
Tetapi sayang, Roy jauh lebih licin dari yang terlihat. Dia sudah menghilang tanpa jejak seperti ular yang bersembunyi di dalam tanah. Sebegitu banyak anak buah yang kukerahkan untuk mencari pria itu, tapi tidak ada -- tidak satu pun -- yang bisa menemukan keberadaannya. Pun kendala besar yang mempersulit pencarianku, aku tidak bisa mencari pria itu secara terang-terangan. Pihak keluarganya tidak boleh sampai tahu bahwa aku mencari keberadaan Roy, apalagi kepolisian. Bahkan istriku sendiri, Suci juga tidak boleh tahu niatku yang ingin menyingkirkan Roy. Sungguh, dia seorang pria yang berbahaya, melebihi aku, Raymond, bahkan Roby.
Dari semua rangkaian cerita peristiwa yang sudah terjadi, entah kenapa aku sangat yakin bahwa Roy adalah dalang pelecehan yang dilakukan oleh Lady Sandra terhadapku. Aku bahkan yakin jika Roy menyandera dua keponakan Lady yang sudah remaja itu untuk memperalat Lady, supaya Lady menuruti semua perintahnya. Seperti aku yang pernah memerintahkan Billy dan para anak buahku untuk melecehkan Stella, pasti itu juga tujuan Roy yang memerintahkan Lady untuk melecehkan aku. Gagal melecehkan Suci sewaktu ia di kampung, Roy malah langsung menyerangku. Dan sekarang, di saat aku mencarinya, dia malah bisa menghilang dan bergerak lebih cepat daripada aku. Seolah-olah, dia tahu kalau aku akan mencarinya. Bagaimana mungkin dengan tiba-tiba dia tidak masuk kantor di hari aku ingin meringkusnya? Dan setelah itu, dia malah benar-benar tidak pernah muncul lagi.
Sangat aneh, bukan?
Tapi justru, dengan kehilangan jejak Roy, hidupku jadi tidak pernah tenang. Aku mesti selalu awas dan menjaga keamanan keluargaku dengan super ketat. Ke mana-mana mesti dikawal oleh para bodyguard. Dan alhasil, kebahagiaan yang hadir di dalam keluargaku jadi tidak bisa kurasakan sepenuhnya. Tidak pernah ada rasa bahagia yang maksimal dengan kelegaan, karena perasaanku selalu terusik oleh bahaya yang selalu mengancam. Aku jadi paranoid di sepanjang waktu. Tidak terkecuali di saat aku menyaksikan kebahagiaan Roby sewaktu Jessy melahirkan, aku bahagia -- turut bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan oleh sahabatku itu. Tapi tidak bisa sepenuhnya, terlebih pada hari itu aku bertemu Raymond di sana, di rumah sakit tempat Jessy melahirkan. Ternyata Raymond mengetahui semua hal yang sudah terjadi. Dan entah apa saja yang kami bicarakan pada hari itu, tapi aku ingat ketika tahu-tahu dia menghampiriku, dia langsung berkata, "Lu cari masalah dengan orang yang salah."
"Wait, ada apa ini? Apa maksud lu, Sob?"
"Soal lu dan Roy. Gue tahu semuanya."
"Well, lu nyalahin gue? Bukan gue yang cari perkara."
"O ya? Ketika seorang wanita memberikan dirinya pada seorang lelaki yang dia incar, apa mesti dia mendapatkan balasan digilir oleh banyak lelaki hanya karena satu lelaki yang menolak dirinya? Katakan kalau dia yang mencari gara-gara."
Astaga... bahkan Raymond mengetahui hal yang sebesar itu -- kesalahanku yang terbodoh.
"Kenapa diam? Lu merasa bersalah? Hmm? Kekanakan lu, Ngga. Kekanakan!"
Tak bisa mengelak, aku hanya bisa tertunduk.
"Lu ingat, kan, kalau gue sering bilang kalau gue ini memang cowok berengsek, tapi gue bukan penjahat kelamin. Gue nggak pernah memaksakan diri pada perempuan, dan nggak pernah dengan cara kekerasan. Tapi lu? Rangga yang selama ini sok suci dan sok bersih, anti jajan dan menjunjung tinggi kesetiaan, tapi nyatanya berengsek. Kok bisa lu setega itu menyuruh anak buah lu menggilir seorang perempuan -- yang sedang hamil dan sampai-sampai dia mengalami keguguran. Lu tahu, lu lebih tidak bermoral ketimbang gue."
"Oh ya, lu pernah bilang kalau gue berengsek, kan, gara-gara gue memutuskan hubungan dengan Suci karena dia buta? Tapi lu malah lebih berengsek. Lu memanfaatkan gadis buta yang mabuk, dan lu renggut keperawanannya secara paksa. See, lu itu ternyata lebih berengsek dari orang lain." Raymond tersenyum. "Entah hal apa lagi yang sudah lu lakukan di sepanjang hidup. Gue harap lu bisa memperbaiki diri, dan kita bisa hidup dengan lebih baik. Ingat kata-kata itu, kan?"
Aku ingat. Aku yang pernah mengatakan kalimat itu kepada Raymond. Dan sekarang, tak ayal, aku bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya.
"Well, gue sangat puas, gue sudah lama banget mau ngomong kayak gini ke lu."
Aku mengangguk. "Gue sadar kalau gue salah, gue sok, dan gue seperti bangkai yang tercium kebusukannya. Semua yang lu bilang itu benar."
"Wow, Man, lu bahkan nggak bisa ngebantah. Sudah jadi pecundang?"
Whatever, Ray. Karena nyatanya memang gue yang bersalah. Tapi tetap, gue yang harus bertahan, dan Roy yang harus tersingkir.
"Well, lu mesti hati-hati. Yang lu hadapi sekarang bukan sekadar pria yang kehilangan wanita yang ia cintai, tapi juga seorang ayah yang merana karena kehilangan calon anaknya. Sekaligus... seorang kakak yang kehilangan adik yang diamanahkan untuk selalu ia jaga. Jangan sampai lu bernasib sama dengan bokap tirinya Stella. Habis di tangan Roy."
What???
"Dendam itu membutakan. Dan satu lagi, yang lu hadapi sekarang bukan sekadar pria yang sakit hatinya. Tapi, sekarang dia seperti monster yang selalu mengintai keluarga kalian. Tidak, lebih tepatnya dia sudah menjadi zombie. Dia tidak takut mati, sama sekali, karena HIV sudah menggoroti jiwanya."
Hah?
Jantungku berhenti sesaat.