Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga Season 2
Pertemuan Keluarga


Sesuai kesepakatan, tidak ada acara lamaran resmi antara Billy dan Indie. Hanya saja sebagai awal pertemuan dalam rangka pembahasan rencana pernikahan mereka, pihak keluarga Indie mengundang Billy untuk makan malam bersama. Billy yang sudah tidak memiliki orang tua malam itu ditemani oleh tantenya, Melani Diningrat, adik dari mendiang ibunya. Mereka datang tepat pukul setengah delapan malam. Dan, sama seperti saat menghadapi jasad malam itu, kali ini Billy kembali pucat seperti orang anemia. Untung saja semua luka lebamnya sudah sembuh. Kalau tidak, bagaimana bentukan muka pucat yang berkolaborasi dengan bekas lebam itu? Entahlah.


"Tante, ini Indie," kata Billy sesaat setelah Indie membuka pintu menyambut kedatangan mereka.


Yap, itu pertemuan pertama mereka dan tentu saja Indie menerima pujian atas kecantikan yang ia miliki, lalu ia berterimakasih dan mereka pun bercipika-cipiki sebelum Indie mempersilakan mereka masuk dan menghampiri kami yang sudah menunggu di ruang tamu. Kemudian Billy juga memperkenalkan calon ibu mertuanya dan calon kakak iparnya kepada Tante Melani. Sementara denganku, kami sudah lama saling mengenal satu sama lain.


"Mari, kita langsung ke ruang makan," ajak sang calon ibu mertua. "Kita langsung makan saja."


Kami semua pun beranjak menuju ruang makan dan menempati kursi masing-masing.


"Saya sebagai tantenya Billy, sangat berterimakasih atas undangan makan malam dari pihak Bu Nugraha malam ini. Dan seperti yang mungkin kalian tahu, Billy ini seorang yatim piatu. Jadi dari pihak keluarga kami, hanya ada saya yang mewakili mendiang kedua orang tuanya. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas hal yang tidak menyenangkan atas kekhilafan Billy terhadap Indie. Saya mohon maaf sekali, Bu. Saya selaku keluarganya Billy akan memastikan keponakan saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kesalahan yang sudah dia perbuat. Sebab itu, kedatangan kami malam ini sekalian untuk melamar Nak Indie untuk Billy."


Kurang lebih seperti itu yang disampaikan oleh Tante Melani, dan walaupun sudah tahu pasti ada pembahasan seperti ini, tetap saja ada rasa tidak enak di dalam hati karena lamaran ini dilantari oleh hal semacam ini. Terutama bagiku yang merasakan perbedaannya. Sewaktu dengan Rhea, aku melamarnya secara resmi dan tanpa suasana seperti ini -- terlepas Rhea menerima lamaran itu dengan terpaksa atau tidak, dan pada Suci, aku tidak melamarnya secara resmi lantaran keadaan waktu itu yang kami berdua seakan tidak punya siapa-siapa -- hanya dua individu yang sebatang kara. Dalam keadaan yang mendadak melow itu aku menyesali semua kesalahanku di masa lalu, termasuk kesalahanku yang sudah menodai Suci. Aku menyesal telah merampas paksa kegadisannya, apalagi beberapa kali menidurinya sebelum dia resmi menjadi istriku. Dan dalam hati aku menaruh harapan, semoga kelak bila aku punya anak, mereka tidak akan bejat sepertiku. Keadaan ini membuatku merasakan betapa malunya pihak keluarga karena kelakuan kami para anak-anak yang menjalani hidup dengan *eks bebas. Dan gara-gara aku -- juga Billy, ibu mertuaku mesti menelan pahitnya kenyataan ketika kedua putrinya sudah ternoda sebelum menjadi pengantin. Malam ini aku merasa malu sekali padanya.


Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk dan berusaha memasang senyum manis. Dan Suci menyorongkan gelas dan aku pun meneguk sedikit. "Trims," kataku.


Yap, meski perhatianku lolos sesaat, tapi aku yakin keluarga Suci menanggapi ucapan Tante Melani sebaik mungkin. Yang penting Billy dan Indie mau memperbaiki keadaan dan bertanggung jawab atas kesalahan mereka.


"Jadi, kapan pernikahannya?" tanya Tante Melani. "Apa sudah ada kesepakatan di antara kalian berdua?"


Billy mengangguk. "Secepatnya, Tant. Tanggal dua belas Desember. Dan... emm... maaf, saya dan Indie sepakat untuk menggelar pernikahan sederhana. Tidak apa-apa, kan, Tant?"


Indie hanya menunduk, sementara Billy berusaha memberanikan diri menatap kedua orang tua itu secara bergantian.