
Puji syukur, setelah pemeriksaan yang terasa sangat lama itu, kata dokter kandungan Indie baik-baik saja. Hanya saja tingkat kestabilan emosi sang ibu mesti dijaga baik-baik supaya ia tidak stres. Dan itulah hal yang sulit. Faktanya, sewaktu Indie sadar di ruang perawatan, ia justru ketakutan melihat Billy. Ia seakan shock menerima fakta bahwa suaminya merupakan seorang pembunuh. Lelaki kejam yang menganggap nyawa orang sama sekali tidak berharga.
"Tidak semua orang. Aku tidak akan melenyapkan wanita itu kalau dia tidak coba menjadi parasit," kata Billy dengan suara tertahan.
"Oh," kata Indie sambil terisak, "setelah kamu pakai, kamu enak-enak dengannya, kamu anggap dia parasit? Begitu? Terus aku? Aku juga kamu anggap begitu?"
"Bukan seperti itu! Aku tidak menganggapmu begitu. Dengar aku, kalau wanita itu tidak mengaku-ngaku hamil dan mengancam untuk menyebarkan kebobrokanku, aku juga tidak akan nekat menembaknya."
Indie menggeleng frustrasi. "Jangan-jangan, kalau waktu itu aku datang dan meminta pertanggungjawaban-mu, kamu juga akan melenyapkan aku, iya? Hmm?"
Billy terdiam. Masuk di akal omongan Indie. Bahkan mungkin dia juga ingin melenyapkan aku sewaktu aku datang ke sana. Dan persis di saat itu aku teringat ketika aku datang dan menghajar Billy, ada Diego di sana yang katanya dia sudah membereskan seorang perempuan.
Ya Tuhan, aku tidak menggubrisnya waktu itu karena fokus memikirkan Suci dan Indie.
Kuhela napas dalam-dalam dan bertanya pada Billy, kapan ia melakukan tindakannya yang bodoh itu?
Oke. Semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Indie dan Billy sudah menikah demi janin mereka. Stella sudah meninggal tak bersisa dimakan buaya. Dan sekarang tinggal bagaimana mengatasi Roy? Dengan wataknya itu, aku yakin dia akan bertindak sesukanya meski ia tak punya bukti. Ini bukan hanya tentang keamanan Indie, tapi juga Suci. Sebab, Roy juga pasti menaruh curiga terhadapku.
Ya Tuhan, ini seperti lingkaran setan, tidak akan terputus jika tidak ada yang mati di antara kami.
Bagaimana ini?
Suci. Sedari tadi ia hanya terdiam memeluk adiknya, tapi sekarang ia angkat bicara, begitu tegas. "Apa kalian sudah selesai mengutarakan isi kepala kalian masing-masing? Sudah puas, kan? Sekarang aku ingin bicara empat mata dengan Indie. Tolong kalian berdua keluar."
Ya Tuhan...! Aku ragu. Aku tidak ingin beranjak dari sana. Aku tidak ingin melepaskan Suci dari pengawasanku. Tapi Suci hanya ingin bicara berdua dengan Indie. Bagaimana ini?
Terpaksa. Aku ikut keluar dari ruangan, tapi aku menunggu di depan pintu. Tetap memantau dari luar sambil menguping pembicaraan mereka.
Di luar dugaanku, Suci menasihati Indie dengan bijak: bahwa, dalam situasi tertekan, orang bisa melakukan tindakan spontan di luar batas dan tanpa memikirkan apa akibatnya. Tetapi, seorang lelaki, meski ia berperingai seperti singa, dia akan jinak dan tunduk pada pawangnya -- seseorang yang ia cintai dan mencintainya. "Seperti itulah Mas Rangga pada Mbak. Dan Mbak yakin, Billy juga akan seperti itu di tanganmu. Please, Mbak mohon, kamu jangan memikirkan masa lalunya, Sayang. Yang penting bagaimana Billy sekarang dan ke depannya nanti. Bagaimana dia bertanggung jawab kepadamu, kepada anak kalian, dan tanggung jawabnya pada pernikahan kalian. Mbak yakin, sangat yakin, dia akan menjadi suami yang baik dan ayah yang baik. Seperti kamu yang bisa berubah menjadi sosok pribadi yang lebih baik, begitu juga dengan Billy. Beri dia kesempatan, ya? Dia suamimu, ayah dari calon anakmu. Oke? Kamu paham apa yang Mbak katakan? Beri dia kesempatan."