Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Sesuatu....


Minggu kedua bulan Januari, aku sudah kembali menyibukkan diri di kantor. Tapi karena belakangan ini Suci mengalami mual parah, aku tidak memperbolehkannya ikut ke kantor. Kehamilannya kali ini membuat ia hampir muntah setiap jam. Apa pun yang ia makan pasti akan keluar lagi. Tapi ia tak patah semangat, dia terus makan meski makanan itu keluar lagi dan lagi. Dia melakukan itu demi calon anak kami, juga demi kesehatan dirinya sendiri.


Selain Suci, Indie pun ternyata mengalami hal yang sama. Tak ingin terkesan pilih kasih atas perhatiannya, ibu mertuaku meminta kedua kakak beradik itu untuk tinggal bersamanya. Tentu saja mereka berdua mau. Dan sebagai menantu yang tak berani membantah, aku dan Billy menurut dan ikut tinggal di rumah itu -- menempati kamar yang bersebelahan. Dan seakan kompak, dalam melakukan apa pun mereka sukanya berbarengan. Mereka berdua juga malah menjadi pribadi yang super manja pada suami. Bahkan, mau menonton film pun minta ditemani suami. Terutama pada hari sabtu dan minggu, aku dan Billy tidak bisa mengelak dan mau tidak mau kami menempel terus pada pasangan kami masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, mereka berdua sangat bahagia, dan kuperhatikan ibu mertuaku tak pernah lebih bahagia daripada saat ini melihat kedua putrinya sangat akur dan akrab.


Parahnya, acara menonton film itu mereka selenggarakan hampir setiap malam. Makan malam pun berpindah ke ruang keluarga. Yang paling menyebalkan dalam rutinitas mereka ini adalah film itu sendiri. Bagaimana tidak, mereka berdua hobinya menonton film romantis yang ujung-ujungnya malah membuat mereka menangis. Jadilah aku dan Billy mesti berperan sebagai pasangan yang konyol walau tanpa melakukan banyak hal -- hanya memeluk istri masing-masing sambil mengelus-elus punggungnya supaya tenang. Tapi jujur, aku tidak menyangka Billy bisa memerankan bagiannya dengan baik. Dia bersikap selayaknya seorang suami dengan kelembutan cinta dan kasih yang begitu tulus. Suatu kejutan luar biasa bagi kami semua bisa melihat Billy dan Indie nampak begitu saling mencintai satu sama lain. Billy yang kukenal bertahun-tahun, lelaki yang dingin dan sekaku batu terhadap seorang wanita, bersama Indie dia justru sering tersenyum. Meski kadang kala dia berusaha menjaga sikap jika ada aku di sana.


"Rileks saja, Bill. Senyum saja yang lepas. Di rumah, kamu itu adik ipar saya, bukan bawahan."


Dia nyengir. "Ya, Tuan."


Eit dah! Lidahnya masih saja keseleo.


"Maaf... maksud saya Mas."


Semua orang terkikik-kikik. "Perlahan tapi pasti, Mas," sahut Indie. "Mas Billy nanti pasti bisa luwes di depan Mas Rangga. Ya kan, Mas?"


"Em, ya," jawab Billy kikuk.


"Sayangnya mana?"


"Iya, Sayang."


"Nah, kan enak dengernya. Terima kasih...."


"Iya, Sayang. Sama-sama."


"I love you too."


"Cie, cie... yang sudah bisa melunak," goda Suci.


Sang adik ipar tersenyum. Dan, waw... ketampanannya menjadi dua kali lipat. Pantas saja Indie terpesona, pikirku. Pasti semenjak di Singapura Indie sudah jatuh cinta pada pandangan pertama hingga tidak menolak berhubungan badan meski dalam keadaan tidak siap, alias bercinta tanpa pengaman.


"Eh, Mbak punya pertanyaan untuk kalian berdua. Khususnya untuk Billy."


Billy dan Indie saling melempar pandang. "Apa?" tanya mereka kompak.


"Kalau diukur dari skala satu sampai sepuluh, sudah seberapa sayang kalian berdua pada satu sama lain? Dikira-kira, tapi mesti jujur."


Billy melirik Indie. "Saya rasa lebih dari lima. Di atas lima pastinya. Emm... bisa enam atau tujuh."


"Uuuh... so sweet...," istrinya menggoda.


"Kalau kamu, Sayang, sudah seberapa sayang kamu pada suamimu?"


"Aku... sudah sangat sayang kurasa. Tapi kalau mesti dinilai skalanya, mungkin hampir sembilan. Aku sudah berusaha menjadi seorang istri yang baik, semaksimal mungkin. Iya, kan?"


Billy mengangguk. "Iya, Sayang. Terima kasih." Ia tersenyum, mengelus kepala istri kecilnya dengan lembut, lalu mengecup kening istrinya dengan sayang. Mereka pun berpelukan dengan mesra. Luwes sekali, sebelum akhirnya Billy menatap ke arahku lagi dengan aneh, seakan ia sedang menyembunyikan sesuatu dan takut ketahuan olehku.


Atau hanya perasaanku saja?