
Aku meminta kepada seisi rumah untuk menjaga Suci selama aku tak berada di sisinya. Terlebih pada para anak buahku. Aku mewajibkan mereka untuk melaporkan apa pun yang terjadi, serta mengawasi, menjaga, dan mengantar ke mana pun Suci pergi. Aku tidak ingin Suci pergi sendiri tanpa pengawasan dariku, meskipun tidak secara langsung.
Yeah, rasa putus asa membuatku memilih untuk menyepi. Aku menyendiri di hotel dan berharap Suci sesegera mungkin menghubungiku, memintaku untuk pulang. Andai dia menerimaku lagi -- dengan apa pun keadaanku, yang sangat kotor sekalipun -- itu akan membuatku merasa lebih baik.
Aku tidak ingin kehilanganmu, Sayang. Aku menginginkan keluarga kita tetap utuh. Selalu utuh.
Sesungguhnya aku yakin, dia pasti percaya padaku. Tapi aku juga takut -- aku takut pada kemungkinan terburuk.
》 Aku percaya kamu seorang ibu yang bijak. Istirahat, ya. Tidurlah dan makanlah yang cukup demi anak kita dan juga demi dirimu sendiri. Aku sangat mencintai kalian.
Whatsapp-ku terkirim. Suci membacanya, namun tak ada balasan untukku. Demi tak ingin pikiranku semakin kacau, aku memilih untuk istirahat, tidur dengan bantuan obat. Aku juga tetap memaksakan diriku untuk makan. Meski terasa hambar dan sulit untuk menelannya, namun aku tetap menjejalkan makanan ke mulutku. Memaksakan mulut dan gigi-gigiku untuk mengunyah. Dan walaupun enggan, namun aku memerintahkan diriku sendiri untuk menerima seandainya Suci mengambil keputusan paling buruk untuk hubungan kami. Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap calon anakku. Aku tidak ingin dia hidup dan tumbuh besar tanpa seorang ayah.
"Makan, Rangga. Telan saja," kataku pada diri sendiri. Jelas mataku berkaca-kaca.
Aku berada dalam kondisi terpuruk. Ini jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah kulalui pada saat-saat yang dulu. Belum apa-apa, aku sudah merasa kehilangan. Kehilangan -- lagi.
Pada keesokan paginya, aku bahkan masih terpejam di bawah pengaruh obat, Simon mengirimiku pesan whatsapp. Dia menginformasikan kepadaku bahwasanya Suci minta diantar ke rumah sakit.
》 Kalian berapa orang? Tolong hati-hati. Jaga istri saya baik-baik. Terus kabari saya.
Satu yang kupikirkan saat itu: Suci akan menemui dokter yang menanganiku kemarin untuk memeriksa kandungan obat yang tertera di lembar print out hasil pemeriksaan laboratorium yang kuserahkan padanya. Ternyata bukan, dia ingin periksa kandungan sebab sudah jadwalnya, dan dokter langganannya praktik pagi hari itu. Dan, pada jam sembilan paginya, sepulang dari rumah sakit, dia justru membuatku terkejut.
"Yang? Kamu ada di sini?"
Suci sedang berdiri menghadap ke luar jendela saat aku baru keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang membungkus tubuhku.
"Yah," katanya. Dia berbalik untuk menghadapku. "Aku boleh ada di sini, kan?"
Aku mengangguk kaku. "Tentu saja, kamu boleh ke sini," kataku, entah kenapa keadaan malah membuat situasi di antara kami malah terasa semakin canggung.
"Aku tadi ke rumah sakit, periksa kandungan."
"Aku tahu. Simon memberikan kabar. Terus hasilnya, bagaimana? Tidak ada masalah apa pun, kan?"
Bahagia, aku sangat bahagia. Saking bahagianya aku refleks berjalan cepat ke arah Suci, namun langsung berhenti sebelum aku berhasil memeluknya. Tiba-tiba aku tersadar, seolah ada batas imajiner yang tanpa sengaja telah kulewati. "Terima kasih. Aku bahagia, itu benar-benar sesuai keinginanku. Terima kasih, Yang."
"Mas...?"
"Emm? Ada apa?"
"Aku...."
Deg!
Rasa takut menguasaiku. Aku takut Suci akan mengatakan keputusannya untuk....
"Aku sudah bertanya pada dokter, tentang... hasil pemeriksaan laboratoriummu."
Keningku bertaut. "Serius? Lalu...?"
"Aku percaya. Aku percaya padamu, Mas."
Ya Tuhan... betapa leganya aku. Aku spontan memeluk dan menciumnya. "Terima kasih," kataku. "Aku lega. Hubungan kita akan baik-baik saja, kan? Kita akan tetap bersama? Iya, kan?"
"Em, kita akan baik-baik saja." Dia menarik tali pengikat jubahku.
Eh? Aku tertegun begitu menyadari apa yang ia lakukan. "Yang? Kamu...?"
"Kenapa? Masih merasa kotor?"
"Em, entahlah. Kurasa begitu. Aku...."
"Berbagi denganku, Mas," katanya, dia melepaskan jubah itu dari tubuhku, membiarkannya jatuh ke lantai, lalu ia menempel padaku yang sudah tak memakai apa pun. "Biar kita kotor bersama, atau kamu ikut suci bersamaku. Begitulah sejatinya suami istri, ya kan? Buang semua ketakutanmu. Ada aku di sini, istri yang akan selalu bersamamu."
Oh Tuhan, betapa mulianya hati wanita ini. Aku sangat beruntung.