
"Buka kacanya, mungkin dia mengira kita polos-polosan lagi."
Aku tertawa. "Itu yang kumau."
"Dasar gila!"
Kaca mobil terbuka. "Masuk," kataku.
Dengan wajah masamnya, Rhea masuk dan duduk di kursi belakang. Suasana pun mendadak hening di sepanjang perjalanan hingga kami tiba di rumah sakit.
Sial! Benci sekali aku dengan tatapan orang-orang yang mengantre untuk pemeriksaan itu. Jelas, ini terjadi karena aku lelaki yang datang dengan dua orang perempuan sekaligus yang sekarang duduk di sisi kanan dan kiriku. Rhea bersikeras ingin ada di sebelahku. Sementara Suci tidak ingin ada keributan di rumah sakit, jadi dia memintaku untuk membiarkan saja perempuan itu berada di sampingku.
"Jangan berani-berani menyentuhku dengan tanganmu kalau tidak ingin kupatahkan!" kataku pada Rhea dengan sepelan mungkin. "Dan kamu," kataku pada Suci, "jangan berani-berani melepaskan tanganmu dariku."
Dia menahan tawa. "Dasar suami posesif," ledeknya seraya balas menggenggam erat tanganku.
"Biar saja. Bahkan kalau mau, aku bisa menempelkan tulisan istri dan mantan istri di badan kalian berdua."
Suci bersandar di bahuku. "Tidak perlu," katanya. "Tenangkan hatimu, ya. Biarlah orang berkata apa. Yang penting kita bahagia." Lalu ia tertawa lagi. "Itu lagunya Armada."
"Oh, lucu sekali."
"Terima kasih."
"Terima kasih juga atas informasinya."
"Ya. Sama-sama. I love you, Mas Sayang."
Aku tidak menyahut.
"Dijawab, dong...."
"Kamu membuatku gemas. Ke toilet, yuk?"
"Sinting! Dasar suami mesum!"
Tapi itu tidak sepenuhnya.
"Nyonya Rhea Sanjaya."
What?
Aku dan Suci sama-sama terpelotot mendengar suster memanggil namanya -- dan, menegakkan bahu.
"Sabar, Mas," kata Suci membujukku. "Biarkan saja. Sabar, ya, nanti malam kuservis. Kuberi kamu pelayanan ekstra, oke?" Dia mengerling nakal.
Kuhela napas dalam-dalam lalu mecubit hidungnya. "Itu tidak lucu, Sayang!"
"Terserah. Pokoknya nanti malam kuservis. Ayo kita masuk."
Dan... sama seperti keadaan di luar ruangan tadi, dokter spesialis kandungan itu juga rada-rada memandang aneh kepada kami. "Silakan duduk," katanya.
Karena di dalam ruang pemeriksaan itu hanya ada dua kursi, aku berdiri di belakang kursi yang diduduki Suci.
Dan semua yang terjadi berikutnya menjadi samar. Aku sama sekali tidak antusias atas pemeriksaan kandungan Rhea. Karena memang: tidak ada rasa, bahkan sedikit rasa penasaran atas perkembangan janin itu pun tidak ada. Dan begitu suara jantungnya terdengar, aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan saat dokter mengatakan bayi yang dikandung Rhea adalah bayi perempuan, aku juga tidak merasakan reaksi apa pun dari dalam diriku. Hingga pemeriksaannya selesai dan aku menyuruhnya keluar dari ruangan itu.
"Saya ingin istri saya juga diperiksa, Dok," kataku.
"Tapi, Mas."
"Jangan membantah."
"Oh, Ibu juga hamil?" tanya dokter pada Suci yang ia balas dengan anggukan. Dokter pun menyuruh Suci berbaring di atas bed.
Dan ini yang kutunggu. Pemeriksaan pertama Suci beberapa waktu lalu hanya menghasilkan secari kertas foto USG dan keterangan-keterangannya -- yang berarti, namun tak sepenuhnya, karena waktu itu detak jantung janin kami belum terdengar. Sementara kali ini...
Detak jantungnya sungguh menggetarkan hatiku. Suara terindah yang pernah kudengar selain detak jantung istriku.
Yeah, inilah anakku. Darah dagingku. Satu-satunya pada saat ini. Aku yakin, hanya -- yang ada di rahim Suci.