Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Berharap....


Ah, sudahlah. Sekarang fokus dulu menyelesaikan masalah. Kukeluarkan ponselku dan mengirimkan pesan ke beberapa orang.


《 Bi, tolong minta Anne ke kantor. Bawakan pakaian ganti dan makan siang untuk Suci. Suruh Haris mengantarkan Anne. Tolong cepat, ya, Bi.


Terkirim.


《 Bill, kamu gantikan saya meeting siang ini. Jam 2.


Terkirim.


《 Jess, kalau kamu sudah selesai makan siang, bisa ke ruang kerja saya? Tolong temani Suci sebentar.


Terkirim.


《 Nanti kamu ikut meeting dengan pak Billy.


Conteng dua langsung menghijau. Karin sudah membaca pesan whatsapp dariku. Dan terakhir...


《 Tunggu di ruangan lu. Gue ke sana.


Aku mesti menemui Raymond secepatnya. Dimaafkan atau tidak, terserah. Meski dengan kemungkinan terburuk kami akan kembali adu otot, itu sudah menjadi risiko yang harus kutanggung.


Maafkan aku, Sayang. Tapi aku janji, aku akan berusaha memperbaiki segalanya. Akan kupastikan tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu. Aku akan selalu melindungimu.


Tok! Tok!


"Permisi, Pak."


"Masuk, Jess"


"Maaf--"


"Suci lagi di toilet. Saya minta tolong, kamu temani dia dan jangan biarkan dia keluar dari sini. Saya ada urusan sebentar. Tolong, jangan biarkan ada orang menemuinya selain Anne. Nanti Anne ke sini."


Jessy mengangguk paham. "Baik, Pak. Akan saya kerjakan sesuai perintah."


Aku melotot sedikit atas kebawelannya itu. "Menurut!" kataku. "Jangan bawel dan jangan ke mana-mana. Oke? Bisa mendengarku?"


"Iya, Pak Bos yang posesif. Aku janji tidak akan ke mana-mana. Sepertinya kamu lo yang bawel. Iya, kan?"


Masa bodoh!


Well, aku baru memegang handle pintu ketika Suci memanggilku, "Mas?" katanya.


"Emm? Kenapa?"


"Pistolmu. Taruh, ya. Jangan dibawa."


"No--"


"Please, aku tidak mau kalau kamu sampai kelepasan. Tinggalkan pistolnya, ya. Tolong?"


Hmm... baiklah. Aku pun berbalik dan mencabut pistolku. "Ini," kataku seraya memberikan senjata api yang berbahaya itu ke tangan Suci. "Titip sebentar dan simpankan baik-baik." Lalu kucondongkan tubuhku dan berbisik, "Kalau tidak ada Jessy di sini, aku sudah mengelurkan pistol satunya dan menembakkannya padamu."


Ck!


Geli. Suci terkikik-kikik menahan tawa. "Sana, selesaikan urusanmu dan cepat kembali padaku." Dia balas berbisik, "Siapkan pistolmu. Aku menunggu."


Hah! Gila juga dia.


Well, aku pun keluar dari ruanganku dan berpapasan dengan Anne dan Haris. "Kamu temani Suci sampai saya balik," kataku pada Anne. "Jangan biarkan dia bertemu siapa pun. Dan kamu jaga di sini, ya, Ris. Pastikan istri saya tidak pergi ke mana-mana."


Mereka mengangguk paham dan aku pun segera berlalu menemui Raymond.


Begitu aku tiba di sana dan masuk ke ruangannya, hal pertama yang kulihat adalah sebuah foto yang menempel di dinding di depan meja kerja Raymond. Foto empat sekawan yang masing-masing memiliki nama berawalan R. Empat pemuda yang memiliki wajah sama tampan dan sama menawannya. Wajah-wajah yang pernah menjadi idola kampus -- meski hanya diidolakan oleh mereka -- kaum gadis yang dicap sebagai ayam kampus. Untuk sesaat hatiku terenyuh. Foto itu dibingkai dengan rapi dan menghiasi dinding, foto yang sama persis dengan yang ada di ruang kerjaku, Roby, juga Roy.


Ya Tuhan, jika Kau berkenan, tolong perbaiki hubunggan kami.