Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Kehangatan Pagi


Ada kehangatan, sesuatu yang nikmat yang kurasakan pada keesokan paginya. Lalu, di saat aku membuka mata, senyum manis dan wajah cantik istriku menghiasi pemandangan, menyejukkan kalbu.


"Bagaimana?" tanya Suci sambil bergerak pelan di atasku. "Pelayanan yang sempurna, bukan?"


Ya Tuhan, tentu saja benar. Sangat sempurna. Entah bagaimana bagi lelaki lain, tapi aku suka ketika saat aku terbangun di pagi hari, di saat cuaca dingin masih setia menemani pagi, aku mendapati diriku dalam kehangatan tubuh istriku. Kurasa aku tidak perlu mengatakannya, senyum bahagia di wajahku pagi ini sudah mewakili jawabanku untuknya.


"Aku ingin menjadi teman hidupmu yang terbaik," katanya. "Dan aku selalu berusaha untuk itu."


Lagi, aku tersenyum. "Kamu sudah menjadi yang terbaik. Selalu. Terima kasih."


"Sama-sama. Aku mencintaimu."


"Mmm-hmm, terima kasih juga untuk...."


"Apa?"


"Kamu membuat pagi ini begitu indah, begitu hangat, dan, kamu membuatku bersemangat. Kamu yang terbaik, Sayang. Boleh aku mengambil alih permainan?"


Eh?


Suci mengangguk secepat kilat dan menyingkir dari atasku sambil terkekeh-kekeh. "Itu yang kutunggu," katanya seraya berbaring di sisiku dan membuka dirinya untukku. "Ayo, tuntaskan. Aku milikmu."


Ya Tuhan, tubuh polos yang indah itu mengundang pejantan tangguh ini untuk olahraga pagi. Dia benar-benar membakar semangatku dengan hasrat hingga akhirnya pagi-pagi begini aku kembali terkapar dengan keringat dan napasku yang tak beraturan. Tetapi, Suci malah tersenyum-senyum.


"Enak, ya," katanya. "Pagi-pagi begini sudah diselubungi kebahagiaan."


Tentu saja. Aku mengangguk, membenarkan. "Bagaimana tidak bahagia kalau aku memiliki istri sepertimu. Aku beruntung."


"Well, jadi... bisa dong, kamu ceritakan hal penting itu sekarang. Hmm?"


"Nope. Aku menggeleng. "Nanti, ya, setelah kita sarapan."


"Sarapan dulu, Sayangku... Ayang... Mama Cantik... oke? Jangan membantah. Aku mau asupan nutrisi untuk anak-anakku terpenuhi dulu."


Setuju. Mana mungkin dia akan menolak. Meski cemberut, Suci bersedia mengikuti aturanku. Dia beringsut mendekat, memelukku begitu erat, lalu mencium pipiku dan menempel cukup lama. "Aku sangat mencintaimu," bisiknya.


Hanya itu, tapi aku merasa seolah dia begitu takut kehilangan. Yah, memang salahku, sikapku membuatnya sangat khawatir tentang apa yang telah kusembunyikan darinya. Tapi mau bagaimana lagi, setelah melewati malam yang begitu panjang dengan obat tidur dan pagi ini kami lalui dengan kehangatan, tetap saja, cerita peristiwa kecelakaan tragis yang dialami oleh Lady Sandra itu tetap akan membuat Suci sedikit terenyuh hatinya, meski keadaan sebenarnya sudah cukup membaik setelah tidur nyaman kami semalam dan kehangatan pagi ini.


"Kamu masih mau baringan?"


"Em, masih capek, Yang. Sebentar lagi, ya?"


"Oke. Aku siapkan air hangat dulu, ya. Nanti kamu bisa langsung mandi. Eh, maksudku kita. Kita berdua. Mungkin saja dengan begitu kamu mau pemanasan sekali lagi."


Ck!


Dasar edan!


Nope. Kasihan anak-anakku, mereka juga butuh istirahat dari olahraga mama dan papanya. "Besok lagi, ya, Sayangku. Paling cepat nanti malam. Kasihan anak-anak kita."


"Well, kalau kamu tahan."


Aku? Kurasa aku tahan, asal dia tidak memancingku, terlebih dengan tubuh polosnya yang indah itu.


Tapi Suci yang sekarang itu rada-rada....


Gila sekali. Sambil tersenyum manis dengan tatapan mata yang menggoda, dia membuka interval kakinya di hadapanku.


"Bathtub ini menunggumu, apalagi aku. Yakin mau menolak?"


Ya Tuhan....