apa, Mas? Tidak per...lu." Dia cekikian begitu aku mengangkat kakinya. "Oh, suntikan khusus?"
"Em, pakai suntikan khusus. Obat penenang yang paling ampuh. Kamu butuh itu. Mau, kan, kusuntik?"
Tentu saja, aku mesti berperan sebagai dokter siaga. Akan kulakukan apa pun caranya demi menjaga calon anakku. Tak akan kubiarkan apa pun dan siapa pun merenggutnya dariku.
Aku berjanji, akan kujaga ia dengan nyawaku.