Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Melindungimu


"Bajingan!" geramku. "Lu yang udah menolak Suci, Ray! Ingat? Lu yang ngebatalin pertunangan kalian karena dia buta! Jangan lupa itu!"


Bug!


"Stooooop...!" Suci menjerit.


Kudorong Raymond hingga kembali membentur ke dinding dan aku kembali menodongkan pistol ke pipinya, namun kali ini nampaknya Raymond tak peduli. Ia kembali menudingkan telunjuknya lagi ke Suci. "Tidak usah sok lugu kamu! Dasar murahan! Wanita licik! Penipu!"


"Diam! Tutup mulut lu, Ray!" teriakku seraya mencengkeram leher kemejanya.


Raymond menggeleng dan masih terengah-engah. Dadanya naik turun saking secepatnya ia bernapas. Wajahnya merah padam, masih berdarah. Aku tahu, ia begitu marah pada kami berdua.


"Aku minta maaf," kata Suci. "Aku tidak bermaksud berbohong, menipu, atau apa pun yang kamu tuduhkan padaku. Aku dan Mas Rangga menjalin hubungan setelah aku buta. Setelah kamu menolakku. Apa salah kalau aku ingin bersama orang lain? Waktu itu kamu sudah membatalkan pertunangan kita. Iya, kan?"


Raymond tidak menyahut lagi, sementara Suci terisak, tubuhnya lemas dan ia merosot ke lantai.


"Sudah," kataku. Aku sudah menurunkan pistolku dan kembali menyimpannya ke balik jas, lalu menarik Suci hingga berdiri dan merangkulnya. "Kita bicara lagi lain waktu, Ray. Tenangkan pikiran lu."


Aku dan Suci pun berlalu. Dan, huh... akhirnya, perkelahian di antara dua sahabat terjadi juga. Takdir yang tak terelakkan. Sungguh, ini tak seperti yang kuharapkan.


"Maafkan aku. Aku menyesal atas semua yang terjadi. Aku minta maaf atas semua kekacauan ini, Mas. Aku minta maaf," katanya. Suci bersandar di dadaku, masih menangis. Perasaan bersalah luber di hatinya. Aku tidak ingin membawanya pulang dalam keadaan menangis, juga tidak ingin banyak orang melihatnya dalam keadaan kacau seperti itu. Karena itu kami kembali ke ruanganku dan kubiarkan dia menumpahkan kesedihan di dalam pelukanku.


Aku menggeleng. "Bukan salahmu, Sayang. Lagipula semua ini sudah terjadi. Tidak perlu kamu pikirkan. Nanti aku coba bicara lagi dengan Raymond. Mudah-mudahan kalau nanti dia sudah tenang, dia bisa menerima hubungan kita. Yang penting kamu jangan sedih lagi. Oke?"


"Sayang."


"Emm?" Dia berhenti lalu menoleh.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau operasimu...?"


Suci menggeleng, dan reaksinya biasa saja, seakan dia sudah tahu kalau aku akan menanyakan hal itu setelah aku mendengar penuturan dari mulut Roy. Lalu ia berkata, "Aku punya kesempatan bisa melihat lagi lebih cepat. Kalau aku tidak mengambil kesempatan itu, entah kapan aku bisa melihat lagi. Katakanlah aku licik, naif, jahat, atau apalah. Tapi--"


"Kamu pintar," potongku, lalu aku tersenyum dan menghampirinya. Kami berpelukan dan berciuman sampai keadaan Suci sudah kembali membaik. "Sana, dandan lagi yang cantik. Kamu kan istri bos. Harus selalu cantik di depan karyawan. Oke?"


Dia tersenyum. "Kamu tidak akan menyalahkan aku, kan?"


"Tidak akan. Malah bagus, kamu memanfaatkan kesempatan dengan baik. Good job!"


Lega. Dia menghela napas dalam-dalam dan kembali tersenyum. "Terima kasih ciumannya. Nanti malam akan kubalas lebih."


Hah! Benar-benar terapi cinta yang mujarab. Praktis aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


Duh, Rangga... Rangga. Bukan saatnya memikirkan kemesraan itu. Kendalikan dirimu!