
"Please...?"
"Jangan membantahku."
"Aku tidak mau ke rumah sakit."
"Harus!"
"Tidak perlu!"
"Tapi kita harus periksa kondisi kandunganmu."
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat."
"Ya ampun, keras kepala sekali, sih, kamu!"
"Mas... tolong...," sengalnya. "Aku tidak mau ke mana-mana! Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun! Tolong!"
Kuhela napas dalam-dalam, dan akhirnya kuputuskan untuk mengalah. "Baiklah. Kita ke kamar." Aku pun segera menggendongnya dan membaringkannya di atas tempat tidur, lalu memberinya vitamin.
Sebenarnya, ada pergolakan di dalam hatiku. Ada rasa marah pada Suci yang sulit dikendalikan ketika dia tertekan seperti ini yang tentu saja itu bisa membahayakan calon anakku. Juga ada rasa kesal pada postingan yang tadi ia lihat, marah juga pada diriku sendiri yang lengah sampai hal ini bisa terjadi. Tapi aku tak bisa berkata-kata lagi, tak bisa melampiaskan amarahku lagi karena keadaan Suci juga akan tambah tertekan kalau aku terus memarahinya. Rasa dongkol itu akhirnya berujung pada air mata -- yang dilandasi rasa takut dan sejuta pemikiran buruk. Aku tidak ingin kehilangan calon anakku lagi. Aku tidak mau.
"Jangan banyak bergerak! Mengerti? Kandunganmu itu rentan. Jangan bodoh! Ibu macam apa, sih, kamu?"
"Maaf...," dia merengek karena kumarahi. Lalu menangis tersedu-sedu. "Aku salah...," akunya. "Aku memang bodoh."
Lagi, kuhela napas dalam-dalam dan aku menghampirinya setelah menyimpan kembali vitamin ke dalam laci. Aku berlutut di sana, melingkarkan tanganku dan membenamkan wajahku di perutnya. Ingin sekali rasanya aku bicara dan mengatakan pada calon anakku agar ia kuat di dalam rahim ibunya. Tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa mengatakannya di dalam hati. Berharap ia yang di dalam sana dapat mendengarkan aku: seorang ayah yang mengharapkan kehadirannya.
Sejenak kemudian, kurasakan tangan Suci menyentuh kepalaku. "Aku minta maaf," katanya. "Aku--"
"Aku tahu," kataku sesaat setelah menegakkan kepalaku. "Aku tahu kamu panik. Kamu merasa bersalah. Reaksimu tadi karena kamu tertekan. Tapi please... aku mohon, setelah ini kontrol dirimu baik-baik. Dan pikir, sekarang kamu hamil. Aku tidak mau kamu dipenjara. Aku tidak mau anakku menjadi anak seorang napi dan terpisah dengan ibunya. Dan lagi, kandunganmu itu rentan. Kamu tidak boleh stres. Kamu mengerti itu, kan? Pokoknya kamu tidak boleh lagi memegang HP. Kalau pun kamu mau menelepon Mama, pakai ponselku. Tidak ada tapi-tapian. No debat! No bantah! Paham? Sekarang tidur."
Ia merengut. Bibir cantiknya maju dua senti, lalu ia berkata, "Galak sekali kamu. Sudah posesif, galak pula."
Heh! Jurus andalan wanita. Sori, kali ini tidak akan mempan. Merengutlah sesukamu, aku tidak akan berhenti bersikap tegas.
Tapi begitulah terkadang sikap istriku, yang kadang-kadang membuatku merasa kesal karena dia begitu keras kepala. Dan bahkan, karena sikapnya itu aku jadi tidur sangat larut malam itu, karena kegelisahanku akibat efek sakit perut yang Suci rasakan. Itu benar-benar membuat rasa panik yang sulit sekali kuenyahkan. Sebab itu aku jadi susah tidur dan bahkan jadi gelisah di sepanjang malam. Aku baru bisa tidur nyenyak sekitar jam dua dini hari, bahkan kurasa hampir jam tiga pagi. Akibatnya aku sangat mengantuk dan terbangun sewaktu pagi sudah meninggi.
Oh, ini baru permulaan, Rangga....