Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Serba Salah


"Stop! Apa-apaan, sih, kalian berdua? Seperti anak kecil tahu, tidak? Kamu harus tahan emosi, Mas. Dan kamu, Bill, kita di sini mau mengajakmu bicara baik-baik. Kita cari solusinya bersama. Bisa, kan?"


Ia menggeleng. "Tidak perlu," sergahnya. "Tidak ada yang perlu dibahas. Saya akan pergi. Saya rasa saya tidak punya muka lagi di sini. Dan kamu, kamu istri saya, saya harap kamu mau ikut pulang bersama saya."


Indie tertegun, dia menatap Billy namun tidak bisa mengatakan apa pun.


"Baiklah, silakan kalau kamu mau tetap di sini. Hubungi saya kalau kamu mau pulang. Saya akan menjemputmu. Permisi."


Billy berlalu, meninggalkan Indie yang bercucuran air mata. "Mbak," katanya, "aku mau ikut suamiku."


"Ya ampun, kenapa jadi kacau begini?" geramku.


"Pergilah," kata Suci. "Kamu ikut suamimu."


"Iya, Mbak. Tolong bilang ke Mama nanti, ya. Aku pamit." Indie pun berlalu menyusul Billy.


"Ya Tuhan, Yang. Indie akan lebih baik kalau dia di sini. Nanti kamu sendiri yang khawatir berkepanjangan. Kamu sendiri nanti yang mencemaskan dia."


Suci memijat pelipisnya, kemudian duduk. "Billy suaminya, Mas. Dan itu haknya. Lagipula dia memang wajib ikut ke mana pun suaminya pergi."


"Tapi bahaya. Semalam saja dia sampai pingsan."


"Tidak tahu aku, Mas. Pusing."


"Tuh, kan, belum apa-apa kamu sudah pusing."


"Ssst... aku mau masuk. Kepalaku nyut-nyutan."


Argh! Kesal sekali rasanya. "Ayo, sini aku gendong ke dalam."


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


"Jangan bawel!"


"Iya, oke. Aku menurut."


Langsung kuangkat tubuhnya dan kubawa ia masuk. Tapi sial, belum turun Suci dari gendonganku, ibu mertuaku tiba-tiba muncul dari pintu depan.


"Ada apa? Kamu sakit, Sayang?"


Karena cemas, ia melepaskan semua kantung belanjaannya dan segera menghampiri kami. Kubaringkan Suci di atas sofa dan membujuknya supaya rileks. "Suci tidak apa-apa, Ma. Cuma sedikit pusing."


"Minum obatnya, ya. Dan pakai ini."


Ia menghampiri belanjaannya lagi, lalu memgambil kantung berukuran besar berisi buntelan dan memberikannya pada Suci. Isinya bantal khusus untuk ibu hamil yang tadi divakum, sekarang sudah berukuran normal.


"Terima kasih, ya, Ma. Suci suka sekali. Akhirnya... enak kalau mau santai." Dia semringah, seakan lupa pada masalah yang tadi.


Ya ampun, bodoh sekali aku. Aku tidak pernah berpikir untuk membelikan Suci bantal seperti itu, batinku. Aku menyadari sisi diriku yang kurang perhatian padanya.


"Nah, kalau yang ini untuk Indie. Indie-nya mana?"


Sebentar sekali, wajah Suci yang tadi sempat ceria kembali meredup. "Indie ikut suaminya pulang, Ma."


"Ya... Mama telat dong."


"Tidak apa-apa, Ma. Nanti biar Suci yang antar ke sana."


"Oke," sahutnya lemah, kemudian ia mengangguk. Nampak sekali ia mulai mencemaskan anak dan menantunya yang tiba-tiba pulang dari rumahnya. "Mama ke kamar dulu, ya."


Seperti sapi ompong. Aku melihat ketiga wanita dalam ruang lingkup keluargaku itu menahan luka di hati mereka masing-masing.


Kenapa seribet ini, Tuhan...?


Aku, ingin bisa bersikap biasa saja dan mengabaikannya. Tapi sialnya tidak bisa. Aku merasa punya tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi aku harus melakukan apa kalau Billy saja tidak bisa diajak bicara?


Kuhela napas dalam-dalam dan berpikir: mungkin aku harus meminta bantuan Tante Melani untuk bicara pada Billy.


Uh... kepalaku ikut berdenyut. Semuanya terasa serba salah.