Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Menjengkelkan


Rasa kesal membuatku memilih untuk duduk di ruang tunggu. Menyebalkan sekali rasanya aku mesti adu argumen dengan Suci hanya gara-gara Rhea.


"Maafkan aku," kata Suci. "Aku...."


"Aku yang minta maaf. Aku bicara terlalu keras. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu."


"Aku mengerti. Tapi, Mas, seandainya... anak itu memang anakmu, bukankah kamu memperlakukannya tidak adil?"


Aku menggeleng. "Aku akan membuatnya mengerti. Dan dia harus mengerti. Semua karena kelakuan ibunya. Lagipula, tidak ada gunanya membahas hal yang masih lama. Sudahlah, jangan dibahas lagi."


Suci menunduk. Aku tahu ia merasa bersalah dan merasa aku tidak adil pada anak Rhea dengan anak yang ia kandung. Aku paham dia tidak ingin ada anak yang dibeda-bedakan, sebagaimana yang pernah ia rasakan dulu.


Tapi ini dalam kasus yang berbeda, Yang. Aku berdeham. "Aku berjanji, kalau itu memang anak kandungku, aku akan menyayanginya. Aku tidak akan membedakannya dengan anak yang terlahir dari rahimmu. Aku janji, Yang. Kamu bisa mengerti itu, kan? Aku hanya ingin menemani proses bersalin istriku. Kamu. Dan hanya kamu. Kamu paham, kan?"


Dia mengangguk.


"Jangan marah, ya?"


"Tidak, Mas."


"Jangan kecewa?"


"Em."


"Sekarang cium aku."


"Mas...."


"Baiklah. Biar aku yang menciummu."


Spontan Suci berdiri menghindariku. "Jangan macam-macam... ini tempat umum. Malu...."


"Biar saja. Kamu istriku, istri sah."


Dia mulai gelisah dalam tawa saat aku ikut berdiri dan melangkah maju mendekatinya. "Ayo, dong, Mas. Kamu jangan bercanda...."


"Aku tidak bercanda," kataku pelan. Aku mulai menghimpitkannya ke dinding. "Sebelum ada yang melihat...."


Dan ciuman itu terjadi. Suci gemetar seperti gadis yang baru pertama kali berciuman dengan kekasihnya.


Dia lucu sekali. Pipinya memerah, dan senyumnya tak henti mengembang karena tersipu malu.


"Baiklah," kataku. "Ayo, kita duduk."


Tetapi, kami belum sempat duduk, suara tangisan bayi melengking dari ruang bersalin. "Sudah lahir, Mas." Suci berbinar-binar, nampak bahagia hingga aku merasa dia perempuan yang aneh. Terlalu baik. Aku saja tak merasakan perasaaan apa-apa. Tak ada getaran sama sekali mendengar suara tangisan pertama bayi itu.


Dia bukan anakku. "Akhirnya, ya, dia lahir juga."


"Masuklah, temui anakmu."


"Yang...."


"Please... temui anakmu, bukan ibunya."


"Baiklah. Tapi kamu ikut aku ke dalam. Ayo."


Suci menurut. Dia malah lebih antusias untuk melihat anak itu. "Bayi yang cantik," pujinya seraya tersenyum kepada bayi yang baru saja selesai dibersihkan oleh suster dan diserahkannya kepadaku.


"Aku boleh gendong?" tanyaku pada Suci -- meminta izin untuk menunaikan kewajibanku -- kewajiban yang belum jelas benar atau tidaknya.


Suci mengangguk. "Tentu saja, memang kewajibanmu," katanya.


Euw!


Kata memang itu seolah benar-benar menunjukkan kalau aku adalah ayah biologis anak itu. Tapi aku tak ingin memperkeruh suasana. Biar saja. Hanya untuk sementara.


Setelah menunaikan kewajiban itu, aku menyerahkannya kepada Rhea untuk memeluknya sebentar.


"Siapa namanya, Rangga? Kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita, kan?"


Ya Tuhan... jengkel sekali aku pada perempuan sialan itu. Mana pernah aku memikirkan nama untuk anak itu. "Aku tidak punya ide. Mungkin nanti kupikirkan," kataku. Well, kukasihani kamu sedikit. Awas saja kalau nanti terbukti dia bukan anakku. Jangan harap kamu bisa bermanis-manisan lagi di depanku.


Setelah itu, bayi itu mesti dibawa ke ruang bayi dan masuk inkubator. Di saat itulah aku mengikuti suster untuk memastikan sendiri bahwa apa yang kuminta mesti dilakukan dengan benar oleh pihak rumah sakit. Pengecekan darah itu mesti kutunggui langsung.


"Kamu jangan ke mana-mana," perintahku kepada Suci. "Tunggu aku di sini. Aku hanya sebentar. Ingat, ya, kamu tetap di sini dan jangan keluar dari ruangan ini. Dengar dan turuti perintahku! Paham, kan?"