
Suci sering mengatakan bahwa keharmonisan itu mesti dijaga oleh kedua belah pihak, jangan pernah menunjukkan pertengkaran di depan umum, dan apa pun itu mesti dibicarakan dengan kepala dingin. Kalau belum bisa dingin -- menghindar saja dulu supaya tidak memicu pertengkaran lebih lanjut. Maka, sore itu ia mengajakku ke kamar. Giliran dia yang menarik tanganku. Dan pintu langsung tertutup begitu kami berada di dalam kamar.
"Nah, sekarang coba marahi aku," katanya seraya memojokkanku ke dinding dan ia memamerkan senyum manis yang menghiasi wajahnya yang hari itu sedang cantik-cantiknya.
Hmm... bagaimana bisa aku memarahinya dengan sikapnya yang seperti itu? Sebaliknya, aku justru mengulum senyum.
"Ayo, silakan kalau mau marah. Coba tampar aku." Dia mengerling, meraih tanganku lalu menempelkannya di pipi sementara tubuhnya semakin menekan kuat ke tubuhku. "Lampiaskan," bisiknya kemudian -- yang di susul kecupan lembut di leherku.
Aku menggeleng. "Kamu membangunkan hasratku," suaraku berupa *rangan berat. "Bagaimana sekarang?"
"Sudah sore, tamu-tamu sebentar lagi bubar. Kecuali keluarga Mama dari Bogor yang akan segera masuk dan bersiap-siap untuk pesta nanti malam. Jadi...," tangannya mulai melepaskan kancing-kancingku, "kita juga butuh mandi, bukan?"
Dan sebelum mandi, aku tahu bagianku. Langsung kugendong ia begitu aku berhasil melucuti helai demi helai kain yang membungkus tubuhnya. Lalu di kamar mandi, kunyalakan pancuran air di atas bathtub dan kami berendam bersama. Suci duduk bersandar di dadaku.
"Apa dia mantan pacarmu?"
"Apa?"
"Kamu mendengarku."
"Ayolah, yang benar saja, Mas. Dia hanya teman lama. Itu pun dalam bidang pekerjaan."
"Bagaimana kamu tahu aku keberatan atau tidak? Lagipula dia hanya seorang teman yang tidak tahu kalau aku sudah bersuami."
Hening. Aku berpikir-pikir dulu sebelum melontarkan kata-kataku. "Aku tidak tahu. Tapi sebagai lelaki aku bisa menangkap ketertarikannya padamu. Jelas, lelaki mana yang tidak suka. Kamu cantik."
Bukan gombal, bukan pula rayuan. Itu tercetus dengan rasa keputusasaan.
"Mas...," Suci memutar posisi, duduk menghadapku lalu menyibakkan rambut di dahiku, "maaf, ya. Aku juga kaget tiba-tiba dia memelukku. Tapi aku tidak mesti mempertontonkan keributan di acara bahagia Billy dan Indie, kan?"
Aku tahu. Aku melihat jelas semuanya. Suci pun tidak semerta-merta membalas pelukan Rangga si photographer itu. Tapi dia tetap tersenyum setelah lelaki itu memeluknya.
"Jangan khianati aku," kataku akhirnya -- dengan lirih.
Di saat itulah Suci menunjukkan pengertiannya tentang ketakutanku -- rasa paranoidku. Aku takut ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Rhea terhadapku. Aku takut kalau mesti menerima rasa sakit lagi akibat sebuah pengkhianatan. "Aku sangat mencintaimu."
"Rhea dulu juga sering bilang begitu. Dia sering mengatakan cinta padaku. Tapi--"
Suci menempelkan jarinya di bibirku. "Jangan membicarakan masa lalu. Itu tidak akan mengubah apa pun, malah justru akan membuatmu bertambah paranoid, ya kan? Lagipula aku tidak ingin bernasib sama seperti mantanmu. Jadi, please... jangan pernah takut. Aku bukan perempuan bodoh yang akan meninggalkan suamiku demi sebuah kehancuran. Aku akan selalu ada di sini, dan aku menjanjikanmu selamanya. Hmm?" Dia menjauhkan jarinya dari bibirku, dan sebagai gantinya ia menempelkan bibirnya ke bibirku, lalu ia berbisik mesra di telingaku, "Omong-omong, istrimu ini mulai kedinginan...."