
"Kamu tidak jijik padaku?"
Suci menggeleng. Sambil menangkup wajahku, dia berjinjit lalu mencium bibirku. Dia menunjukkan betapa ia sedikit pun tidak merasa jijik terhadapku. "Aku akan jijik kalau kamu mengkhianatiku. Tapi ini sama sekali bukan pengkhianatan. Hapus air matamu, ya." Dia yang menghapusnya, tanpa peduli dengan air matanya sendiri yang tak kalah derasnya denganku. "Suamiku lelaki kuat. Mas Rangga-nya Suci bukan lelaki yang cengeng," ujarnya.
"Oh, Sayang, terima kasih." Kupeluk tubuhnya erat-erat, seolah aku baru mendapatkannya kembali setelah sekian lama. "Kamu benar-benar istri luar biasa. Terima kasih."
Deraian air mata Suci masih menetes-netes, bahunya masih terguncang-guncang, tapi ia menangis dalam senyuman. "Aku minta maaf, Mas. Aku hanya tidak ingin menjadi perempuan bodoh yang langsung percaya tanpa bukti konkrit. Aku juga tidak ingin bertindak bodoh dengan memberitahukan kalau aku akan mencari informasi tentang hasil laboratorium itu, apalagi bertanya kepada dokter yang sama yang menanganimu waktu itu. Maaf kalau aku mesti menunggu waktu untuk bertanya pada dokter kandunganku. Maaf kalau aku membuatmu jadi lama menunggu. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku minta maaf, Mas."
Aku menggeleng atas rasa bersalahnya. "Kamu tidak salah," kataku. "Tidak apa-apa. Aku maklum, kamu bukan perempuan bodoh. Yang penting sekarang kamu percaya padaku, dan kamu bisa menerima bagaimana pun keadaanku. Terima kasih, Sayang."
"Ya, Mas. Tapi aku janji, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu berada di sisimu. Kapan pun. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Tidak akan ada lagi kesempatan bagi orang-orang jahat itu untuk menjahatimu dengan cara yang menjijikkan itu. Aku akan terus menjagamu. Aku janji."
Aku mengangguk. "Kamu benar. Kita tidak boleh terpisah walau sedetik. Kita akan saling menjaga satu sama lain."
Lagi, aku mendekapnya erat-erat. Tetapi, Suci malah mendorong pelan tubuhku darinya untuk melepas pelukan. "Sekarang, apa aku boleh tanya sesuatu?"
Deg!
Apa lagi?
"Boleh?"
"Em, kamu mau menanyakan apa?"
"Aku mau tahu, apa kamu merindukanku?"
"Emm? Kok pertanyaan...? Tentu saja. Jelas aku sangat merindukanmu."
Dia tersenyum bahagia. "Yakin?" tanyanya.
Aku mengangguk yakin. "Ya, aku sangat merindukanmu, lebih dari apa yang bisa kuungkapkan."
"Yang, kenapa kamu malah...?"
"Kalau benar rindu, kenapa tidak kamu lampiaskan saja? Hmm? Lampiaskan!"
Ya Tuhan, perempuan ini. Begitu pintar dia melebur rasa kacau-ku. Aku ikut tertawa bersamanya meski air mata kami belum sirna.
"Ayo, Mas. Lampiaskan saja."
Aaaaah... gemas. Kugendong tubuhnya dan menurunkannya di ujung ranjang. Kulepas pakaiannya tanpa sisa, dan, melahap apa yang ada di depan mataku. Mulai dari bibirnya, mulut, lidah hingga kerongkongannya. Kemudian bergerak, pindah ke telinganya, ia mengeran* ketika aku mencumbui lehernya yang indah.
"Aku merindukanmu," bisikku dengan tangan membelai kulitnya. "Aku merindukanmu. Sangat, sangat rindu."
Menunduk, dengan tangan kiri menahan punggungnya dan tangan kanan bergerilya di dada, aku melahap sahara-nya. Menariknya gemas dengan gigitan lembut. Aku tahu, apa yang kulakukan membuat Suci bahagia. Dia mengeran*, memekik meraih kenikmatan, mencengkeram-cengkeram ototku dan menahan kepalaku di sana. Kemudian...
Aku pun berlutut di hadapannya. "Akan kulampiaskan kerinduanku padamu," kataku.
Yeah, yeah, pelampiasan hasra* yang sudah sekian lama tertahan. Penyiksaan yang kuderita, kini saatnya jiwaku terbebas.
Aku melahapnya. Melahap Suci, dirinya, inti jiwanya. Menggigit lembut bagian manis itu. Tapi tak cukup, dia mesti terbaring hingga aku lebih bebas untuk menguasainya. Ia mengeran* tak tertahan hingga menjepit kuat kepalaku di sana.
"Oh, Mas, tolong... kamu menyiksaku. Ini terlalu...!"
Aku tersenyum melihatnya tersiksa oleh kenikmatan. Dengan napasnya yang tersengal, aku merangkak ke atas tubuhnya. "Masih kuat? Masih mampu menerima pelampiasanku? Aku ingin masuk."
Dia mengangguk sambil tersipu malu. "Welcome, Masku Sayang."
Ah, akhirnya. Aku kembali ke tempatku. Bukan sarang bebas yang tak semestinya memaksaku untuk masuk dan mengurungku dalam kehangatan yang tak semestinya.
"Terima kasih. Aku mencintaimu."