
Setelah makan siang bersama, Suci masuk ke kamarnya. "Aku merindukan kamarku," katanya.
Tak enak sendirian di ruang keluarga tanpa Suci, aku pun mengintilinya. Di dalam kamar, ia langsung menghempaskan tubuh cantiknya ke tempat tidur.
Hmm... kamar yang sama, juga lemari yang sama di mana ia pernah menyelundupkan aku di dalam sana. Kugeleng-gelengkan kepalaku karena teringat betapa konyolnya aku waktu itu.
"Kamu tidak perlu bersembunyi lagi," ledek Suci yang juga teringat kejadian itu.
Euw...! Dasar! Aku terkikik dan langsung melompat ke tempat tidur -- menindihnya. "Bagaimana kalau kita melanjutkan adegan yang waktu itu tertunda? Hmm?"
Ah, andai ibunya tak memanggil, masa lalu kami bisa segera terealisasi.
"Sayang, di depan ada Bu Alma."
"Sebentar, Ma," seru Suci.
"Oke. Cepat, ya. Bu Alma mau minta resep kue brownie buatanmu."
Ya ampun... hanya gara-gara resep kue Suci terpaksa meninggalkan aku? Hmm....
"Kamar ini sepertinya memang bukan tempat keberuntunganmu," kata Suci -- terdengar seperti ledekan.
Aku merengut. "Sepertinya memang begitu."
Yeah, akhirnya dia keluar dari kamar untuk menemui ibunya dan sang tamu.
Jam dua siang, kami berpamitan. Sebenarnya, ibunya ingin kami menginap, tapi Suci mengatakan tidak bisa karena kami punya rencana lain sepulang dari sana.
Itu rencanamu, Sayang. Bukan rencanaku.
"Memangnya kalian mau ke mana?"
Suci menolehku. "Kami mau mampir ke rumah mama mertuanya Mas Rangga. Emm... maksud Suci, anu, rumah mantan mertuanya Mas Rangga. Kasihan, Ma, anaknya menghilang. Kami rencananya mau silaturahmi ke sana."
"Suci tidak apa-apa, Ma."
"Oh, oke."
"Ih, Mama. Tidak perlu khawatir, ya. Suci serius. Suci tidak apa-apa, kok."
Tidak ada jawaban iya, yang ada hanya anggukan dengan kegelisahan yang tak berkurang. Aku bisa mengerti itu.
"Itu kemauan Suci, Ma," kataku. "Dia meminta Rangga untuk bantu mencari... emm, anaknya... yang hilang."
Sekali lagi, wanita itu mengangguk. "Ya, Mama maklum. Anak ini memang berhati mulia."
Ugh! Memang tak bisa terhindarkan! Aku tidak bisa mengelak demi tidak memicu keributan sekecil apa pun dalam rumah tanggaku. Jadi, yeah, kami pergi berkunjung ke rumah Dirgantara.
Hatiku mulai cenat-cenut dan terasa diaduk-aduk begitu menginjakkan kaki di sana. Kutatap rumah itu dengan perasaan tak karuan. Rumah itu nampak terasa asing. Pekarangannya ditumbuhi rumput-rumput liar. Sungguh tak terurus, padahal ibunya Rhea penyayang tanaman. Apakah sekarang ia malas mengurus tanaman?
Hmm... untuk sejenak aku lupa dengan perkataan Suci kemarin: wanita parubaya itu saat ini mengalami depresi, dan itu karena perbuatanku.
Suci menekan bel, Mbok Ira pun muncul membukakan pintu. "Aden?" Ditatapnya aku dengan perasaan tak percaya.
"Iya, Mbok. Ini saya. Mama... emm... maksud saya... Ibu ada?"
Wanita Tua itu mengangguk-angguk. "Ada, Den. Nyonya ada di kamarnya. Nyonya...," suaranya tercekat, tak mampu menjelaskan. "Aden bisa langsung temui Nyonya. Mari," katanya dengan suara yang tiba-tiba parau.
Kami pun masuk. Mbok Ira langsung mengajak kami ke area kamar rumah itu.
"Nyonya ada di dalam, Den."
Kuhela napas dalam-dalam. Aku ingin berbalik, mengurungkan niat, tetapi...
Suci menahanku. "Jangan pergi," pintanya. Dia mengangguk sewaktu aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan gelisah. "Kita sudah di sini, kan? Masuklah. Biar aku tunggu di sini. Aku mohon?"